KETIK, BOGOR – Teknologi kontrol hormonal reproduksi ikan diperkirakan mampu membawa perubahan besar bagi sektor akuakultur Indonesia. Inovasi tersebut diyakini dapat meningkatkan produksi ikan budi daya sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Agus Oman Sudrajat, mengatakan penerapan teknologi tersebut secara luas berpotensi meningkatkan produksi ikan hingga dua kali lipat dalam 10–20 tahun mendatang.
“Saya optimistis penerapan teknologi ini secara luas akan membawa perubahan besar bagi sektor akuakultur Indonesia. Dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, produksi ikan budi daya diperkirakan dapat meningkat setidaknya dua kali lipat dengan kemampuan reproduksi yang berlangsung sepanjang tahun,” ucapnya, Rabu, 30 Juni 2026.
Menurut Prof Agus, peningkatan produksi tersebut didukung oleh kemampuan teknologi hormonal dalam menjaga proses reproduksi ikan tetap berlangsung meski kondisi lingkungan berubah.
Selain meningkatkan produktivitas hatchery, teknologi ini juga membuka peluang pengembangan spesies ikan budi daya baru serta mendukung konservasi melalui produksi benih untuk kegiatan restocking di perairan alami.
Baca Juga:
Begini Cara Mengatasi Budaya Hujatan di Media Sosial, Pakar Tekankan Literasi DigitalNamun, inovasi tersebut lahir sebagai jawaban atas tantangan perubahan iklim yang selama ini mengganggu reproduksi ikan. Kenaikan suhu perairan menyebabkan pelepasan hormon reproduksi terganggu sehingga banyak induk gagal mencapai kematangan gonad.
“Pernah terjadi pada tahun 2017 saat kemarau panjang, banyak induk ikan budi daya di hatchery tidak matang gonad. Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan pada akhirnya akan diterjemahkan dan direspons oleh hormon di dalam tubuh ikan,” ujarnya.
Melalui teknologi manipulasi hormonal, pembudi daya kini dapat menghasilkan benih sepanjang tahun tanpa harus menunggu musim hujan. Produk teknologi tersebut juga sudah tersedia secara luas sehingga dapat dimanfaatkan oleh pembudi daya skala kecil.
“Inovasi ini memungkinkan pembenih dan pembudi daya menghasilkan benih sepanjang tahun, tidak lagi bergantung pada musim hujan yang selama ini menjadi periode reproduksi alami sebagian besar ikan tropis. Dengan demikian, pasokan benih dapat terjaga dan mendukung peningkatan produksi ikan budi daya secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Baca Juga:
Korban Cyberbullying Bisa Alami Trauma hingga Menarik Diri dari Lingkungan Sosial“Kontrol hormonal reproduksi bukan hanya teknologi untuk meningkatkan produksi, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung keberlanjutan akuakultur, dan menjaga keanekaragaman hayati perikanan Indonesia,” pungkasnya. (*)