KETIK, MALANG – Ballroom Hotel Fairfield Ngurah Rai menjadi saksi bisu kehebatan delegasi asal Kota Malang. Di tengah persaingan ketat 120 peserta dari berbagai kota di penjuru tanah air. Para "kalkulator hidup" asal Bumi Arema, julukan kota Malang, berhasil menyabet berbagai gelar bergengsi dalam ajang Kompetisi Sempoa Tingkat Nasional 2026 (5/7/2026).

Empat delegasi Tangguh, tiga siswa dari SD MISS Malang dan satu dari SD Unggulan Permata Jingga, berhasil membuktikan bahwa penguasaan alat hitung kuno sempoa tetap relevan dan mampu melatih fokus luar biasa di era digital.

Kisah Haru di Balik Podium

Kemenangan ini bukan sekadar soal kecepatan jari. Ada cerita mengharukan di balik layar. Anindya Putri Bestari (SD MISS Malang), Juara 1 Level Basic 1, mengaku sempat gemetar menghadapi soal.

"Tangan saya sempat dingin karena gugup sekali, tapi saya ingat pesan Ibu untuk selalu tenang," ujarnya saat bercerita kepada Ketik.com, 9 Juli 2026.

Baca Juga:
Pendaftaran TKA dan Asesmen Nasional 2026 Dimajukan, Ini Jadwalnya

Ia memiliki "mantra" khusus: tarik napas dalam dan doa yang tak putus. Dukungan penuh sang Ibu, Dania, menjadi kunci mental bajanya.

"Tugas kami sebagai orang tua adalah menjaga atmosfer rumah tetap hangat dan bebas konflik agar anak-anak tidak memikul beban emosional tambahan saat berjuang," ungkap Dania.

Lain lagi dengan Kenzo Amirul Mustain (SD Unggulan Permata Jingga), peraih Juara 3 Level Basic 1. Berbekal sounding positif dari sang Umma, Kenzo justru melangkah ke arena dengan santai.

"Saya tidak takut kalah, yang penting bisa bertemu dan kenalan dengan banyak teman baru yang jago-jago dari seluruh Indonesia," kata Kenzo ceria.

Baca Juga:
Menarik, Siswi dari Prancis Isi Liburan Membatik di Arpus Cilacap

Baginya, persahabatan adalah hadiah terbesar melebihi piala itu sendiri.

Sementara itu, Helvetia Putri Sobara (SD MISS Malang) yang juga meraih Juara 3, harus berjibaku melawan rasa ragu. "Tadi sempat ragu bisa selesai tepat waktu atau tidak, tapi saya coba fokus pada alat sempoa saya saja," tuturnya.

Sang Ayah, Iwa Sobara, menekankan pentingnya kejujuran dan keberanian menantang diri. "Kami selalu sampaikan kepada Helvetia bahwa yang utama adalah kejujuran dalam berproses; menang atau kalah itu bonus dari keberaniannya mencoba hal baru tanpa tekanan hasil," jelas Iwa.

Kejujuran polos datang dari Althaf Kenzie Cahyanto (SD MISS Malang), Juara 5 Level Basic 1. Kenzie mengaku tetap berlatih meski terkadang dilanda rasa malas. "Kadang malas latihan, tapi kalau sudah diajak bercanda sama Ayah dan Bunda sambil main angka, jadi seru lagi," akunya.

Trik pendekatan humor dari orang tuanya terbukti ampuh mencairkan suasana belajar yang kaku hingga ia sukses membawa pulang penghargaan.

Metode Humanis: Rahasia Kecepatan Tanpa Tekanan

Keberhasilan ini tak lepas dari tangan dingin para pendidik. Ms. Sarah Maghvira Firdausi (SD MISS Malang) dan Coach Eny Muyasaroh (Training Center Sempoa YES Indonesia) sepakat bahwa keseimbangan psikologis anak adalah prioritas.

"Prinsip kami adalah lima pilar: percaya diri, penghargaan, keadilan, cinta diri, and kasih sayang. Kesiapan mental yang bahagia adalah kunci utama menghitung cepat tanpa tekanan," tegas Ms. Eny.

Ms. Sarah menambahkan bahwa di tengah gempuran distraksi era digital, sempoa menjadi jangkar bagi anak-anak. "Sempoa bukan sekadar alat hitung, tapi medium untuk melatih ketajaman fokus dan pembentukan karakter disiplin yang sangat krusial bagi generasi cilik saat ini," pungkasnya.

Kemenangan di Bali ini membuktikan bahwa di balik deretan angka rumit sempoa, ada karakter tangguh yang sedang dibangun untuk masa depan bangsa. (*)