KETIK, MALANG – Penari spiritual asal Malang, Nyai Roro Dadak Purwo, melahirkan empat buku yang memuat perjalanan hidup, refleksi spiritual, hingga pandangan tentang kehidupan dan perempuan. Seluruh karya tersebut ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya selama bertahun-tahun.
Sosok yang memiliki nama asli Agus Eko Suryanto itu mengaku mulai menulis sejak 2013. Awalnya, ia hanya ingin mendokumentasikan perjalanan hidupnya sebelum akhirnya berkembang menjadi rangkaian buku yang saling berkaitan.
“Aku ingin menuliskan kisah perjalanan hidupku. Akhirnya berkembang menjadi empat buku yang saling berkaitan,” ujarnya.
Empat buku tersebut yakni Biyung Lelo Ledung, Lerem, Tari Spiritual, dan Di Balik Bayangan Perempuan. Masing-masing memiliki tema berbeda, namun tetap terhubung dalam satu perjalanan spiritual yang sama.
Buku Lerem menjadi salah satu karya yang paling emosional baginya. Buku itu menceritakan fase terendah dalam hidupnya hingga proses menerima keadaan, belajar pasrah, dan memahami makna keikhlasan.
Baca Juga:
Nyai Roro Dadak Purwo Kunjungi Graha Ketik, Perkuat Kolaborasi Literasi dan Seni BudayaMenurutnya, kata “lerem” dalam bahasa Jawa memiliki arti menerima dan menenangkan ego agar hidup menjadi lebih jernih.
“Untuk mencapai titik ini sebagai seorang spiritualis itu penuh dengan penderitaan dan tangis,” katanya.
Sementara Biyung Lelo Ledung berisi dokumentasi perjalanan spiritual ke berbagai tempat bersejarah dan situs budaya di Indonesia, mulai dari Jawa Barat hingga Lombok. Buku tersebut dipenuhi foto-foto perjalanan serta kutipan pesan kehidupan yang ditujukan untuk anaknya.
Ia menyebut buku itu sebagai bentuk warisan pemikiran dan kenangan untuk keluarga.
Baca Juga:
Berawal dari Membukukan Skripsi, Dosen Komunikasi UMM Nurudin Konsisten Menulis dan Terbitkan 24 Buku“Kalau suatu saat aku sudah tidak ada, setidaknya anakku tahu pesan-pesan kehidupan yang aku tinggalkan di dalam buku ini,” tuturnya.
Sedangkan Di Balik Bayangan Perempuan menjadi karya yang paling banyak membahas refleksi tentang perempuan dan spiritualitas. Dalam buku itu, ia menuliskan pandangannya mengenai perempuan dalam sejarah, mitologi, hingga relasi maskulinitas dan femininitas dalam kehidupan manusia.
Menurutnya, buku tersebut lahir dari perjalanan panjang yang membawanya memahami banyak sisi kehidupan dan cara pandang baru mengenai hubungan laki-laki dan perempuan di era modern.
Keempat buku tersebut disebut saling berkesinambungan layaknya sebuah sekuel perjalanan hidup. Selain menjadi media refleksi pribadi, karya-karya itu juga diharapkan dapat membuka sudut pandang pembaca tentang spiritualitas, kehidupan, dan pengalaman manusia memahami dirinya sendiri. (*)