KETIK, JAKARTA – Pedro Acosta akhirnya menutup penantian panjangnya dengan cara yang nyaris sempurna.
Hanya 24 jam setelah membuang kemenangan di Sprint MotoGP Austria akibat kesalahan sendiri, Acosta bangkit dan memenangkan balapan utama di Red Bull Ring, Minggu (20/9/2026).
Rider KTM itu mengalahkan Jorge Martin dan Marco Bezzecchi untuk meraih kemenangan perdana di kelas MotoGP.
Ini bukan sekadar kemenangan pertama Acosta. Ini adalah kemenangan yang datang setelah periode paling emosional dalam kariernya di MotoGP.
Dari Kesalahan Fatal ke Kesempatan Kedua
Baca Juga:
Marc Marquez Selamat dari Masalah Rem di AustriaSabtu, 19 September 2026, seharusnya menjadi hari Acosta. Ia memimpin Sprint dengan keunggulan hampir tiga detik dan tinggal menyelesaikan beberapa lap terakhir. Namun, kesalahan saat membaca dashboard membuatnya melewatkan titik pengereman dan terjatuh.
Kemenangan yang sudah berada di depan mata pun lenyap. Acosta bahkan menyebut kesalahan tersebut sebagai salah satu kesalahan paling memalukan dalam kariernya.
Minggu pagi, situasinya kembali tidak ideal. Acosta terjatuh dalam sesi warm-up. Mekanik KTM dan Tech3 harus bekerja cepat untuk memastikan motornya kembali siap digunakan pada balapan utama. Tekanan pun semakin besar.
Acosta sadar bahwa kesempatan seperti ini tidak datang setiap pekan.
Baca Juga:
Marco Bezzecchi Bawa Aprilia ke Podium GP Austria“Saya cukup takut. Kemarin saya melakukan kesalahan paling memalukan dalam karier saya, lalu pagi ini saya jatuh lagi karena tidak ingin melakukan kesalahan,” ujar Acosta seperti dilansir Motorsport.com.
Bahkan sebelum balapan dimulai, Acosta sudah berpikir bahwa jika kembali gagal, penantian kemenangan MotoGP-nya bisa berlanjut lebih lama.
“Saya berpikir, kalau hari ini kami jatuh, saya sudah tiga tahun di MotoGP tanpa kemenangan. Kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang lagi.”
Kalimat itu menggambarkan betapa besar tekanan yang berada di pundak pembalap berusia 22 tahun tersebut.
Start Tidak Sempurna, Tapi Acosta Tidak Panik
Acosta mengawali balapan dari barisan depan, tetapi tidak langsung memimpin.
Jorge Martin mengambil posisi terdepan selepas Tikungan 1, sementara Marco Bezzecchi sempat berada di posisi kedua. Acosta kemudian melewati Marc Marquez dan Ai Ogura untuk masuk ke rombongan terdepan.
Pada lap kedua, Bezzecchi bahkan sempat menyalip Martin. Namun Martin membalas dan kembali memimpin. Acosta tidak terburu-buru. Ia terus mengamati dua pembalap Aprilia di depannya sambil menjaga ritme. Ketika Bezzecchi melebar di Tikungan 10 pada lap keempat, Acosta langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengambil posisi kedua.
Target berikutnya jelas: Martin. Lap 9 Jadi Titik Balik
Acosta mulai mendekati Martin secara perlahan. Tidak ada manuver nekat seperti yang mungkin dilakukan setelah kegagalan Sprint sehari sebelumnya. Ia hanya menunggu momen yang tepat.
Momen itu datang pada lap kesembilan. Acosta berhasil menyalip Martin dan mengambil alih pimpinan balapan. Kali ini, ia tidak langsung berusaha melarikan diri sejauh mungkin.
Pelajaran dari Sprint sehari sebelumnya masih ada di kepalanya.
"Jorge mendorong sangat keras di awal dan saya mulai mengejarnya. Setelah itu saya hanya mencoba belajar dari kesalahan hari sebelumnya dan tidak membuat jaraknya terlalu besar,” ujar Acosta setelah balapan.
Ia memilih mempertahankan keunggulan di kisaran 0,5 hingga 0,7 detik, sambil mengelola konsumsi bahan bakar.
