KETIK, YOGYAKARTA – Lesunya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini ternyata tidak mempan mengerem syahwat konsumsi masyarakat, terutama di sektor gaya hidup.
Pemandangan kontras justru tersaji di berbagai sudut kota. Di saat grafik kurs rupiah melemah, antrean di berbagai coffee shop justru tetap mengular panjang. Fenomena ini menjadi penanda nyata adanya transformasi besar dalam perilaku konsumsi masyarakat urban di tanah air.
Pengamat ekonomi dari Pusat Kajian dan Analisis Ekonomi Nusantara (PKAEN), Edo Segara Gustanto, menilai bahwa ritual minum kopi saat ini sudah bergeser jauh.
Aktivitas tersebut bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan dasar untuk melepas dahaga, melainkan telah bermutasi menjadi bagian dari gaya hidup, ruang aktualisasi sosial, hingga identitas generasi perkotaan.
Alasan kuat inilah yang membuat guncangan eksternal terhadap mata uang Garuda tidak serta-merta menghentikan pengeluaran konsumtif masyarakat, karena hal itu dianggap mampu memberikan kenyamanan psikologis.
"Minum kopi hari ini bukan hanya soal rasa, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya urban. Ini tempat bekerja, berdiskusi, membuat konten, bahkan mencari ruang relaksasi di tengah tekanan ekonomi," kata Edo, di Yogyakarta, Jumat, 29 Mei 2026.
Berburu 'Self-Reward' Lewat Fenomena Lipstick Effect
Edo membedah fenomena unik ini dari kacamata behavioral economics atau ekonomi perilaku. Menurutnya, dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, masyarakat justru memiliki kecenderungan kuat untuk tetap mempertahankan konsumsi-konsumsi berskala kecil. Pengeluaran ini sengaja dilakukan demi mendapatkan efek emosional positif atau yang akrab dikenal sebagai self-reward.
Dalam teori ekonomi, tren anomali ini dikenal dengan istilah lipstick effect. Istilah tersebut menggambarkan perilaku konsumen yang tetap royal membeli barang atau layanan yang memberikan kesenangan kecil demi hiburan diri, justru di kala kondisi ekonomi makro sedang berada di bawah tekanan rupiah.
Baca Juga:
Foto Pocong Viral di Bondowoso Ternyata Editan, Polisi Imbau Warga Bijak BermedsosIlusi Sejahtera di Balik Meja Kedai Kopi
Meski demikian, Edo memberikan catatan tebal. Riuhnya kepulan aroma kopi dan panjangnya antrean di kedai-kedai modern tidak boleh mentah-mentah dijadikan indikator tunggal bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja.
Sebab, di balik potret gaya hidup yang tampak mentereng tersebut, ada tantangan riil dan serius yang sedang membayangi ekonomi domestik. Diantaranya adalah pelemahan daya beli kelompok masyarakat bawah, merangkaknya harga berbagai kebutuhan pokok, serta meningkatnya tekanan ekonomi yang menghimpit kelompok kelas menengah.
"Kita tidak boleh terjebak pada kesimpulan yang simplistis. Coffee shop yang ramai bukan berarti seluruh masyarakat kita sudah sejahtera. Namun, di sisi lain, tidak tepat juga jika masyarakat langsung disalahkan karena mereka tetap memilih nongkrong dan membeli kopi," tegasnya.
PR Pemerintah
Di era sekarang, pergeseran konsumsi gaya hidup ini juga mendapat bensin tambahan dari masifnya perkembangan ekonomi digital dan media sosial. Banyak kaum urban yang kini menyulap coffee shop sebagai ruang kerja alternatif (co-working space), tempat berburu jejaring, hingga sarana eksistensi digital.
Baca Juga:
Wamenkes Soroti Lonjakan Diabetes Remaja, Gaya Hidup Disebut Jadi Pemicu UtamaPola baru inilah yang membuat perilaku konsumsi modern tidak lagi bisa dibaca secara kaku semata-mata dengan pendekatan ekonomi konvensional.
Melihat realitas tersebut, Edo mendorong pemerintah untuk tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat daya beli riil masyarakat tanpa mengabaikan perubahan karakter konsumsi generasi saat ini.
Menurutnya, fokus perhatian pemerintah seharusnya bukan sekadar memelototi ramai atau sepinya pusat konsumsi, melainkan pada aspek yang lebih esensial; yakni kualitas pertumbuhan ekonomi nasional, ketahanan ekonomi kelas menengah, serta tingkat kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
"Fenomena antrean kopi di tengah tekanan rupiah ini menjadi bukti bahwa ekonomi hari ini tidak melulu berbicara soal angka-angka kaku. Ini juga tentang psikologi, gaya hidup, dan perubahan budaya konsumsi masyarakat," pungkasnya. (*)