KETIK, BANDUNG – Pengembangan ayam petelur di Jawa Barat mulai diarahkan tidak sekadar pada peningkatan produksi, tetapi juga kepastian pasar. Melalui Program EGG (Endog Jabar Go Global), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat membangun ekosistem usaha dari peternak, pembiayaan, produksi, offtaker hingga pasar ekspor.
Program bertema “Ti Lembur ka Global, Ngawangun Ekonomi Jabar Istimewa” itu merupakan bagian dari Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) dan melanjutkan pengembangan komoditas domba serta sapi perah yang dilakukan pada 2024 dan 2025.
Program EGG menyasar 4.565 pelaku usaha ayam petelur, baik perorangan maupun perseroan, yang tersebar terutama di 21 sentra peternakan di Jawa Barat. Dari sisi pembiayaan, program tersebut diproyeksikan membuka akses perbankan sekitar Rp456,5 miliar bagi pengembangan usaha peternak.
Namun, akses pembiayaan bukan satu-satunya sasaran. OJK dan Pemprov Jabar juga menghubungkan peternak dengan pasar, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung penyediaan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pengembangan ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri jasa keuangan, dunia usaha, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Baca Juga:
Mendikdasmen: Ekonomi Syariah Harus Jadi Penggerak Kesejahteraan, Bukan Sekadar Simpan Pinjam“Pembangunan ekonomi daerah membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri jasa keuangan, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya,” kata Dian dalam kegiatan Implementasi Pengembangan Komoditas Unggulan Ayam Petelur melalui Layanan Inklusi Keuangan di Kantor Bapperida Jawa Barat, Jumat (25/9/2026).
Menurut Dian, pembiayaan harus berjalan bersama pendampingan, literasi keuangan, akses pasar, penguatan kelembagaan usaha, teknologi dan manajemen risiko. Tanpa dukungan tersebut, pembiayaan dinilai belum cukup untuk mendorong produktivitas dan penguatan usaha peternak.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan pengembangan ayam petelur diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dikawal secara berkelanjutan agar berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan peternak.
“Kami berharap pengembangan komoditas ayam petelur tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus dikawal dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Herman.
Baca Juga:
Malang Mbois! UB Juara 1, MAN 2 Kota Malang Juara 3 di ISFO 2026 yang Diikuti 11.952 PesertaKepala OJK Jawa Barat Darwisman mengatakan pendekatan closed loop menjadi bagian penting Program EGG. Model tersebut mempertemukan akses keuangan dengan kepastian pasar, pendampingan dan penguatan rantai nilai.
“Program EGG kami arahkan untuk memastikan akses keuangan berjalan beriringan dengan kepastian pasar, pendampingan, dan penguatan rantai nilai,” kata Darwisman.
Salah satu pasar yang dibidik adalah kebutuhan telur untuk SPPG. Kemitraan tersebut diproyeksikan menghasilkan efisiensi anggaran sekitar Rp4,23 triliun per tahun, dengan penyediaan telur sekitar 10-15 persen lebih rendah dibandingkan harga pasar.
Di luar pasar domestik, Program EGG juga diarahkan membuka pasar Jawa Barat ke luar daerah hingga ekspor. Data semester I 2026 yang disampaikan dalam program tersebut mencatat nilai ekspor fertilized eggs for incubation of fowl atau telur tetas Jawa Barat mencapai US$550,23 ribu, meningkat 513 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Negara tujuan antara lain Myanmar, Brunei Darussalam dan Malaysia.
Pengembangan tidak berhenti pada telur segar. Hilirisasi juga diarahkan ke sejumlah produk bernilai tambah seperti tepung telur, produk sarapan Breggfast, pupuk berbahan cangkang telur dan nutrisi hewan peliharaan.
Diversifikasi tersebut sekaligus diarahkan untuk memperluas pasar dan mengurangi potensi kerugian akibat masa simpan telur ayam yang relatif singkat.
Implementasi Program EGG juga ditandai dengan peresmian ekspor day-old chick (DOC) dari eksportir Jawa Barat, PT Intama Taat Anugerah, ke Timor-Leste serta penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama Pengembangan Peternak Ayam Petelur di Jawa Barat.
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota Komisi XI DPR RI Dapil Jawa Barat V Kabupaten Bogor Mulyadi, Ketua DPRD Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna, pimpinan instansi vertikal, industri jasa keuangan, serta sekitar 150 perwakilan peternak.
Dengan skema tersebut, Program EGG menempatkan peternak sebagai bagian dari rantai usaha yang lebih panjang. Pembiayaan diarahkan masuk ke sisi produksi, sementara SPPG, offtaker, industri pengolahan dan pasar ekspor disiapkan sebagai bagian dari sisi hilir.
Ukuran keberhasilannya pun tidak hanya pada jumlah pembiayaan yang tersalurkan. OJK dan Pemprov Jabar menargetkan ekosistem tersebut berdampak pada produktivitas, penguatan rantai pasok, perluasan pasar dan peningkatan pendapatan peternak.
Dari kandang hingga pasar global, Program EGG kini mencoba mengubah telur dari sekadar komoditas pangan menjadi bagian dari rantai ekonomi Jawa Barat.(*)