KETIK, YOGYAKARTA – Pagi yang sejuk di Yogyakarta mendadak bergemuruh ketika delapan ribu pasang sepatu melangkah serentak membelah jalanan kota pada Minggu, 4 Oktober 2026. Kompleks Kepatihan mendadak berubah menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru nusantara untuk ambil bagian dalam ajang Malioboro Run 2026 persembahan Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY.
Memasuki tahun penyelenggaraan kelima, gelaran yang mengusung tema "Culture On Track" serta konsep Dwi Tunggal ini tidak sekadar menawarkan adu cepat, melainkan sebuah perayaan budaya yang merajut langkah para pelari melewati denyut nadi sejarah kota pelajar.
Rute Ikonik dan Pelepasan
Pelepasan ribuan peserta yang dipusatkan di garis start halaman Kantor Gubernur DIY dilakukan oleh jajaran pimpinan daerah mulai dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY Nuryadi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, serta sejumlah jajaran Forkopimda DIY. Pelepasan peserta kategori 5K turut disemarakkan pula oleh kehadiran Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono bersama Kasrem 072/Pamungkas Kolonel Inf Teguh Wiratama yang hadir mendampingi di garis start.
Begitu bendera dikibarkan, ribuan pelari dari tiga kategori utama yaitu Half Marathon (21K), 10K, dan 5K langsung tumpah ruah menyusuri rute baru tersertifikasi AIMS yang dirancang khusus memanjakan mata. Mulai dari Jalan Parangtritis, Jalan Veteran, Jalan Kenari, Jalan Dr Sutomo, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mangkubumi, Jalan Abu Bakar Ali, kemegahan Malioboro dan Titik Nol Kilometer, kawasan sakral Keraton Yogyakarta serta Pura Pakualaman, menyusuri lima Plengkung Benteng Baluwarti, melintasi eksotisme Tamansari dan Pasar Ngasem, hingga berputar di Panggung Krapyak dan Tugu Pal Putih.
Kisah Pelari dan Kemeriahan
Baca Juga:
Dispar Sleman Dukung Gelaran Fun Run 6K Transmigrasi Festival 2026 di KaliurangSuasana pagi itu rupanya meninggalkan kesan mendalam bagi Susilo, seorang pensiunan dosen Universitas Sebelas Maret asal Boyolali yang turun di kategori paling menantang, yakni Half Marathon 21K. Di usianya yang menginjak 65 tahun, ia mengaku terhipnotis oleh keasrian rute yang memadukan keheningan kampung tua perkotaan dengan kemegahan situs-situs bersejarah.
"Jadi saya terkesan dengan rutenya ini. Termasuk saat ketika kita keliling dari keraton, kemudian menyusuri alam perkampungan yang sedikit kampung di situ, masih asri. Dan juga ada tempat-tempat seperti lewat di Tugu, ini sungguh menarik," ungkap Susilo di sela-sela acara.
Yang membuat penampilannya paling mencuri perhatian adalah caping bambu di kepala serta bendera Merah Putih berukuran besar yang berkibar gagah di genggamannya sepanjang rute. Ia mengungkapkan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk konsistensi untuk menyebarkan semangat nasionalisme di setiap ajang lari yang diikutinya, bahkan hingga melintasi benua di Amerika dan Australia.
"Ya, sesuai dengan tema dari Malioboro Run ini, Culture On Track. Sehingga saya lari juga membawa caping dan membawa semangat nasionalisme Indonesia," imbuhnya.
Keseruan serupa turut dirasakan oleh Agus, pelari asal Temanggung yang menjajal kategori 10K. Menyusuri lorong waktu di kota sejarah membuat lelahnya terbayar tuntas oleh pemandangan arsitektur kuno dan atmosfer budaya yang kental.
"Ya, karena kan kita itu berlari di kota sejarah ya. Jadi ya, senang aja dilewati tempat-tempat bersejarah seperti itu," kata Agus penuh antusias.
Ia bahkan mengajak masyarakat luas yang belum sempat kebagian jatah tiket tahun ini untuk bersiap merebut slot di penyelenggaraan berikutnya.
"Untuk teman-teman yang belum dapat slot, tahun depan wajib ikut. Karena acaranya seru banget," tegasnya.
Menjelang siang, riuh rendah ribuan pelari perlahan berpusat kembali ke halaman Kantor Gubernur DIY. Puluhan stan UMKM lokal yang berjajar rapi langsung diserbu peserta yang memanfaatkan program cashback transaksi non-tunai untuk melepas penat sambil menikmati sajian kuliner khas.
Baca Juga:
Bupati Sleman Harda Kiswaya: Safari Tarawih Jadi Jembatan Komunikasi Langsung dengan MasyarakatMelalui ajang seperti Malioboro Run ini, olahraga terbukti tidak hanya menjadi ruang untuk menjaga kebugaran dan meraih prestasi dengan total perebutan hadiah mencapai Rp212 juta. Tetapi juga menjadi media strategis untuk memperkenalkan potensi daerah, menggerakkan perekonomian masyarakat. Serta memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya dan destinasi utama wisata olahraga.(*)