KETIK, SLEMAN – Dalam upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang aman dan berkarakter, SMK Negeri 1 Seyegan, Sleman menyambut tahun ajaran baru dengan menyelenggarakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2026.
Acara yang diikuti oleh 550 siswa baru dari seluruh jurusan ini mengusung tema besar "Membentuk Generasi Tangguh sebagai Agen Perubahan".
Tema tersebut dipilih sebagai langkah strategis sekolah dalam membentengi para siswa dari berbagai dinamika sosial negatif, seperti perundungan (bullying), kejahatan jalanan, hingga ancaman paham radikalisme yang kini mulai menyusup melalui ruang digital.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen sekolah untuk tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembangunan moralitas dan integritas siswa di masa depan.
Kolaborasi Strategis Menghadapi Ancaman Sosial dan Pidana
Baca Juga:
Maba Wajib Tahu! Alasan 3 Kota Ini Jadi Surga Pendidikan di IndonesiaDemi memperkuat materi bagi para siswa baru, pihak sekolah menjalin kolaborasi dengan Forum Komunikasi Pelopor Perdamaian (Pordam) serta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman. Bagus Jalu Anggara, SIP dari Badan Kesbangpol Sleman, hadir memberikan wawasan mengenai urgensi deteksi dini terhadap potensi konflik sosial di lingkungan remaja.
Dalam paparannya, ia membeberkan data dari Pengadilan Negeri Sleman tahun 2023 yang menunjukkan bahwa 47% kasus pidana anak di wilayah tersebut berkaitan erat dengan penyalahgunaan senjata tajam.
Bagus Jalu Anggara menegaskan pentingnya kesadaran hukum sejak dini. "Jangan dikira anak di bawah umur kebal hukum atau tidak dapat diproses pidana sehingga bisa bertindak semaunya sendiri. Indonesia memiliki sistem peradilan anak yang tegas," ungkapnya di hadapan ratusan siswa.
Selain ancaman fisik, siswa juga diingatkan akan bahaya infiltrasi paham IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme) dan fenomena True Crime Community (TCC) yang sering menyusup melalui konten gim daring serta media sosial.
"Mari kita lawan radikalisme di kalangan remaja dengan toleransi. Saling menghargai di tengah perbedaan akan membuat kita makin kuat. Dan yang paling penting, cinta tanah air itu valid, fix no debat!" tambahnya.
Baca Juga:
283 Siswa Baru Ikuti MPLS di SMPN 1 Wiradesa Pekalongan, Fokus Bentuk Karakter dan Akhlak MuliaMembangun Karakter "Pelajar Keren" dan Komitmen Bersama
Sejalan dengan hal tersebut, RM Yohanes Samiaji, SSos, dari Dinas Sosial Kabupaten Sleman, menekankan pentingnya pembentukan karakter "Pelajar Keren" yang berani berkata "TIDAK" pada kekerasan. Dalam rangka menanamkan nilai tersebut, ia menjelaskan bahwa bullying dalam bentuk fisik, verbal, maupun siber memiliki dampak serius bagi kesehatan mental dan penurunan prestasi korban.
"Pelajar keren adalah mereka yang bijak berdigital, berani berkarya, dan menolak solidaritas yang salah," tegas Yohanes saat memberikan motivasi.
Ia mengingatkan para siswa bahwa solidaritas yang keliru, seperti terlibat dalam kelompok kejahatan jalanan, justru akan menghancurkan masa depan mereka.
Untuk mendukung hal tersebut, Dinas Sosial Kabupaten Sleman berperan aktif dalam memberikan perlindungan anak, pendampingan psikososial, serta rehabilitasi sosial bagi korban agar mereka dapat pulih sepenuhnya.
Pendekatan yang dilakukan oleh RM Yohanes ini menyentuh sisi emosional siswa, mengajak mereka untuk menyadari bahwa setiap tindakan yang diambil hari ini akan berdampak panjang bagi kehidupan mereka. Kegiatan yang menggunakan metode diskusi interaktif dan pemaparan studi kasus faktual ini dirancang agar siswa mampu mengaplikasikan nilai-nilai toleransi, dialog, serta musyawarah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai puncak rangkaian MPLS, para siswa menyusun dan menandatangani komitmen bersama untuk aktif menjaga ketenteraman sekolah serta menolak segala bentuk tindak kekerasan dan radikalisme.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan setiap siswa baru dapat menjadi agen perubahan yang berkarakter kuat, cerdas dalam bermedia sosial, serta selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap tindakannya, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat luas. Langkah konkret ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi para siswa untuk tumbuh menjadi generasi yang membanggakan bagi keluarga, sekolah, dan bangsa. (*)