KETIK, SUMENEP – Gerakan Pramuka dihadapkan pada tantangan besar untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman. Dewan Kerja Cabang (DKC) Gerakan Pramuka Sumenep bahkan mengangkat pertanyaan tegas: bertahan, berubah, atau ditinggalkan?

Pertanyaan tersebut menjadi tema utama dalam Sarasehan Hari Pramuka 2026 yang digelar DKC Sumenep di Auditorium Jagha Tèmba Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura, Senin, 31 Agustus 2026.

Sarasehan bertajuk “Pramuka 2030: Bertahan, Berubah, atau Ditinggalkan” itu mempertemukan unsur Penegak, Pandega, Pembina hingga Pelatih Pramuka. Empat narasumber dihadirkan untuk membedah tantangan Gerakan Pramuka menghadapi perubahan teknologi dan karakter generasi muda.

Ketua DKC Sumenep Haikal Maulana mengatakan perubahan zaman tidak bisa dihadapi dengan mempertahankan seluruh pola lama. Menurutnya, nilai dasar kepramukaan harus tetap dijaga, tetapi metode dan cara Pramuka berinteraksi dengan generasi muda harus mengikuti perkembangan.

“Jati diri Pramuka tentu harus tetap menjadi pegangan. Tetapi cara kita menyampaikan nilai dan menjalankan kegiatan tidak bisa terus menggunakan pola yang sama. Di situlah inovasi dan kemampuan beradaptasi menjadi penting,” kata Haikal.

Baca Juga:
Rakercab 2026, Pramuka Sumenep Canangkan Bedah 50 RTLH untuk Warga Kurang Mampu

Ia menilai generasi muda saat ini memiliki lingkungan sosial yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi juga telah mengubah cara anak muda belajar, berkomunikasi hingga membangun komunitas.

Karena itu, kata Haikal, Gerakan Pramuka perlu membaca perubahan tersebut agar tidak semakin jauh dari kehidupan generasi muda.

“Pramuka harus hadir di ruang yang memang dekat dengan generasi muda saat ini. Adaptasi diperlukan supaya mereka tetap merasa bahwa Pramuka adalah tempat yang relevan untuk belajar, berkembang dan berorganisasi,” ujarnya.

Jangan Berhenti di Forum Diskusi

Baca Juga:
DKC Sumenep Desak Transparansi Kasus Kekerasan Seksual di Kangean, Usul Satgas Pencegahan di 27 Kecamatan

Ketua Pelaksana Sarasehan, Iron, mengatakan tema yang diangkat bukan sekadar slogan. Menurutnya, pertanyaan tentang masa depan Pramuka perlu dijawab melalui evaluasi dan gagasan yang bisa diterapkan.

“Kami sengaja menggunakan tema yang cukup provokatif agar menjadi bahan renungan bersama. Kita perlu melihat kembali apakah pola yang selama ini berjalan masih mampu menjawab kebutuhan generasi muda hingga 2030,” ujar Iron.

Ia berharap peserta tidak hanya datang untuk mendengarkan pemaparan narasumber. Forum tersebut, kata dia, harus menjadi ruang untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus mencari langkah perubahan.

Iron menegaskan transformasi Pramuka bukan hanya tanggung jawab satu kelompok. Seluruh unsur, mulai dari Penegak, Pandega, Pembina hingga Pelatih, dinilai memiliki peran dalam menentukan wajah Gerakan Pramuka ke depan.

“Perubahan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak. Semua unsur harus terlibat. Kalau ingin Pramuka tetap diminati generasi muda, maka pembaruan harus mulai dilakukan sekarang,” tegasnya.

Teknologi hingga Kebutuhan Anak Muda

Dalam sarasehan tersebut, para narasumber membagikan perspektif mengenai tantangan sekaligus peluang yang dapat dimanfaatkan Gerakan Pramuka.

Pembahasan mencakup pentingnya inovasi kegiatan, pemanfaatan teknologi serta penyusunan program yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda.

DKC Sumenep berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai diskusi seremonial dalam rangka Hari Pramuka. Gagasan yang muncul diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan dikembangkan menjadi langkah nyata bagi Gerakan Pramuka di Kabupaten Sumenep.

Bagi DKC Sumenep, menuju 2030 bukan hanya soal bagaimana Pramuka mempertahankan keberadaannya. Lebih dari itu, Pramuka dituntut berani mengevaluasi diri, beradaptasi dan melakukan transformasi.

Sebab, jika perubahan zaman terus bergerak sementara Pramuka memilih diam, pertanyaan “bertahan, berubah, atau ditinggalkan” bukan lagi sekadar tema sarasehan.(*)