KETIK, MALANG – Bagi para pencinta denim tanah air, nama EMBA tentu sudah tidak asing lagi. Namun, anggapan bahwa merek legendaris asal Malang tersebut merupakan singkatan dari "Embong Bandulan" adalah sebuah kekeliruan.

​Direktur EMBA Group, Joseph Herlambang, menegaskan nama EMBA tidak berasal dari singkatan nama tempat, melainkan lahir dari gagasan murni saat tren gaya hidup masyarakat Indonesia bergeser dari pakaian formal ke kasual.

"Jadi, nama brand EMBA ini sendiri lahir dari sebuah gagasan. Bukan nama brand yang terinspirasi dari sebuah tempat tertentu," jelasnya, Kamis, 3 September 2026. 

Ia menjelaskan nama EMBA dipilih karena karakternya sesuai dengan gagasan utama usaha yang dirintis, yakni produk denim kasual yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

"Nama EMBA itu sederhana, mudah diucapkan dan mudah diingat oleh konsumen, serta memiliki karakter modern," tambahnya. 

Baca Juga:
Bukan Candaan! Sopir Angkutan Pelajar Kota Malang Dilarang Catcalling hingga Berkata Kasar ke Siswa

Sejarah EMBA yang merupakan brand legendaris denim asal Malang. (Foto : Istimewa)

Joseph juga mengungkapkan terdapat makna dari empat huruf yang melekat pada nama brand EMBA. E yang berarti Evolve memiliki arti untuk terus berkembang mengikuti arah fashion dan perubahan teknologi.

Kemudian M yaitu Modern, melambangkan bahwa produk jeans yang dihasilkan relevan dengan gaya hidup masyarakat modern. Lalu B yang berarti Bold, berani mengambil langkah baru dan bereksperimen di industri fashion. Selanjutnya, A yang berarti Authentic bermakna akar sejarah kuat perusahaan. 

"Produk denim EMBA sendiri sudah eksis selama lebih dari lima dekade. Selama itu pula, kami selalu memberikan pengalaman fashion kasual yang nyaman kepada masyarakat Indonesia," terangnya. 

Baca Juga:
Dorong Kesiapsiagaan Hadapi Banjir di Desa Bulukerto dan Sumbergondo, Tim Pengabdian kepada Masyarakat UM Gandeng Polinema Sumbang dan Sosialisasikan Alat Forecasting

Joseph pun membeberkan sejarah panjang terkait produk denim EMBA. Berawal dari usaha keluarga milik suami istri, Bambang Herlambang dan Leonita Ikawati yang merintis usaha toko kain pada tahun 1968 di Kota Malang. 

Hanya bermodalkan tiga unit mesin jahit, keduanya memberanikan diri membuka usaha konveksi skala rumahan. Berjalan selama beberapa tahun, produk yang dihasilkan mendapatkan apresiasi positif dan kepercayaan dari masyarakat. 

"Lalu di tahun 1972, pasangan ini mendirikan perusahaan dengan nama CV Bambang Brothers Combination (BBC). Terjadi pergeseran fashion ke arah kasual, mereka meluncurkan lini produk jeans dan pakaian kasual pada tahun 1982 dengan nama EMBA," ungkapnya. 

Produk jeans EMBA lahir pada saat yang tepat, karena saat itu pasar lokal dibanjiri jeans produk impor dengan harga mahal. Selain jeans, juga merambah ke produk fashion lainnya. 

Tahun 1994, CV BBC bertransformasi menjadi EMBA Group untuk menaungi seluruh merek yang dikelola. Untuk mendukung operasional skala massal tersebut, EMBA Group didukung oleh PT Kasih Karunia Sejati sebagai unit manufaktur dengan fasilitas modern dan sistem kontrol mutu yang ketat. 

"EMBA Group sendiri menaungi beberapa produk fashion lain. Yaitu EMBA Classics dan EMBA Denim: untuk pakaian pria kasual dan denim, EMBA Ladies untuk segmen fashion wanita modern, Twist Kids di segmen anak-anak dan Used1968, Morphidae, serta Twist dengan lini fashion berkarakter desain unik untuk berbagai segmentasi konsumen," tandasnya. (*)