KETIK, SIMEULUE – Jalan berlubang, bebatuan, dan lumpur tak menyurutkan langkah Jamaluddin Idham menuju pelosok Desa Nancawa, Kecamatan Simeulue Tengah, Kabupaten Simeulue, Aceh. Di sebuah gubuk sederhana di tengah hamparan sawah, puluhan petani, yang didominasi kaum ibu, telah menanti. Mereka bukan hendak menyambut pejabat dengan kemewahan. Mereka hanya ingin didengar, setelah sekian lama bergulat dengan beratnya kehidupan sebagai petani.

Pagi itu, Senin (26/10/2026), sekitar pukul 08.00 WIB, seorang pemuda Aceh berdiri tegap di depan penginapan di Jalan Ibnu Abban GT Ulma, Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur. Dengan kemeja PDH abu-abu, celana hitam, dan sepatu senada, ia memberikan arahan kepada sejumlah tokoh dan pemuda yang akan mendampinginya menemui masyarakat.

Pemuda itu adalah Jamaluddin Idham, SH, MH, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Aceh.

Sebelum berangkat, ia mengingatkan rombongannya agar tidak melewatkan satu pun aspirasi masyarakat yang akan ditemui.

“Hari ini saya akan melakukan kunjungan dan mendengar langsung aspirasi masyarakat petani dan nelayan. Saya ingin semua aspirasi dicatat, jangan ada yang tertinggal agar nanti bisa diperjuangkan di pusat,” ujarnya.

Baca Juga:
Jamaluddin Idham Temui Petani di Simeulue, Perjuangkan Bantuan Handtraktor hingga Irigasi

Tak lama kemudian, rombongan bergerak meninggalkan penginapan. Jamaluddin menaiki sebuah mobil hitam. Sebelum kendaraan melaju, ia mengucapkan basmalah, lalu meraup wajah dengan kedua telapak tangannya.

Perjalanan pun dimulai.

Jalan yang dilalui bukan jalan mulus yang nyaman dilewati. Kendaraan harus melewati jalan berlubang, bebatuan, hingga ruas berlumpur. Sesekali, sopir harus lebih berhati-hati saat menghadapi tikungan dan kondisi jalan yang tidak bersahabat.

Namun, perjalanan itu terus berlanjut.

Baca Juga:
Target 4 Kursi DPRK Simeulue, Ketua DPD PDI-P Jamaluddin Idham Instruksikan Kader Bergerak Satu Komando

Di ujung jalan, ada masyarakat yang menunggu. Ada petani yang ingin menyampaikan keluh kesah. Ada ibu-ibu yang setiap hari bekerja di sawah demi memastikan dapur keluarga tetap mengepul dan anak-anak mereka tetap bisa bersekolah dan mengeyam pendidikan.

Di sanalah tujuan perjalanan Jamaluddin Idham.

Gubuk reot di tengah sawah milik petani menjadi tempat berdiskusi antara petani dan Jamaluddin Idham di Simeulue, Senin (26/10/2026). (Foto: T. Rahmat-Afdy-Helman/Ketik)

Gubuk Reot, Keluh Kesah, dan Air Mata yang Tertahan

Setibanya di Desa Nancawa, Jamaluddin disambut puluhan petani. Sebagian besar adalah kaum ibu yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

Mereka mengajaknya duduk bersama di sebuah gubuk persawahan. Bangunannya sederhana, jauh dari kesan megah. Namun, di tempat itulah percakapan yang menyentuh hati berlangsung.

Tak ada meja rapat yang panjang. Tak ada kursi empuk. Tak ada pendingin ruangan. Yang ada hanya hamparan sawah, gubuk sederhana, dan wajah-wajah penuh harap.

Jamaluddin memilih duduk bersama mereka, mendengarkan satu demi satu keluhan yang disampaikan.

Seorang ibu petani mengungkapkan betapa mereka membutuhkan perhatian agar dapat mengolah sawah dengan lebih baik. Bagi mereka, pertanian bukan hanya sebagai pekerjaan, melainkan sumber penghidupan keluarga.

