KETIK, MALANG – Santri Thursina IIBS berhasil menyabet Juara 1 Best Idea Innovation dalam Korea Youth Summit (KYS) 2026. Event itu diselenggarakan di Korea oleh Youth Break the Boundaries (YB) Foundation dengan riset yang berfokus pada self-regulated learning kit.

Kompetisi ini menjadi pengalaman mengesankan di tingkat internasional bagi tim Thursina dalam menguji gagasan di hadapan peserta dan juri level global. FocusBloom mengajak untuk memahami sumber distraksi dan membangun kemampuan mengatur proses belajarnya sendiri.

Dalam mempresentasikan hasil riset, tim Thursina IIBS beranggotakan Syira Raflah Putri Suratman, Azalea Raihanah Adiva, Gelsy Zyhnee Rayfani, Qotrunnada Nafiza Husna dan Andi Raufatul Jannah Salsabila. Berawal dari kenyataan distraksi terakhir yang tidak selalu berasal dari screen.

Lima santri Thursina IIBS membuktikan kemampuan riset hingga kancah internasional. (Foto: Thursina IIBS)

Mereka menyadari distraksi datang dari teman, rasa lelah, kejenuhan, lingkungan yang kurang kondusif, hingga tugas yang terasa sulit dapat menggangu konsentrasi dan membuat proses belajar kehilangan arah.

Baca Juga:
Luar Biasa! 33 Santri Thursina IIBS Malang Raih Mumtaz, Juara Umum Olimpiade Bahasa Arab ASEAN 2026

FocusBloom dirancang untuk membantu siswa mengenali segala distraksi, menetapkan target, mencatat focus session, memilih strategi yang sesuai, lalu melakukan refleksi atas proses belajar.

Dengan pendekatan tersebut, siswa bukan berada pada posisi penerima solusi, melainkan sebagai individu yang belajar memahami dan mengelola kebutuhannya sendiri.

Dayu Ardhiyatmita Nur Rahmawati, M.Pd., pembina tim menyampaikan bahwa proses persiapan dalam kompetisi ini diarahkan agar santri memahami gagasan mereka secara utuh.

Proses latihan mencakup penguatan proposal, validasi data, penyusunan visual, public speaking dalan bahasa Inggris, hingga simulasi pertanyaan juri.

Baca Juga:
Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Thursina IIBS Gelar Tabligh Akbar Bertema "Rasulullah Is My Role Model" Bersama Aa Hilman

“Proses latihannya dimulai dari saya membimbing ananda agar benar-benar memahami proyek yang mereka bawakan. Yang paling membanggakan ketika mereka mau menerima masukan dan memahami data risetnya sendiri,” ujarnya.

Dari proses tersebut, santri dilatih untuk mampu melihat masalah sederhana dengan lebih jernih kemudian merumuskan solusi yang relevan. Tentunya proses belajar ini menjadi fase penting untuk membangun critical thinking dan problem solving.

FocusBloom juga diarahkan untuk mendukung SDG 4: Quality Education, khususnya melalui penguatan keterampilan belajar, kemandirian, dan kebiasaan reflektif. Di titik ini, karya santri bergerak serta berupaya menjawab kebutuhan pendidikan di sekitar mereka.

Pengalaman tersebut juga merefleksikan nilai Inspiring dalam RECODING, dimana santri tidak hanya didorong untuk bisa menghasilkan karya, melainkan diberikan ruang untuk percaya bahwa gagasan mereka layak diuji, dikembangkan, dan dibawa ke panggung yang lebih luas.

Pembinaan semacam ini menjadi bagian dari komitmen Thursina IIBS dalam menjaga World Class and Personalised Enrichment melalui pendekatan Holistic & Balanced Education.

Dengan pengalaman berkompetisi di kancah internasional, Thursina IIBS dapat memperkaya kesiapan santri dalam menempuh Top 100 Overseas University Enrollment Pathway, sebagaimana banyak lulusan Thursina IIBS yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi terbaik dunia.

Menurut Dayu, kemenangan ini bukan akhir dari belajar, tetapi menjadi awal untuk terus berinovasi yang lebih besar dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Juara ini bukan akhir, tetapi awal untuk berani membuat inovasi yang lebih besar dan lebih bermanfaat,” pesan Dayu.

FocusBloom akhirnya menjadi lebih dari sebuah learning kit dengan menunjukkan bagaimana sebuah keresahan kecil di meja belajar dapat berkembang menjadi gagasan yang dibawa santri ke panggung internasional.

Kompetisi ini tentunya menjadi ruang bagi santri Thursina IIBS untuk berpikir, mencoba, dan menciptakan sesuatu yang bermakna.(*)