KETIK, MALANG – Kota Batu, Jawa Timur, genap berusia seperempat abad pada 17 Oktober 2026. Sejak resmi berdiri sebagai daerah otonom pada 2001, Kota Batu terus berkembang dengan pariwisata sebagai salah satu sektor andalan yang membentuk identitasnya hingga dikenal sebagai Kota Wisata.

Perjalanan Kota Batu selama 25 tahun tidak lepas dari peran para nakhoda yang silih berganti. Mulai dari wali kota pertama, Imam Kabul, hingga sosok Nurochman bersama Heli Suyanto, setiap periode memiliki dinamika dan kontribusi tersendiri dalam perjalanan pembangunan kota.

Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan pariwisata Kota Batu adalah almarhum Eddy Rumpoko. Di bawah kepemimpinannya selama dua periode, investasi pariwisata berkembang dan berbagai destinasi baru bermunculan, memperkuat posisi Kota Batu sebagai tujuan wisata di Jawa Timur.

Bagaimana perjalanan kepemimpinan Kota Batu dari masa ke masa? Simak artikel selengkapnya di bawah ini.

1. Imam Kabul (2002–2007)

Baca Juga:
25 Tahun Kota Batu Merdeka dari Kabupaten Malang, Akademisi UMM Bongkar Masalah yang Tak Kunjung Tuntas

Imam Kabul merupakan wali kota pertama Kota Batu setelah wilayah ini resmi menjadi daerah otonom pada 17 Oktober 2001. Pelantikannya bersama wakil wali kota M. Khudhori dilaksanakan pada 25 November 2002 oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, Imam Utomo.

Pada masa awal pemerintahan, Kota Batu menghadapi tantangan membangun tata kelola pemerintahan sebagai daerah otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.

Namun, masa kepemimpinannya berakhir sebelum waktunya. Imam Kabul meninggal dunia pada 26 Agustus 2007 dalam usia 55 tahun.

Kepergian Imam Kabul menandai berakhirnya periode kepemimpinan pertama Kota Batu sekaligus menjadi bagian dari sejarah awal perjalanan pemerintahan kota ini.

Baca Juga:
Apresiasi Kepemimpinan Nurochman-Heli di HUT ke-25 Kota Batu, Aries Agung Paewai Tekankan SDM Unggul Demi Kekuatan Masa Depan

2. Eddy Rumpoko (2007–2017)

Nama Eddy Rumpoko menjadi salah satu tokoh yang lekat dengan perkembangan pariwisata Kota Batu. Ia menjabat sebagai wali kota selama dua periode, yakni 2007–2012 dan 2012–2017.

Pada periode pertama, Eddy Rumpoko berpasangan dengan H.A. Budiono. Sementara pada periode kedua, ia berpasangan dengan Punjul Santoso setelah memenangi pemilihan kepala daerah pada 2012.

Di bawah kepemimpinannya, Kota Batu semakin mengembangkan sektor pariwisata dengan membuka ruang bagi investasi. Ia disebut sebagai arsitek di balik jenama Kota Wisata Batu.

Pertumbuhan destinasi wisata, termasuk hadirnya berbagai wahana yang dikembangkan Jatim Park Group, turut memperkuat daya tarik kota ini bagi wisatawan.

Selain mengembangkan destinasi wisata berskala besar, Eddy Rumpoko juga mendorong Alun-Alun Kota Batu menjadi ruang publik sekaligus tujuan rekreasi yang dapat dinikmati berbagai kalangan masyarakat.

Perkembangan tersebut ikut memperkuat citra Kota Batu sebagai Kota Wisata. Pariwisata tidak hanya menjadi daya tarik bagi pengunjung, tetapi juga menjadi salah satu penggerak kegiatan ekonomi masyarakat.

Eddy Rumpoko meninggal dunia pada 30 November 2023. Meski demikian, periode kepemimpinannya tetap menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan mengenai perkembangan pariwisata Kota Batu.

3. Dewanti Rumpoko (2017–2022)

Estafet kepemimpinan Kota Batu berlanjut kepada Dewanti Rumpoko yang memenangi Pilkada 2017 bersama Punjul Santoso.

Dewanti memimpin Kota Batu pada periode 2017–2022. Sebelum terjun lebih jauh ke pemerintahan, ia memiliki pengalaman di bidang politik dan organisasi sosial.

Istri Eddy Rumpoko ini banyak melanjutkan legacy suaminya dalam menjadikan Batu sebagai Kota Wisata. 

Setelah menyelesaikan masa jabatannya pada 2022, Dewanti kembali melanjutkan kiprah politiknya. Pada Pemilu 2024, ia terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.

4. Aries Agung Paewai (2023–2025)

Setelah masa jabatan Dewanti Rumpoko berakhir, Kota Batu dipimpin oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Aries Agung Paewai.

Aries dilantik untuk mengisi kekosongan jabatan kepala daerah hingga terpilihnya wali kota definitif melalui Pilkada 2024. Ia merupakan pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang lahir di Makassar pada 17 April 1976.

Sebelum menjabat sebagai Pj Wali Kota Batu, Aries pernah menduduki sejumlah posisi strategis di lingkungan Pemprov Jatim, antara lain Kepala Biro Humas dan Protokol, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur, serta Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Sebagai penjabat kepala daerah, Aries menjalankan pemerintahan dalam masa transisi menuju kepemimpinan hasil Pilkada 2024. Periode ini menjadi penghubung antara pemerintahan Dewanti Rumpoko dan kepemimpinan definitif berikutnya.

5. Nurochman (2025–sekarang)

Kota Batu kini dipimpin Nurochman yang berpasangan dengan Heli Suyanto sebagai wali kota dan wakil wali kota.

Pasangan yang diusung PKB dan Gerindra tersebut memenangi Pilkada 2024 dengan perolehan 65.684 suara atau 50,23 persen suara sah.

Nurochman dan Heli Suyanto resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025. Keduanya dikenal sebagai putra daerah Kota Batu. Nurochman berasal dari Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, sedangkan Heli Suyanto berasal dari Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji.

Sebelum menjadi wali kota, Nurochman pernah menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Batu selama dua periode, yakni 2014–2019 dan 2019–2024. Sementara itu, Heli Suyanto merupakan Ketua DPC Partai Gerindra Kota Batu yang juga pernah menjabat sebagai wakil ketua DPRD setempat.

Setelah terpilih sebagai kepala daerah, keduanya meninggalkan kursi legislatif untuk menjalankan pemerintahan Kota Batu.

Kepemimpinan Nurochman dan Heli Suyanto menjadi babak baru perjalanan Kota Batu. Selain menjaga daya saing sektor pariwisata, pemerintah daerah menghadapi tantangan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara lebih merata.

Seperempat Abad Kota Batu dan Estafet Kepemimpinan

Memasuki usia ke-25 tahun, perjalanan Kota Batu memperlihatkan bagaimana kepemimpinan daerah turut membentuk arah pembangunan kota.

Dari masa awal pemerintahan Imam Kabul, penguatan pariwisata pada era Eddy Rumpoko, kepemimpinan Dewanti Rumpoko, masa transisi di bawah Aries Agung Paewai, hingga pemerintahan Nurochman dan Heli Suyanto, setiap periode hadir dengan tantangan dan prioritasnya masing-masing.

Pariwisata menjadi benang merah dalam perjalanan pembangunan Kota Batu. Namun, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan popularitas sebagai tujuan wisata, melainkan juga memastikan pertumbuhan sektor tersebut berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi lokal, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.