KETIK, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) memperingati Hari Air Sedunia sebagai kelanjutan dari misi global. Momen ini sekaligus menjadi upaya untuk menyuarakan isu air bersama UNESCO.
Wakil Rektor IV UB, Prof Andi Kurniawan, menjelaskan, Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO mempercayakan UB untuk menerjemahkan ringkasan eksekutif dari laporan PBB tentang perkembangan air dunia atau World Water Development Report 2026.
"Terjemahan dalam Bahasa Indonesia ini sudah dikirim ke Paris dan dilaunching bersama bahasa resmi UNESCO lain pada 19 Maret 2026," ujarnya, Senin, 11 Mei 2026.
UB menindaklanjuti kegiatan tersebut dengan menggelar kuliah tamu bertema Water Future for All 2026, dan subtema 'Alirkan Keadilan: Bijak Gunakan Air, Beri Ruang untuk Sesama'. Prof Andi menjelaskan melalui kuliah tamu, UB turut mengkampanyekan isu-isu yang berkaitan dengan pengelolaan dan keberlanjutan sumber daya air.
"UB mengambil tema Sustainable Ecohydrological Approach for Coastal Resources Management sebagai salah satu keunggulan komparatif. Pak Rektor memberikan izin untuk mengangkat tema ini menjadi salah satu proyek Globalizing UB yang akan terus dilakukan, disupport sebagai program prioritas beliau," katanya.
Baca Juga:
Kuliah Tamu di UB, Viktor Laiskodat Soroti Pentingnya Suara Gen Z dalam Partai PolitikTema tersebut akan diintegrasikan untuk mendukung kegiatan bersama UNESCO maupun kegiatan green campus. Bahkan UB juga berfokus untuk memasukkan tema-tema tersebut dalam kurikulum perkuliahan.
"Hari ini kita membutuhkan level baru dari pendidikan kewarganegaraan, dari civic literacy. Kesadaran akan lingkungan, terutama aspek-aspek global, itu sudah menjadi keharusan untuk masuk ke civic literacy," jelasnya.
Upaya tersebut sekaligus menerjemahkan program Kampus Berdampak untuk membawa kekuatan ilmu pengetahuan ke dalam aspek kehidupan bermasyarakat. Mengingat kelestarian air masih menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat, khususnya di Malang Raya.
"Ada banyak sekali problem lingkungan air, dari banjir sampai kehilangan mata air yang kita hadapi. Ini adalah bagian Universitas Brawijaya untuk lebih terstruktur merespons dan berkontribusi itu semua. Pada akhirnya bagian dari strategi memberikan dampak ke negeri, bangsa dan negara," ungkapnya.
Baca Juga:
UNESCO Bongkar Minimnya Pelibatan Perempuan dalam Pengambilan Kebijakan Pengelolaan AirSementara itu Ir Ananto Kusuma Seta dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO memberikan apresiasi sebab UB menjadi penggerak kerja sama dengan UNESCO.
"UB satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang berani menampilkan diri untuk menggelorakan isu-isu UNESCO di dalam program-program internal," ujarnya.
UB juga dalam proses mendaftarkan diri sebagai warga universitas dunia di UNESCO melalui program UNESCO Chair. Program tersebut tak hanya meningkatkan pamor UB di level dunia, namun internasionalisasi program melalui UNESCO.
"Intinya adalah UB tidak sekadar nama. Di situ ada tanggung jawab, nilai, seperti dulu Brawijaya di era Majapahit. Dulu kita menjadi pusat keunggulan peradaban di Nusantara dan dunia, maka sekarang sudah waktunya mengembalikan kejayaan itu dengan isu-isu UNESCO," pungkasnya. (*)