KETIK, SITUBONDO – Suasana berbeda terlihat dalam kegiatan keagamaan yang berlangsung di perairan laut Kedai Siring, Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Rabu 2 September 2026.
Lantunan Salawat Burdah menggema di tengah laut, menciptakan suasana religius sekaligus menjadi simbol doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan para nelayan dalam menangkap ikan di laut serta kemajuan Kabupaten Situbondo.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh KH Azaim Ibrahimy Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo dan diikuti Bupati dan Wakil Bupati Situbondo, para Kepala OPD Pemkab Situbondo, Kasdim Situbondo, Kepala KSOP Kelas IV Panarukan, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, para Camat dan tamu undangan lainnya.
Kegiatan Salawat Burdah yang menggunakan 50 perahu nelayan nelayan tersebut menjadi salah satu momentum bagi jajaran pemerintah daerah bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat untuk bersalawat dan memanjatkan doa bersama agar mendapatkan berkah laut dari Allah SWT.
Pelaksanaan Salawat Burdah di tengah laut ini tidak hanya memiliki makna keagamaan. Akan tetapi, juga menjadi bentuk syukur para nelayan yang mengais rejeki dilautan sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan pesisir Situbondo yang memiliki garis pantai cukup panjang dan menyimpan beragam potensi alam.
Baca Juga:
Perkuat Komitmen terhadap Keselamatan Berkelanjutan, Pertagas Raih 4 Penghargaan IQSA 2026Dengan suasana laut yang cukup tenang, lantunan Salawat Burdah dibacakan secara bersama-sama yang dipimpin oleh KH Azaim Ibrahimy Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo dengan khusyu.
KH Azaim Ibrahimy Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo dalam tausiahnya menyampaikan bahwa, kegiatan pembacaan Salawat Burdah di tengah laut diselenggarakan sebagai bentuk ikhtiar spiritual dalam membentengi wilayah perairan dan memohon keberkahan kepada Allah SWT.
Tradisi membaca salawat dan syi'ran pujian di tengah laut ini dilakukan agar masyarakat tidak hanya fokus mencari bekal kehidupan duniawi saat melaut, tetapi juga memperkuat bekal akhirat. Melalui pembacaan Salawat Burdah, kegiatan ini diharapkan menjadi "pakar benteng" atau pagar batin spiritual untuk melindungi wilayah teritorial kelautan, khususnya di wilayah Situbondo.
KH Azaim Ibrahimy mengingatkan pentingnya menjaga alam dari perbuatan maksiat. Seluruh elemen alam, baik gunung, laut, maupun hutan akan merasa senang apabila dilantunkan pembacaan salawat. Sebaliknya, jika wilayah daratan, pegunungan dan lautan diisi dengan kemaksiatan, maka dikhawatirkan dapat mendatangkan musibah.
Baca Juga:
Bupati Situbondo Dukung Penuh Pengusaha Lokal Memajukan Perekonomian DaerahOleh karena itu, KH Azaim Ibrahimy mengajak kepada seluruh masyarakat untuk terus mengisi wilayah daratan, pegunungan dan perairan dengan kegiatan yang positif keagamaan agar bumi Kabupaten Situbondo mendapat perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, kegiatan keagamaan ini menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang tidak hanya maju secara pembangunan, tetapi juga memiliki landasan spiritual yang kuat.
Menurutnya, salawat dan doa bersama menjadi momentum untuk memohon agar seluruh masyarakat Situbondo senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, ketenteraman, serta keberkahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Salawat Burdah ini menjadi momentum kita bersama untuk bersyukur sekaligus berdoa. Mudah-mudahan Kabupaten Situbondo senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, dan masyarakatnya semakin sejahtera,” ujar Bupati Situbondo.
Lebih lanjut, Bupati Situbondo mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan di tengah laut juga memiliki pesan tersendiri. Laut bukan hanya menjadi bagian dari identitas geografis Situbondo, tetapi juga menyimpan potensi besar yang dapat dikembangkan untuk mendukung perekonomian masyarakat.
“Keberadaan kegiatan keagamaan pembacaan Salawat Burdah di kawasan perairan laut Jangkar ini diharapkan mampu menghadirkan perspektif baru bahwa kawasan laut dapat menjadi ruang untuk berbagai kegiatan positif, termasuk kegiatan spiritual, budaya, maupun promosi potensi daerah,” ujar Bupati Situbondo yang akrab di sapa Mas Rio.
Kabupaten Situbondo, lanjut Mas Rio, memiliki potensi laut yang luar biasa. “Kita ingin potensi laut Situbondo tersebut terus dijaga dan dikembangkan. Bukan hanya untuk pariwisata, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat dan kegiatan keagamaan lainnya,” ujarnya.
Salawat Burdah sendiri, imbuh Mas Rio, merupakan salah satu karya sastra Islam yang dikenal luas di kalangan masyarakat muslim. Pembacaannya kerap dilakukan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan menjadi bagian dari tradisi bersalawat yang berkembang di tengah masyarakat.
Di sisi lain, sambung Mas Rio, pemilihan lokasi pembacaan Salawat Burdah di tengah laut memberikan nuansa tersendiri. Hamparan perairan Situbondo yang menjadi latar kegiatan Salawat Burdah bisa menjadi sarana memperlihatkan potensi wisata bahari Situbondo kepada masyarakat luas.
Pemerintah Kabupaten Situbondo, kata Mas Rio, berkomitmen melestarikan dan memperbesar skala tradisi salawat Burdah sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut sekaligus daya tarik wisata daerah yang potensial.
“Saya menargetkan agar acara ini ke depannya dapat melibatkan komunitas internasional, khususnya perwakilan dari negara-negara sahabat seperti Uzbekistan, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Malaysia,” kata Mas Rio.
Meskipun target partisipasi internasional belum sepenuhnya tercapai, kata Mas Rio pada pelaksanaan tahun ini, tapi tahun-tahun berikutnya Insya Allah perwakilan dari negara-negara sahabat seperti Uzbekistan, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Malaysia bisa datang ke Situbondo untuk mengikuti Salawat Burdah di tengah laut.
Tradisi membaca Salawat Burdah di tengah laut ini menjadi pengingat bagi seluruh manusia agar tidak hanya mengeksploitasi sumber daya laut secara terus-menerus, melainkan harus mengimbanginya rasa syukur dengan kegiatan keagamaan di tengah maupun pinggir laut.
“Selain memperkuat hubungan vertikal (spiritual) dan pelestarian budaya, kegiatan ini diproyeksikan menjadi destinasi wisata religius yang menarik minat pengunjung dari luar daerah Kabupaten Situbondo. Karena dalam pelaksanaan acara ini turut memberikan dampak ekonomi langsung melalui penyediaan ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk mereka kepada para peserta dan penonton,” pungkas Bupati Situbondo. (*)