KETIK, BATU – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong pengembangan peternakan sapi perah di Jawa Timur tidak hanya berorientasi pada peningkatan populasi ternak, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat produktivitas, kualitas bibit, ketersediaan pakan, hingga peningkatan nilai ekonomi.
Hal ini disampaikan Gubernur Khofifah saat meninjau pengelolaan sapi perah di Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (UPT PT dan HMT) Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Jalan Raya Tlekung, Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu lalu.
Dalam kunjungan itu, Khofifah meninjau sejumlah kegiatan yang berlangsung di kawasan UPT, mulai dari pembibitan dan pemuliabiakan, budi daya sapi perah, produksi susu, hingga pengelolaan hijauan makanan ternak sebagai sumber pakan.
Menurut Khofifah, pengelolaan UPT PT dan HMT Batu telah berjalan dengan baik dan menunjukkan produktivitas yang tinggi. Keberadaan UPT tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan peternakan sekaligus menghasilkan produk yang memberikan nilai ekonomi bagi daerah. Selain itu UPT ini juga dimanfaatkan sebagai tempat praktik bagi siswa dan mahasiswa serta sarana penelitian bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Peternakan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
"Saya merasa bahwa proses yang dilakukan cukup bagus. Kandangnya bersih dan produktivitasnya juga tinggi. Oleh karena itu, UPT ini juga sudah memberikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) kepada Pemprov Jawa Timur," ujarnya.
Baca Juga:
Sudah Ditinjau Gubernur Khofifah, Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Batu akan Tempati Aset Pemprov JatimSaat ini, UPT PT dan HMT Batu mengelola sekitar 130 ekor sapi, yang terdiri atas 72 ekor sapi dewasa, 28 ekor sapi dara, dan 30 ekor pedet. Dari jumlah sapi dewasa tersebut, 40 ekor merupakan sapi laktasi atau sapi yang sedang menghasilkan susu, sementara 32 ekor lainnya merupakan sapi nonlaktasi.
Produktivitas sapi laktasi di UPT sendiri berada pada kisaran 25–30 liter susu per ekor per hari. Dengan 40 ekor sapi laktasi, produksi susu disebut mencapai sekitar 600 liter per hari. Hasil produksi tersebut selanjutnya dipasarkan dan berkontribusi terhadap PAD Provinsi Jawa Timur sekitar Rp1 miliar per tahun. Selain penjualan susu, kontribusi PAD juga berasal dari agrowisata ternak, benih rumput, serta produk hilirisasi susu seperti keju, susu pasteurisasi, dan stik keju.
Bagi Khofifah, capaian ini menunjukkan bahwa pengelolaan aset dan fasilitas peternakan milik Pemprov Jawa Timur dapat dikembangkan sebagai bagian dari penguatan sektor peternakan sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Karena itu, Khofifah berharap kapasitas populasi sapi perah di UPT PT dan HMT Batu dapat ditingkatkan dari sekitar 130 ekor menjadi 200 ekor. Peningkatan populasi tersebut diharapkan tetap diikuti dengan peningkatan produktivitas dan kualitas bibit.
Baca Juga:
Hadiri Pengukuhan ICMI Jatim 2026-2031, Gubernur Khofifah Ajak Living Laboratory di Jawa Timur"Mudah-mudahan kita bisa meluaskan dari 130 menjadi 200 ekor yang ada di UPT Kota Batu ini karena areanya cukup luas," harapnya.
Di sisi lain, Khofifah menekankan pentingnya memastikan ketersediaan pakan seiring dengan rencana peningkatan populasi ternak. Menurutnya, pengembangan lahan hijauan makanan ternak menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budi daya sapi perah.
UPT PT dan HMT Batu memiliki lahan sekitar 13 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 9,5 hektare telah dimanfaatkan, dengan sekitar 2 hektare digunakan untuk bangunan dan sekitar 7 hektare dimanfaatkan sebagai lahan hijauan makanan ternak.
Salah satu tanaman hijauan yang dikembangkan adalah rumput gajah. Selain dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak yang dikelola UPT, lahan tersebut juga mendukung penyediaan bibit atau stek rumput gajah untuk pengembangan hijauan makanan ternak.
Kebutuhan hijauan makanan ternak bagi sapi yang dikelola UPT mencapai sekitar 1.300 ton per tahun. Dengan demikian, pengelolaan lahan hijauan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga produktivitas ternak.
Secara kelembagaan, UPT PT dan HMT merupakan unit yang melaksanakan sebagian tugas teknis Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dalam bidang pembibitan, pemuliabiakan, budi daya ternak, serta pengembangan hijauan makanan ternak bagi masyarakat.
Fungsi tersebut mencakup perencanaan program dan kegiatan, pelaksanaan pembibitan dan pemuliabiakan ternak, budidaya ternak dan hijauan makanan ternak, penyediaan pakan, hingga pendistribusian bibit ternak dan bibit hijauan makanan ternak.
Untuk menunjang pelaksanaan tugas tersebut, kawasan UPT PT dan HMT Batu dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, antara lain gedung kantor, laboratorium susu, kamar susu, ruang pendingin, serta kandang sapi perah berkapasitas sekitar 100 ekor sapi dewasa.
Khofifah menilai fungsi tersebut menjadikan UPT PT dan HMT Batu bukan sekadar tempat pemeliharaan ternak, tetapi juga dapat menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan praktik peternakan yang dapat diterapkan lebih luas oleh masyarakat.
"Jadi kita berharap bahwa pengembangan peternakan, khususnya sapi perah, bisa terus kita tingkatkan. Tidak hanya dari sisi populasi, tetapi juga produktivitas dan kualitas bibit serta pakan ternaknya," pungkasnya. (*)