KETIK, CILACAP – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami terus diperkuat di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Salah satunya melalui kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami 2026 yang diinisiasi Anggota Komisi V DPR RI Novita Wijayanti bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Banjarnegara.

Novita menilai edukasi kebencanaan perlu diperbanyak di Cilacap karena wilayah tersebut memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.

Selain itu, Cilacap memiliki banyak nelayan serta menjadi salah satu daerah lumbung padi di Jawa Tengah sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi hal penting untuk melindungi keselamatan warga sekaligus mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi.

"Maka dari itu, kegiatan seperti ini kalau bisa diperbanyak di Cilacap karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Nanti untuk titiknya bisa pilih di mana, dan pesertanya kita ajak yang memang memiliki kapabilitas dan bisa menyalurkan ilmunya," ujar Novita.

Baca Juga:
Hadapi Potensi Tsunami, Novita Wijayanti Gandeng Kementerian PU Bangun Shelter Rp83 Miliar di Cilacap

Menurutnya, karakteristik wilayah Cilacap membutuhkan perhatian khusus dalam upaya mitigasi bencana.

Karena itu, program edukasi dan informasi kebencanaan dari BMKG dinilai penting untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Kabupaten Cilacap rawan bencana alam begitupun adanya potensi gempa, tsunami, dengan memiliki nelayan yang banyak serta merupakan lumbung padi. Maka dari itu, tiga program yang ada di BMKG semuanya dibutuhkan di Kabupaten Cilacap. Kita berharap BMKG terus mengadakan kegiatan seperti ini dan kalau bisa diperbanyak, dengan peserta yang memiliki kapabilitas untuk menyalurkan ilmu kepada masyarakat luas,” tutur Novita.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, menyampaikan bahwa potensi tsunami di Kabupaten Cilacap perlu diantisipasi dengan kesiapsiagaan yang memadai.

Baca Juga:
Legislator Novita Wijayanti Resmikan Program PISEW di Bantarsari Cilacap

Ia menyebut ketinggian tsunami berpotensi mencapai 15 meter, dengan perkiraan waktu tempuh 45–50 menit.

Kondisi tersebut, menurut Ana, menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk memahami langkah penyelamatan diri ketika menghadapi ancaman tsunami.

"Jadi perlu kesiapsiagaan bencana dari masyarakat, pertama yaitu pengetahuan yang cukup kepada masyarakat, kedua pemahaman, dan ketiga simulasi," kata Ana.

Melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami 2026, peserta mendapatkan materi kebencanaan, mengikuti diskusi, serta menjalani simulasi gempa bumi di dalam ruangan.

Kegiatan juga dilengkapi latihan evakuasi dari kawasan pantai menuju lokasi aman.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Taryo, yang hadir mewakili Pelaksana Tugas Bupati Cilacap, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, sekolah lapang membantu pemerintah daerah, khususnya BPBD, dalam memperkuat mitigasi bencana melalui peningkatan pengetahuan masyarakat.

"Atas nama pemerintah daerah, kami tentu sangat berterimakasih kepada pemerintah pusat, BMKG dan disupport juga oleh beliau Ibu Novita Wijayanti anggota DPR RI, yang telah mengadakan berbagai kegiatan salah satunya sekolah lapang cuaca," ujar Taryo.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah David Ishaq Aryadi, Wakil Ketua DPRD Cilacap Suyatno, Ketua Fraksi Gerindra Purwati, Anggota DPRD Cilacap Kiki Anggoro, perwakilan PT S2P, Basarnas Cilacap, serta Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cilacap Selatan.

Melalui kegiatan ini, peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan latihan evakuasi diharapkan dapat membantu masyarakat Cilacap mengambil langkah yang tepat saat menghadapi ancaman gempa bumi maupun tsunami.(*)