KETIK, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyebut Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika di tengah ketegangan yang terus berlangsung antara Washington dan Teheran.

Pernyataan itu disampaikan Trump di South Carolina, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Ia mengatakan, Amerika Serikat saat ini memiliki kendali atas jalur perairan strategis tersebut melalui blokade militer yang diberlakukan terhadap Iran.

“Kami bahkan tidak tahu apakah kami menang, karena saya melihat Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika saat ini,” ujar Trump dikutip dari The Guardian.

Trump juga melontarkan candaan terkait operasi militer terhadap Iran. Ia menyebut kemungkinan melakukan serangan tambahan terhadap negara tersebut.

“Ini malam Jumat. Kita punya banyak waktu. Apa yang harus saya lakukan? Kembali dan membom Iran sedikit lagi?," kata Trump.

Baca Juga:
Trump Unggah Peta Selat Hormuz Jadi Wilayah Baru AS

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut hingga Jumat, pasukan AS telah mengalihkan 68 kapal komersial agar mematuhi blokade yang diberlakukan di kawasan tersebut.

Ketegangan AS-Iran terjadi ketika kedua negara belum berhasil mencapai kesepakatan damai, sementara konflik telah berlangsung hampir enam bulan. Pemerintahan Trump disebut berupaya memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan membatasi akses ke Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia yang dikirim melalui laut biasanya melewati jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman tersebut.

Sebelumnya, Trump juga telah mengancam akan menetapkan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Ia mengatakan blokade yang dilakukan membuat kapal tidak dapat melewati jalur tersebut tanpa izin dari Washington.

Baca Juga:
Hamas Tunggu Jawaban Resmi BoP, Persoalkan Penarikan Pasukan Israel

“Pada dasarnya, itulah yang terjadi. Kami memiliki blokade. Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali kami menginginkannya,” kata Trump dalam pidato di akademi kepolisian New York.

Trump bahkan sempat mengunggah peta di media sosial yang menandai Selat Hormuz sebagai wilayah baru Amerika Serikat. Pernyataan Trump tersebut langsung mendapat penolakan dari Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut klaim tersebut sebagai khayalan dan menegaskan bahwa Selat Hormuz bukan merupakan wilayah Amerika Serikat.

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia. Setiap gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi berdampak besar terhadap pasar energi global. (*)