KETIK, JAKARTA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak pada kegiatan “Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia” Diskusi Ruang Temu Kepala Daerah yang digelar Total Politik di Jakarta, menilai bahwa wacana perubahan nama Kabupaten Situbondo sebagai langkah yang positif. Namun demikian, gagasan tersebut perlu dikaji secara matang dengan mempertimbangkan sejarah, budaya, serta aspirasi masyarakat Kabupaten Situbondo, Rabu 26 Agustus 2026.

Emil menyampaikan bahwa, perubahan nama daerah bukan sekadar persoalan administratif, akan tetapi juga berkaitan dengan identitas dan jati diri masyarakat. Karena itu, prosesnya perlu melibatkan berbagai pihak agar keputusan yang diambil dapat diterima dan memberikan manfaat bagi daerah itu sendiri.

Dia juga menekankan pentingnya dialog serta kajian yang komprehensif sebelum wacana tersebut diwujudkan. Masukan dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat secara luas serta para ahli dalam sejarah dinilai menjadi bagian penting dalam proses pembahasan tersebut.

Emil berharap, apa pun keputusan yang nantinya diambil, tetap dapat memperkuat identitas Kabupaten Situbondo sekaligus mendorong pembangunan dan kemajuan daerah. Wacana perubahan nama tersebut diharapkan menjadi momentum untuk menggali kembali sejarah dan potensi yang dimiliki Situbondo.

“Pembahasan mengenai perubahan nama daerah harus dimulai dengan melihat sejarah serta preferensi masyarakat setempat dan yang harus dirujuk warga Situbondo punya preferensi apa," jelas Emil dalam acara Diskusi Ruang Temu Kepala Daerah yang digelar Total Politik, Rabu 26 Agustus 2026.

Baca Juga:
Pakaian Adat Semarakkan Upacara Harjakasi ke-208, Ini kata Bupati Situbondo

Menurut Emil, masyarakat juga perlu mempertimbangkan sejarah dan tokoh-tokoh yang memiliki kaitan dengan daerah Kabupaten Situbondo. Contoh, Besuki yang secara historis pernah menjadi pusat Karesidenan Besuki di wilayah Tapal Kuda.

"Secara historis Besuki itu merupakan pusat karesidenan di wilayah Tapal Kuda. Dan Panarukan juga memiliki posisi penting dalam sejarah Kabupaten Situbondo. Karena pada jaman dulu Panarukan merupakan Pelabuhan Internasional yang disinggahi kapal-kapal asing. Karena itu, munculnya sejumlah gagasan mengenai nama daerah merupakan bagian dari proses dialektika yang wajar,” jelas Emil.

Selain itu, Emil juga menyinggung perkembangan infrastruktur peninggalan-peninggalan sejarah di wilayah Kabupaten Situbondo. "Besuki berada sisi paling barat dari Kabupaten Situbondo. Di wilayah ini masih terdapat gedung-gedung bersejarah eks Karesidenan Besuki. Sedangkan, di dekat Pelabuhan Panarukan masih ada gudang-gudang tua penyimpanan barang Jakarta Loid, dan di Situbondo sendiri ada Dam Sluice,” terang Wagub Jatim.

Tak hanya itu yang disampaikan Emil, tapi dia meminta kepada pemerintah daerah Kabupaten Situbondo sebagai pemangku amanah harus memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan pandangan mengenai wacana penggantian nama kabupaten tersebut.

Baca Juga:
Nasim Khan Dukung Kebijakan Presiden Terkait Transformasi BUMN

Lebih lanjut, Emil mengatakan bahwa, langkah Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang membuka ruang terhadap berbagai gagasan merupakan hal yang tepat. "Kita harus kasih kesempatan kepada masyarakat untuk membuka ruang dialektika. Sehingga, akan bermunculan ide-ide, kemudian lihat dinamikanya," tutur Emil.

Dengan ruang dialektika, kata Emil, masyarakat dapat menyampaikan argumen masing-masing, baik yang mendukung perubahan nama maupun yang ingin mempertahankan nama Kabupaten Situbondo. "Kita juga ingin lihat yang pro mempertahankan nama Kabupaten Situbondo punya argumen seperti apa. Dan yang pro dengan Panarukan serta Besuki argumen seperti apa," tuturnya.

Emil juga menilai perdebatan mengenai nama daerah justru dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk mengenal sejarah daerahnya. Proses tersebut berpotensi membuat anak-anak muda di Kabupaten Situbondo maupun Jawa Timur tertarik menggali sejarah Besuki, Panarukan, dan Situbondo lebih dalam.

"Saya pikir dialektika yang bagus akan membuat anak-anak muda di Situbondo semangat mencari tahu tentang sejarah, bahkan di wilayah Jawa Timur juga akan penasaran dan mau menggali sejarah juga," kata Emil.

Sebelumnya nama Kabupaten Situbondo diwacanakan dirubah menjadi Kabupaten Panarukan. Wacana itu mencuat dalam diskusi pegiat literasi dan sejarah. "Wacana itu muncul pada diskusi teman-teman pegiat literasi dan pegiat sejarah. Pada dasarnya diskusi itu tidak boleh dihentikan, tapi harus bergulir sebagaimana mestinya," kata Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang akrab disapa Mas Rio.

"Mengenalkan nama Kabupaten Situbondo itu mudah, tapi harus ada embel-embel nama Panarukan, itu ide awalnya. Namun, semuanya saya kembalikan kepada masyarakat bagaimana kemauannya," kata Mas Rio. (*)