KETIK, HALMAHERA SELATAN – Peresmian Masjid As-Sultan Sayyid Muhammad Husain Al Bakir di Desa Dauri, Kecamatan Pulau Makian, Halmahera Selatan, Rabu 19 Agustus 2026, tak berhenti pada berdirinya sebuah rumah ibadah. Dari tanah tua yang menyimpan jejak leluhur itu, Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin membawa pesan tentang pertautan nilai keislaman, adat, persaudaraan dan arah pembangunan daerah.
Masjid As-Sultan Sayyid Muhammad Husain Al Bakir diresmikan langsung oleh Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba. Momentum tersebut turut dihadiri Sultan Bacan Muhammad Irsyad Maulana Sjah. Kehadiran pemerintah daerah dan Kesultanan Bacan memberi warna tersendiri pada peresmian masjid di tengah masyarakat Dauri yang hingga kini masih merawat hubungan antara kehidupan religius dan tradisi turun-temurun.
Helmi menempatkan nilai ketuhanan bersama warisan leluhur pada satu tarikan napas kehidupan masyarakat.
“Agama dan Adat sebagai dua hal yang saling menguatkan,” tutur Helmi.
Pandangan itu kemudian dibawa lebih jauh ke arah bagaimana daerah semestinya bertumbuh. Bagi Helmi, ukuran keberhasilan tidak cukup dibaca dari apa yang tampak berdiri, melainkan dari kualitas kehidupan sosial dan karakter masyarakat di dalamnya.
Baca Juga:
Nama Diseret Lewat Blogger, Sekretaris PWI Halsel: Sejengkal Lagi Pelakunya TerungkapMenurutnya, arah kerja pemerintah semestinya bertumpu pada keseimbangan antara capaian lahiriah dengan pembentukan watak, etika, keyakinan, serta ikatan sosial.
“Adat bersendi syara', syara' bersendi Kitabullah, menjadi pijakan agar pembangunan tidak hanya menghadirkan kemajuan secara fisik, tetapi juga membangun manusia yang beriman, beradat, berakhlak dan menjunjung tinggi persaudaraan,” ujar Helmi.
Di Dauri, pandangan tersebut menemukan ruangnya. Masjid hadir di tengah kampung bukan semata melalui dinding, tiang dan kubah, melainkan tumbuh di antara ingatan keluarga, petuah orang tua, kehidupan berjemaah serta tata sosial masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Baca Juga:
Bupati Bassam Buka Panggung Bola Muda Halmahera SelatanHelmi memaknai hadirnya rumah ibadah tersebut melampaui bangunan baru; tempat suci itu diposisikan selaku simpul ruhani, ruang temu warga, serta titipan moral lintas zaman.
“Peresmian Masjid As-Sultan Sayyid Muhammad Husain Al Bakir di Desa Dauri Kecamatan Pulau Makian diharapkan menjadi tanda tumbuhnya kehidupan keagamaan dan persaudaraan masyarakat, sekaligus menjadi warisan kebaikan bagi generasi yang akan datang,” ungkap Helmi.
Pesan itu sekaligus menempatkan masjid dekat dengan denyut kehidupan kampung. Tempat sujud tersebut diharapkan hidup bersama masyarakat, menjadi ruang ibadah sekaligus tempat nilai-nilai kebaikan diteruskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Di tanah Makian, pertautan keyakinan dan tradisi mempunyai bahasa sendiri. Nilai lama tidak diletakkan sebagai peninggalan untuk dikenang semata, melainkan sebagai tuntunan untuk membaca masa depan tanpa kehilangan asal-usul.
Pesan berikutnya bergerak ke tanggung jawab antargenerasi: akar sejarah, nilai spiritual, ikatan warga, serta masa depan daerah ditempatkan dalam satu garis pengabdian.
“Dari tanah adat dan negeri para leluhur, kita terus menjaga amanah, agama dipelihara, adat dijunjung, persaudaraan dipererat, dan negeri dibangun bersama,” kata Helmi.
Peresmian masjid di Dauri pun membawa pesan lebih luas dari sebuah seremoni. Di hadapan masyarakat, tradisi memperoleh tempat terhormat tanpa menjauh dari tuntunan Islam, sementara pembangunan diarahkan untuk tetap berpijak pada karakter masyarakat dan akar kebudayaan daerah.
Pada penutupnya, Helmi merangkum semangat Dauri melalui kalimat pendek bernada petuah, memadukan tata hidup lokal, tuntunan Ilahi, solidaritas warga, serta kerja kolektif.
“Adat dijunjung, syara’ dipangku; basudara tetap bersatu, negeri dibangun dengan iman dan kebersamaan,” pungkas Helmi.