KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi PT Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu, 13 September 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Khofifah melihat langsung berbagai fasilitas teknologi kesehatan yang dikembangkan, termasuk riset terapi sel punca (stem cell) dan penelitian kanker.

Kunjungan itu menjadi kesempatan bagi Khofifah untuk belajar mengenai bagaimana riset, teknologi, kepakaran, dan pelayanan kesehatan dapat dibangun dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan proses pembelajaran yang luar biasa. Kami diperkenalkan dengan berbagai alat kesehatan dan alat-alat laboratorium kesehatan yang menurut saya super-super canggih,” ujarnya.

Menurut Khofifah, penguatan riset dan inovasi kesehatan menjadi salah satu kunci untuk membangun kemandirian dan kualitas layanan kesehatan nasional. 

Baca Juga:
Kawasan Industri Bangkalan Ditarget Dibangun Awal 2027, Khofifah Siapkan Dukungan Pemprov Jatim

“Kemampuan menghasilkan riset harus berjalan beriringan dengan keberanian melakukan hilirisasi hingga hasil penelitian benar-benar dapat diterapkan menjadi layanan medis yang memberi manfaat bagi masyarakat,” jelasnya. 

Karena itu, Gubernur Khofifah menilai SCCR Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan anak bangsa dalam bidang kedokteran dan teknologi kesehatan telah berkembang cukup jauh. Tak hanya menghasilkan penelitian, pusat riset tersebut juga mendukung layanan medis.

Ia menyebut, model pengembangan itu penting untuk  diperkuat di Indonesia. Sebab, kemajuan riset tidak akan memberikan dampak maksimal apabila berhenti di ruang laboratorium dan berhenti untuk diterapkan kepada masyarakat.

“Rasanya kita mendapatkan suasana yang bisa memberikan perspektif yang mendalam dan luas bagaimana sesungguhnya anak di negeri ini melalui Stem Cell and Cancer Research Indonesia yang ada di Semarang ini ternyata sudah memberikan hasil riset yang luar biasa, sudah diimplementasikan luar biasa, sudah memberikan layanan yang luar biasa,” katanya.

Baca Juga:
Fantastis! RAPBD Jatim 2027 Capai Rp27,4 Triliun, Gubernur Khofifah Jor-joran untuk Pendidikan dan Kesehatan

Bagi Khofifah, penguatan kemampuan riset dan layanan kesehatan berbasis teknologi tinggi berkaitan erat dengan upaya memperkuat kemandirian kesehatan nasional. Terlebih, masih terdapat masyarakat Indonesia yang memilih layanan kesehatan di luar negeri.

Menurutnya, kondisi tersebut  memiliki konsekuensi ekonomi karena pembiayaan untuk layanan kesehatan di luar negeri turut mengalir ke negara lain.

“Ini menjadi bagian penting, pertama tentu untuk memberikan layanan kesehatan bagi seluruh manusia, terutama warga bangsa Indonesia. Yang kedua, sebetulnya tidak terhitung berapa devisa yang harus keluar negeri, ratusan triliun, untuk pengobatan bangsa ini, masyarakat Indonesia yang sudah mempercayakan proses layanan kesehatannya ke berbagai rumah sakit di luar negeri,” ujar Khofifah.

Ia pun mendorong pengembangan pusat-pusat riset kesehatan di dalam negeri agar mendapatkan dukungan yang lebih luas. Pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dunia usaha, pusat penelitian hingga para pakar perlu membangun kolaborasi agar inovasi kesehatan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Jawa Timur memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan ekosistem tersebut. Keberadaan banyak perguruan tinggi, rumah sakit, tenaga kesehatan, industri, pusat penelitian, serta sumber daya manusia di berbagai bidang menjadi potensi yang dapat dikoneksikan untuk menghasilkan inovasi kesehatan.

"Bahkan dari banyak pakar dari perguruan tinggi, perguruan tinggi world class university juga hadir di sini. Tentu tidak sekadar sebagai researcher, tetapi bagaimana proses untuk memberikan layanan dari hasil riset itu bisa dirasakan oleh masyarakat lebih luas lagi,” tuturnya.

Menurut Khofifah, keterhubungan antara peneliti dengan dunia pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi. Hasil penelitian perlu memiliki ruang untuk dikembangkan, diuji, diterapkan secara bertanggung jawab dan pada akhirnya memberi solusi atas kebutuhan kesehatan masyarakat.

Ia menambahkan, pengalaman melihat langsung pengembangan riset stem cell di SCCR Indonesia menjadi perspektif penting bagi Jawa Timur dalam memperkuat kolaborasi riset kesehatan di daerah.

“Kita semua mendorong, mendukung bagaimana para expertise di bidang teknologi stem cell di Semarang ini bisa terus mendapatkan ruang untuk mendedikasikan seluruh ilmu yang bisa dirasakan manfaatnya lebih luas lagi oleh masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Khofifah bahkan melihat potensi pengembangan pusat riset dan layanan stem cell di Indonesia untuk memiliki daya jangkau yang lebih luas di masa mendatang. Dengan penguatan kapasitas riset, teknologi, sumber daya manusia, dan layanan medis, Indonesia berpeluang menjadi salah satu rujukan pengembangan layanan berbasis teknologi kesehatan di kawasan.

“Dari proses perencanaan ke depan, rasanya ini bisa menjadi center of gravity dari proses pelayanan stem cell tidak hanya di Indonesia, tidak hanya di ASEAN, tapi juga di sangat banyak negara akan melihat bahwa anak bangsa ini sudah melahirkan hasil-hasil riset yang luar biasa di bidang kedokteran, terutama, dan sudah memberikan layanan medik yang luar biasa,” ucapnya.

Ia pun menegaskan, kekuatan utama yang perlu untuk dikembangkan bukan hanya kemampuan melakukan penelitian, tetapi juga memastikan hasil penelitian dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab untuk mendukung pelayanan kesehatan.

“Jadi bukan hanya risetnya, tapi juga hasil risetnya sudah diimplementasikan dengan memberikan layanan yang luar biasa,” ujar Khofifah.

Khofifah berharap, pengembangan riset kesehatan berbasis teknologi tinggi di Indonesia terus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta para pakar. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar inovasi kesehatan dapat berkembang dan memberikan manfaat yang semakin luas.

“Dan tentu kita terus doakan tempat ini terus berkembang dan sukses ke depannya,” pungkasnya.(*)