“Beginilah nasib kami petani di sini Pak. Kami tak berharap banyak. Kedatangan Bapak ke sini saja kami tak pernah menyangka. Pak, kami ingin dilihat. Kami ingin diperhatikan. Kami menggantungkan harapan sama Pak Jamaluddin Idham,” ungkap seorang ibu dengan nada penuh harap dan linangan air mata.

Kalimat itu sederhana. Namun, di baliknya tersimpan beban kehidupan yang tidak ringan.

Jamaluddin Idham duduk bersama masyarakat petani di Simeulue dengan suguhan kepala muda, Senin (26/10/2026). (Foto: T. Rahmat-Afdy-Helman/Ketik)

Bagi sebagian orang, traktor mungkin hanya sebuah mesin. Mesin perontok padi mungkin sekadar peralatan pertanian. Tetapi bagi ibu-ibu di Nancawa, alat-alat tersebut bisa berarti berkurangnya beban pekerjaan, lebih cepatnya proses panen, dan terbukanya peluang untuk meningkatkan penghasilan keluarga.

Mereka juga menyampaikan kebutuhan perbaikan irigasi dan pembangunan jalan usaha tani. Sebab, ketika saluran air tidak memadai dan akses menuju lahan sulit dilalui, pekerjaan yang sudah berat bisa menjadi semakin melelahkan.

Di tengah keterbatasan itu, mereka tetap bertahan. Sawah terus diolah, tanaman terus dirawat, dan harapan terus dipelihara.

Mereka tidak meminta kehidupan mewah. Mereka hanya ingin hasil kerja keras di sawah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan anak, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga.

Ketika Harapan Membuat Mata Berkaca-kaca

Pertemuan itu turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Simeulue Ikhwan Jamil, Kepala Desa Nancawa, ketua kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Di hadapan mereka, Jamaluddin mendengarkan aspirasi yang disampaikan tanpa sekat. Ia memahami bahwa kebutuhan petani bukan hanya soal bantuan alat, tetapi juga menyangkut infrastruktur yang menentukan kelancaran kegiatan pertanian.

Menanggapi keluhan tersebut, Jamaluddin menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan kebutuhan petani melalui koordinasi dengan pihak terkait.

“Insyaallah saya akan berupaya maksimal memperjuangkan bantuan handtraktor, mesin perontok padi, serta kebutuhan lain yang dapat membantu meringankan pekerjaan petani,” kata Jamaluddin.

Ia juga menyatakan akan mendorong pembangunan jalan usaha tani dan melanjutkan pembangunan saluran irigasi sepanjang 250 meter untuk mendukung kelancaran pengairan lahan pertanian.

Bagi ibu-ibu yang duduk di hadapannya, pernyataan itu menghadirkan secercah harapan. Beberapa di antara mereka bahkan meneteskan air mata. Haru dan tak pernah menyangka.

Bukan semata-mata karena mendengar janji bantuan, melainkan karena kesempatan untuk menyampaikan kesulitan hidup mereka secara langsung menjadi sesuatu yang berarti.

Di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah, perhatian dan kesediaan untuk mendengarkan dapat menghadirkan kekuatan baru. Setidaknya, keluh kesah yang selama ini mereka simpan kini telah disampaikan kepada wakil rakyat yang datang menemui mereka.

Namun, Jamaluddin menyadari bahwa perjuangan tidak berhenti pada mendengar dan menyampaikan komitmen.

“Kita ingin petani semakin mudah mengolah lahan, mengelola hasil panen, dan meningkatkan produksi. Aspirasi yang disampaikan hari ini akan kita kawal dan perjuangkan melalui koordinasi dengan pihak terkait agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan ketersediaan program,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa aspirasi masyarakat perlu dikawal agar dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme dan program yang tersedia.

Dari Sawah untuk Masa Depan Anak-Anak

Di balik permintaan handtraktor, mesin perontok padi, jalan usaha tani, dan saluran irigasi, tersimpan harapan yang jauh lebih besar: kehidupan keluarga petani yang lebih layak.

