KETIK, JEMBER – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember bergerak cepat menangani dugaan keracunan massal yang diduga berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bupati Jember Muhammad Fawait langsung menginstruksikan seluruh perangkat daerah terkait untuk memastikan seluruh korban memperoleh penanganan medis secara optimal.
Ketua Satgas MBG Jember, Achmad Imam Fauzi, mengatakan laporan dugaan keracunan diterima dari Koordinator Kecamatan (Korcam) MBG Bangsalsari pada Rabu malam, 15 Juli 2026. Informasi tersebut kemudian segera diteruskan kepada dirinya dan Bupati Jember.
Menurut Fauzi, Gus Fawait memberikan perhatian penuh terhadap peristiwa tersebut dan meminta seluruh instansi terkait bergerak cepat memberikan pelayanan kepada para korban.
"Seluruh korban dipastikan mendapatkan pelayanan medis kedaruratan yang terbaik di fasilitas kesehatan. Semua biaya perawatan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah," tandasnya.
Berdasarkan data sementara, korban dugaan keracunan berasal dari berbagai kelompok usia. Mereka terdiri atas tujuh murid taman kanak-kanak (TK), sejumlah siswa sekolah dasar (SD), balita posyandu, hingga beberapa wali murid.
Baca Juga:
Keluarga Pasien Kanker di Jember Harapkan Layanan Perawatan di RumahKorban mengalami beragam gejala, mulai dari diare, mual, sakit perut, pusing, hingga tubuh lemas. Saat ini mereka menjalani perawatan di Puskesmas Sukorejo, Klinik Rowotamtu, dan Puskesmas Paleran. Sementara itu, sejumlah korban dengan kondisi ringan telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa tersebut diduga bermula setelah puluhan penerima mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 1 Karangsono, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari. Paket MBG itu dibagikan pada Selasa, 14 Juli 2026.
Kasus ini mulai menjadi perhatian publik sehari kemudian, Rabu, 15 Juli 2026, setelah sejumlah penerima mengalami gangguan kesehatan. Beberapa korban bahkan harus dilarikan ke fasilitas kesehatan karena kondisi tubuh mereka melemah.
Salah seorang korban, Siti Munawaroh, mengaku mengalami gejala setelah menyantap makanan MBG yang dibawa pulang oleh dua anaknya yang bersekolah di SDN Karangsono dan salah satu TK.
Baca Juga:
Bupati Jember Tinjau Rehabilitasi Irigasi Wonojati, Saluran 260 Meter Ditargetkan Aliri 20 Hektare Sawah"Saya mendapatkan makanan dari anak saya," ujar Siti saat ditemui di ruang perawatan Puskesmas Sukorejo, Kamis, 16 Juli 2026.
Siti menjelaskan, menu yang diterimanya berisi nasi, tempe orak-arik, tumis manis, buah anggur, dan telur puyuh. Ia mengaku sempat mencurigai kondisi telur yang menurutnya mengeluarkan aroma tidak sedap.
"Telurnya bau, padahal sudah saya cuci," katanya.
Tak lama setelah menghabiskan makanan tersebut, Siti mengaku mengalami diare hebat.
"Ya gak tau, tiba-tiba saja saya mancur-mancur (diare hebat)," ungkapnya.
Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para penerima MBG masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang. Sementara itu, pemerintah daerah memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendampingan selama proses penanganan berlangsung. (*)