Perempuan Obi Bangun Resiliensi Ekonomi dari Hortikultura

2 Juni 2026 00:17 2 Jun 2026 00:17

Thumbnail Perempuan Obi Bangun Resiliensi Ekonomi dari Hortikultura

Hasil Kebun Kelompok Wanita Tani Binaan Harita Nickel (Dokumentasi: Istimewa)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Di tengah perdebatan industri nikel di Pulau Obi yang kembali mencuat, kehidupan warga di desa-desa lingkar kawasan industri tetap bergerak. Di Desa Soligi dan Kawasi, para perempuan memilih bekerja pelan, merawat kebun, dan menumbuhkan harapan dari tanah desa.

Puluhan perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani atau KWT kini rutin mengelola kebun hortikultura. Di lereng-lereng perbukitan desa, mereka menanam kangkung, cabai, kacang panjang, timun, hingga bayam di atas bedeng tanah yang dikerjakan bersama.

Aktivitas itu kini menjadi ruang ekonomi baru bagi keluarga. Dari kebun yang dirawat setiap hari, sebagian hasil panen mulai dipasarkan untuk kebutuhan lokal dan masuk ke Kawasan Industri Obi yang dikelola Harita Nickel.

“Kami tanam sayur, cabai, kacang panjang. Sayur dikirim ke perusahaan dua kali seminggu,” ujar Ketua KWT Soligi, Jahariya.

Beberapa tahun lalu, sebagian perempuan di Soligi dan Kawasi belum terbiasa dengan pola budidaya hortikultura yang teratur. Pertanian masih banyak berjalan secara tradisional, mengikuti pola kebun turun-temurun yang sudah lama hidup di masyarakat.

Perubahan mulai terasa setelah pendampingan dilakukan melalui program Sekolah Ladang. Kelompok perempuan desa mulai belajar penyemaian bibit, pengelolaan lahan, perawatan tanaman, hingga cara mengendalikan hama secara lebih tertata.

Community Development Supervisor Harita Nickel, Albertus Darukumara, mengatakan sebagian besar anggota kelompok merupakan ibu rumah tangga. Mereka ingin ikut menopang ekonomi keluarga dari sektor pertanian desa.

“Karena banyak laki-laki bekerja di perusahaan atau melaut, ibu-ibu ingin ikut membantu ekonomi keluarga melalui pertanian,” ujarnya.

Menurut Albertus, pendampingan di lapangan tidak hanya mengejar hasil panen. Program itu juga diarahkan untuk membangun pola pertanian yang bisa dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat desa.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sekaligus Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Maluku Utara, Syaiful Bahry, menilai keterlibatan perempuan dalam kegiatan produktif di desa memiliki dampak sosial yang penting.

Menurutnya, ketika perempuan mendapat ruang untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, dampaknya tidak hanya berhenti pada penghasilan. Ada rasa percaya diri, relasi sosial, dan posisi perempuan dalam keluarga yang ikut menguat.

“Ketika perempuan mulai memiliki ruang untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif, dampaknya bukan hanya pada tambahan penghasilan, tetapi juga tumbuhnya kemampuan mengambil peran dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya,” ujar Syaiful.

Ia menilai pemberdayaan masyarakat yang disertai pendampingan dan ruang belajar berkelanjutan dapat membantu warga mengembangkan kapasitasnya. Dari proses itu, potensi ekonomi lokal bisa tumbuh lebih mandiri.

Kini, kelompok perempuan di Soligi dan Kawasi mulai membudidayakan berbagai jenis sayuran dengan kualitas panen yang lebih baik. Pasokan juga mulai lebih stabil karena pola tanam dan pengelolaan kebun dilakukan secara bersama.

Ketua KWT Kawasi, Thofiya, mengaku hasil panen dari lahan mereka di Akelamo ikut membantu kebutuhan pendidikan keluarga.

“Kami bersyukur dari hasil panen bisa bantu biaya sekolah cucu sampai lulus SMA di Bacan,” katanya.

Tokoh masyarakat Desa Soligi, Abu Jaya, menilai keberadaan kelompok perempuan tani mulai membawa perubahan di tengah masyarakat desa. Para ibu kini memiliki kegiatan tetap dan mulai terbiasa bekerja dalam pola kelompok.

“Sekarang ibu-ibu sudah mulai punya kegiatan tetap. Mereka juga mulai belajar mengelola kebun secara kelompok,” ujarnya.

Di tengah derasnya diskusi tentang industri nikel di Pulau Obi, kebun-kebun kecil di Soligi dan Kawasi memberi cerita lain. Di sana, perempuan desa tidak berdiri di tengah perdebatan, tetapi bergerak dalam kerja sunyi yang pelan-pelan menguatkan ekonomi keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.

Tombol Google News

Tags:

Harita Nickel Perempuan Obi Holtikulura Halmahera Selatan Maluku Utara