KETIK, JAKARTA – Melihat hasil akhir, posisi keempat di MotoGP Belanda 2026, 28 Juni 2026, sebenarnya bukan hasil yang buruk untuk Fabio Di Giannantonio.
Tapi dari cara dia bicara setelah balapan, jelas itu bukan perasaan yang ia bawa pulang.
Setelah meraih podium di balapan sprint sehari sebelumnya, pembalap VR46 Ducati itu sempat terlihat punya peluang nyata untuk ikut bertarung di depan pada balapan utama. Bahkan ketika harus menjalani long lap penalty, Diggia masih mampu kembali dan finis sebagai Ducati terbaik di Assen.
Namun justru di situlah rasa penyesalannya muncul.
Dilansir dari wawancara pascabalapan MotoGP, Di Giannantonio mengaku dirinya sempat merasa ada peluang lebih besar dari sekadar finis keempat. Terutama karena beberapa rival mulai kehilangan ritme di paruh kedua balapan.
Baca Juga:
Raul Fernandez Tetap Tersenyum Meski Kehilangan Kemenangan di Assen“Saya pikir hari ini sebenarnya ada kesempatan,” ucapnya.
Kalimat itu mungkin sederhana, tapi cukup menggambarkan suasana hatinya.
Karena kalau melihat jalannya akhir pekan, Assen sebenarnya termasuk salah satu paket paling lengkap yang dimiliki Diggia musim ini: cepat sejak latihan, podium Sprint, lalu tetap kompetitif meski terkena penalti di Grand Prix.
Yang menarik, Diggia juga sempat menyinggaung satu hal yang cukup banyak dibicarakan pembalap akhir pekan ini: perubahan prosedur start MotoGP tanpa penggunaan front holeshot device seperti sebelumnya.
Baca Juga:
Baru Diumumkan Pindah Pabrikan Ducati Musim Depan, Pedro Acosta Gagal Finis di AssenDilansir dari Crash.net, ia mengaku sistem start baru terasa sedikit tidak nyaman dan butuh adaptasi. “Sedikit menakutkan,” ucap Diggia.
Meski begitu, ia juga menegaskan semua pembalap harus beradaptasi dan tidak menjadikan itu sebagai alasan performa.
Ada satu momen lain yang cukup mencuri perhatian di akhir race. Diggia sempat terlibat duel dan insiden kecil dengan Marc Marquez di chicane terakhir. Setelah balapan, keduanya sama-sama menyebut bagian itu memang sangat sulit dan mudah memicu salah perhitungan ketika ban mulai turun performanya.
Pada akhirnya, Assen bukan akhir pekan sempurna untuk Fabio Di Giannantonio.
Tapi di tengah dominasi Aprilia dan cerita besar Trackhouse, dia lagi-lagi menunjukkan satu hal yang mulai konsisten musim ini: kalau ada peluang terbuka di depan, nama Diggia sekarang hampir selalu ikut muncul di sana. (*)