KETIK, YOGYAKARTA – Fenomena olahraga yang semakin digemari masyarakat, khususnya kalangan muda, membawa dampak positif bagi kesehatan. Namun, manfaat olahraga tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang beraktivitas fisik, melainkan juga oleh jenis, intensitas, durasi, hingga waktu pelaksanaannya.

Konsep Exercise is Medicine atau olahraga sebagai terapi kesehatan kini semakin mendapat perhatian. Melalui pendekatan tersebut, olahraga dipandang layaknya obat yang harus diberikan dengan dosis, frekuensi, intensitas, dan durasi yang tepat agar manfaatnya optimal sekaligus meminimalkan risiko.

Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, menjelaskan olahraga yang dilakukan secara benar mampu meningkatkan kebugaran sekaligus menjaga fungsi otak.

"Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati serta mengurangi rasa nyeri," ujarnya, Jumat, 17 Juli 2026. 

Meski demikian, Zaenal mengingatkan tidak semua jenis olahraga memberikan efek yang sama terhadap tubuh. Olahraga kompetitif seperti futsal, tenis, atau bulu tangkis memiliki pola gerak yang berubah-ubah sehingga memerlukan kesiapan fisik lebih baik dibanding olahraga aerobik yang ritmis.

Baca Juga:
Duduk Terlalu Lama Ternyata Lebih Berbahaya bagi Otak daripada Scrolling Media Sosial

Ia mencontohkan masih sering terjadi kasus kematian mendadak ketika seseorang berolahraga tanpa memperhatikan kondisi tubuh.

"Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya karena seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan risiko gangguan jantung bahkan kematian mendadak," jelasnya.

Karena itu, masyarakat disarankan menghindari olahraga berat sesaat setelah makan. Aktivitas seperti berenang pun sebaiknya tidak dilakukan dalam kondisi perut masih penuh karena dapat meningkatkan risiko kram hingga gangguan jantung.

Menurut Zaenal, terdapat tiga prinsip penting agar olahraga benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan otak maupun tubuh.

Baca Juga:
Pemkab Lebak Sabet Peringkat II PEPARPEDA IX Banten 2026, Kadispora: Bukti Keterbatasan Bukan Penghalang Meraih Prestasi

Pertama, olahraga sebaiknya melibatkan kelompok otot besar, seperti tungkai dan lengan. Kedua, gerakannya harus ritmis, misalnya berjalan cepat, jogging, atau bersepeda dengan tempo yang stabil. Ketiga, aktivitas dilakukan secara berkelanjutan selama sekitar 30–40 menit tanpa banyak berhenti ataupun perubahan intensitas yang terlalu drastis.

"Dengan cara seperti itulah olahraga dapat meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus membantu menjaga fungsi otak tetap optimal," pungkasnya.

Selain memilih jenis olahraga yang tepat, menjaga kesehatan otak juga memerlukan perhatian terhadap kebiasaan sehari-hari. Duduk terlalu lama, minim bergerak, serta perubahan posisi tubuh yang terlalu cepat dapat mengurangi aliran darah ke otak dan memengaruhi fungsi kognitif.

Karena itu, para ahli juga menyarankan masyarakat membatasi waktu duduk, rutin melakukan peregangan, dan menjaga sirkulasi darah agar pasokan oksigen ke otak tetap optimal sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak secara menyeluruh. (*)