KETIK, CILACAP – SD Pius Cilacap menggelar kegiatan Gema Bahasa tahun 2026 dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Hari Sumpah Pemuda dan Sevalian Day. Rangkaian kegiatan lomba-lomba diikuti siswa dan siswi mulai lomba menyanyi, mewarnai, fashion show dan lomba pidato.
Ketua penyelenggara Gema Bahasa SD Pius Cilacap, Brigita Yosi Pratiwi menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan untuk melestarikan bahasa dan budaya yang ada di Indonesia.
"Kami memacu anak-anak untuk memiliki jiwa dan semangat Sumpah Pemuda, mampu meningkatkan kreativitas, keberanian serta memupuk rasa percaya diri di depan teman-temannya, orang tua dan khayalak ramai," ujarnya.
Brigita menambahkan, kegiatan tersebut mendapat kunjungan Suster dari Filipina dan Brazil untuk mengamati kegiatan-kegiatan di SD Pius dan Perguruan Pius Cilacap.
Baca Juga:
Dengar Jeritan Nelayan Cilacap, Wapres Gibran Perintahkan Pengerukan Sungai Kaliyasa Sepanjang 14 Km!Diawali dari pembukaan yang disambut dengan menggunakan tiga bahasa yakni Bahasa Inggris, Bahasa Jawa dan Bahasa Mandarin. Kemudian tamu berkeliling sekolah melihat kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah.
salah satu kreativitas yang ditampilkan, adalah Eks School Laudato Si eks school baru di SD Pius yang memproduksi lilin dari minyak jelantah.
Menurut Brigita, penilaian suster dari Filipina dan Brazil terhadap SD Pius sangat bagus, siswa-siswinya sangat antusias dan kreatif, ceria, semangat.
"Suster memberikan dukungan untuk terus meningkatkan pelayanan dan pendidikan dan semakin maju," kata ketua penyelenggara yang juga sebagai Guru Kelas VI SD Pius Cilacap.
Baca Juga:
DPRD Cilacap Suyatno Tinjau Rumah Warga yang Rusak Tertimpa Tembok Bekas Kebakaran Toko RitaSementara, Eks School Laudato Si atau Pecinta Alam seperti Reduce, Reuse, Recycle adalah hierarki pengolahan sampah atau barang-barang yang dianggap tidak berguna diolah menjadi barang yang tepat guna bermanfaat yang bisa digunakan sehari-hari.
"Salah satunya adalah lilin yang terbuat dari minyak jelantah dan hasilnya dapat kita jual dan hasilnya dapat di manfaatkan untuk kegiatan anak-anak," ungkap Brigita.
"Minyak jelantah, minyak bekas setelah dipakai berapa kali lalu dibuang ternyata bisa di daur ulang menjadi barang yang berguna, nantinya lilin yang dihasilkan dijual di wilayah sekolah, guru atau orang tua murid, diharapkan kedepan marketnya bisa meluas," imbuhnya.
Harapannya dengan eks school tersebut, siswa-siswi jadi semakin peduli dengan lingkungan, semakin meningkatkan kesadaran bahwa sampah itu tidak hanya dibuang begitu saja tetapi bisa juga diolah menjadi sesuatu yang berguna dan menghasilkan.
"Selain itu, harapan dari kegiatan Gema Bahasa siswa dan siswi yang sebagai generasi penerus dapat meneruskan semangat Sumpah Pemuda, terus berkreasi, menumbuhkan rasa percaya diri dan bisa menggali potensi sehingga bermanfaat untuk masyarakat, agama dan bangsa," tandas Brigita. (*)