Strateginya berhasil. Martin memang beberapa kali mencoba mendekat, tetapi Acosta selalu memiliki jawaban. Kali Ini Tidak Ada Kesalahan
Memasuki lap-lap terakhir, Acosta sudah memahami satu hal: ia tidak perlu menang dengan selisih besar. Ia hanya perlu membawa KTM #37 melewati garis finis.
Martin mulai mengalami penurunan grip dan tidak mampu mempertahankan tekanan secara konsisten. Bezzecchi bahkan mulai mendekati Martin untuk memperebutkan posisi kedua.
Acosta tetap tenang. Ia menyelesaikan 28 lap dengan keunggulan lebih dari satu detik atas Martin dan akhirnya melewati garis finis sebagai pemenang.
Pedro Acosta resmi menjadi pemenang MotoGP
Dan yang membuat kemenangan tersebut semakin emosional adalah siapa yang berada di belakangnya.
Dua Aprilia: Martin dan Bezzecchi mengisi posisi kedua dan ketiga.
Acosta benar-benar mengalahkan salah satu kombinasi motor paling kuat di grid untuk mendapatkan kemenangan tersebut.
“Saya Menutup Satu Lingkaran," jelasnya.
Begitu turun dari motor, emosi Acosta langsung terlihat. Ia kemudian berbicara mengenai arti kemenangan tersebut bagi perjalanan kariernya.
"Kemenangan pertama selalu spesial. Ini cara yang indah untuk menutup satu lingkaran bersama KTM, di depan para penggemar Austria,” kata Acosta seperti dilansir Crash.net.
Acosta juga memberikan penghormatan kepada KTM dan orang-orang yang tetap mendukungnya setelah kesalahan besar pada Sprint.
“Ada banyak orang baik di sekitar saya ketika saya melakukan kesalahan kemarin. Bisa memberikan hasil ini kepada mereka adalah sesuatu yang luar biasa," jelas Acosta.
Kemenangan tersebut memang terasa semakin spesial karena Acosta akan meninggalkan KTM pada akhir musim 2026 dan bergabung dengan Ducati mulai 2027.
Artinya, kemenangan di Austria menjadi kemenangan MotoGP pertamanya bersama pabrikan yang membawanya melewati seluruh jenjang Grand Prix.
Dari Moto3, Moto2, hingga MotoGP.
Penantian Tiga Tahun Akhirnya Berakhir. Acosta sebenarnya sudah menunjukkan potensinya sejak debut MotoGP pada 2024.
Ia langsung meraih podium hanya pada balapan keduanya di Portugal. Namun kemenangan selalu terasa sulit didapat, sampai akhirnya Austria menjadi titik baliknya.
Setelah 15 podium tanpa kemenangan, Acosta akhirnya berdiri di podium tertinggi pada kesempatan ke-56-nya di balapan utama MotoGP.
Lebih istimewa lagi, kemenangan tersebut mengakhiri puasa kemenangan KTM di MotoGP.
Kemenangan terakhir KTM di balapan utama terjadi melalui Miguel Oliveira pada GP Thailand 2022, ketika balapan berlangsung dalam kondisi basah. Acosta kini memberikan KTM kemenangan dalam balapan kering pertamanya sejak saat itu.
Dan semuanya terjadi di kandang sendiri. “Rasanya bahkan lebih emosional karena ini adalah balapan kandang KTM dan Red Bull. Saya sangat bahagia untuk mereka dan juga untuk diri saya sendiri,” ujar Acosta.
Dari Patah Hati ke Puncak Podium
Ada ironi besar dalam kemenangan Acosta di Austria. Sehari sebelumnya, ia meninggalkan Tikungan 2 dengan motor yang terjatuh dan kemenangan yang hilang.
Minggu sore, ia kembali melewati area tersebut dalam perjalanan menuju kemenangan.
Bahkan dalam perjalanan cooldown lap, Acosta sengaja memperagakan kembali insiden Sprint tersebut sebagai bagian dari selebrasinya. Ia menyebut tidak ada cara lain untuk merayakan setelah kesalahan besar sehari sebelumnya.
Tetapi yang paling penting bukan bagaimana Acosta jatuh pada Sabtu.
Melainkan bagaimana ia bangkit pada Minggu. Setelah tiga tahun menunggu, tekanan besar, kecelakaan di Sprint, bahkan crash lagi saat warm-up, Pedro Acosta akhirnya mendapatkan apa yang selama ini ia cari.
Kemenangan pertama MotoGP, dan ia mendapatkannya di tempat yang paling tepat: Red Bull Ring, kandang KTM. (*)