Ada anak-anak yang membutuhkan biaya sekolah. Ada kebutuhan dapur yang harus dipenuhi setiap hari. Ada orang tua yang ingin bekerja tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan tentang bagaimana mencukupi kebutuhan keluarga.

Bagi para ibu petani itu, kesejahteraan bukanlah tentang memiliki banyak harta. Kesejahteraan adalah ketika hasil panen dapat diandalkan, pekerjaan menjadi lebih ringan, dan anak-anak memiliki kesempatan menempuh pendidikan yang lebih baik.

Itulah sebabnya, pertemuan di gubuk persawahan tersebut terasa lebih dari sekadar kunjungan kerja. Ada pergulatan hidup yang terungkap, ada harapan yang disampaikan, dan ada tanggung jawab yang kini harus diperjuangkan.

Jamaluddin menegaskan bahwa pertanian merupakan salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Simeulue. Karena itu, dukungan terhadap petani perlu diarahkan pada kebutuhan nyata di lapangan agar berdampak terhadap produktivitas, kesejahteraan masyarakat, dan ketahanan pangan daerah.

Sebagai anggota DPR RI sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Aceh, ia berharap aspirasi yang dihimpun dari masyarakat dapat menjadi dasar perjuangan untuk mendorong dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Gubuk Sederhana, Kebanggaan yang Tak Ternilai

Tak ada kemewahan dalam pertemuan itu. Para petani menyuguhkan kelapa muda berwarna hijau sebagai bentuk keramahan kepada tamu yang datang. Di tengah hamparan sawah, hidangan sederhana tersebut menjadi bagian dari suasana kekeluargaan.

Jamaluddin duduk bersama mereka, mendengarkan cerita, menerima aspirasi, dan berbicara tentang upaya yang dapat ditempuh untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani.

Bagi masyarakat petani Nancawa, kehadiran seorang anggota DPR RI yang bersedia menempuh jalan sulit dan duduk di gubuk persawahan menjadi pengalaman yang membekas. Mereka dapat menyampaikan sendiri apa yang dibutuhkan, tanpa harus mengemas kesulitan hidup dalam bahasa yang rumit.

Pertemuan itu kemudian ditutup dengan salam-salaman dan foto bersama. Senyum kembali terlihat di antara para petani, meski persoalan yang mereka hadapi belum serta-merta selesai.

Jalan usaha tani masih perlu diperjuangkan. Irigasi masih membutuhkan perhatian. Bantuan alat dan mesin pertanian masih harus dikawal hingga ada kepastian tindak lanjut.

Namun, hari itu mereka telah menyampaikan suara mereka.

Dari sebuah gubuk sederhana di Desa Nancawa, ibu-ibu petani menitipkan harapan tentang masa depan keluarga mereka. Harapan agar pekerjaan di sawah tidak semakin berat, agar hasil panen mampu menopang kehidupan, dan agar anak-anak mereka kelak memiliki masa depan yang lebih cerah.

Di sanalah makna sebuah kunjungan diuji: bukan pada seberapa meriah sambutan yang diterima, melainkan pada seberapa sungguh-sungguh aspirasi masyarakat diperjuangkan setelah pertemuan berakhir.

Bagi ibu-ibu petani Simeulue, hari itu menjadi momen ketika keluh kesah mereka didengar langsung. Bagi Jamaluddin Idham, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap permintaan bantuan terdapat kehidupan keluarga yang menunggu perubahan.

Sebab, bagi mereka yang menggantungkan hidup pada tanah dan musim, satu bantuan yang tepat bukan sekadar alat untuk bekerja. Ia bisa menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih layak, pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak, dan harapan yang tetap menyala di tengah segala keterbatasan.

Dari gubuk reot di tengah sawah, sebuah pesan mengemuka: petani tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan perhatian, dukungan nyata, dan perjuangan yang berujung pada kesejahteraan. (*)