KETIK, SURABAYA – Sebanyak 80 peserta dan 15 peninjau dari berbagai organisasi, komunitas, lembaga sosial, perguruan tinggi, serta unsur relawan penanggulangan bencana mengikuti Kongres IV Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur di Gedung Widya Kartika Surabaya, Sabtu - Minggu 12–13 September 2026.

Kongres yang mengusung tema “Penguatan Organisasi Relawan Penanggulangan Bencana yang Adaptif, Profesional, dan Berkelanjutan” ini menjadi momentum penting bagi SRPB Jatim untuk melakukan evaluasi, konsolidasi, regenerasi, sekaligus menyusun arah organisasi untuk periode 2026–2029.

Ketua Panitia Kongres IV SRPB Jawa Timur, Dwi Rossantiana, mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi forum pergantian kepengurusan. Kongres juga menjadi ruang pertanggungjawaban dan evaluasi kepengurusan periode 2023–2026 serta penguatan organisasi menghadapi tantangan kebencanaan ke depan.

“Bukan hanya pergantian pengurus, tetapi bagaimana SRPB ke depan semakin kuat, adaptif, profesional dan mampu menjawab kebutuhan penanggulangan bencana,” ujarnya dalam rangkaian Kongres IV SRPB Jatim.

Andika Sekretaris BPBD Jatim menyematkan tanda peserta ke perwakilan. Foto : Sutejo Rc/ketik.com)

Baca Juga:
PT Makmur Berkah Abadi dan Accessina Dukung Penguatan Relawan melalui Kongres IV SRPB Jatim

Berdasarkan data panitia, peserta kongres merupakan perwakilan dari 80 organisasi dari total 105 organisasi yang tergabung dalam jejaring SRPB Jawa Timur. Selain peserta, hadir pula 15 peninjau. Pelaksanaan kegiatan didukung sekitar 30 unsur penyelenggara yang terdiri atas Dewan Kehormatan, Steering Committee, penanggung jawab, penyelenggara dan panitia pelaksana.

Pembukaan kongres dilakukan Sekretaris BPBD Provinsi Jawa Timur, Andhika Nurrahmad Sudigda. Hadir pula perwakilan SIAP SIAGA Indonesia–Australia, pengurus SRPB Jatim, koordinator dan wakil koordinator, Steering Committee, mitra, sponsor, serta para peserta dan peninjau Kongres IV SRPB Jatim.

Dalam sambutannya, Andhika menegaskan bahwa relawan memiliki peranan sangat penting dalam seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari antisipasi, penanganan saat bencana hingga pemulihan pascabencana. Menurutnya, SRPB memiliki posisi strategis sebagai wadah penggerak dan penguat jejaring relawan di Jawa Timur.

Karena itu, ia mengajak seluruh unsur relawan untuk terus menjaga semangat kolaborasi dalam penanggulangan bencana. Penguatan jejaring dinilai penting agar potensi dan pergerakan relawan dapat terkoordinasi secara efektif ketika menghadapi situasi kebencanaan.

Baca Juga:
Lolos Seleksi 20 Bulan, 16 Relawan Terpilih Perkuat Tim Sarana Evakuasi BPBD Jatim

Foto bersama seluruh peserta, peninjau, panitia dan pengurus SRPB Jatim bersama para undangan. (Foto : Sutejo Rc/ketik.com)

Pesan serupa disampaikan perwakilan SIAP SIAGA Jawa Timur, Mambaus Suud. Ia menyebut kerja sama SIAP SIAGA dengan Australia telah berjalan selama enam tahun dan menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi serta meningkatkan ketangguhan masyarakat Jawa Timur. Penguatan jejaring diperlukan agar pergerakan relawan dapat terpantau dan terkoordinasi dengan baik.

Di sela-sela sidang kongres, Prof. Samsul Ma’arif, Kepala BNPB pertama, mengingatkan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan koordinasi dan kolaborasi sedikitnya empat unsur utama, yakni pemerintah dan DPR, dunia usaha/industri, masyarakat, serta media.

Kongres IV SRPB Jatim akhirnya menjadi ruang bersama untuk memperkuat semangat gotong royong tersebut. Berbagai dukungan, baik dalam bentuk finansial, konsumsi, barang, publikasi, fasilitas maupun dukungan lainnya, datang dari pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, mitra SRPB dan organisasi relawan.

Dengan dukungan berbagai pihak, seluruh rangkaian Kongres IV SRPB Jawa Timur diharapkan berlangsung lancar dan melahirkan kepengurusan dengan arah gerak organisasi yang semakin solid, profesional dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat SRPB Jatim sebagai jejaring relawan yang siap bergerak bersama menghadapi berbagai ancaman bencana. (*)