Beberapa kali menyeduh kopi di UMKM Milenial Tembal Bacan Selatan, saya membawa pulang satu pertanyaan.

Mengapa tempat yang mempertemukan orang dengan beragam kesibukan ini belum menawarkan buku untuk dibaca? Setiap kali datang, saya tak menemukan bacaan yang bisa menemani jeda. Belum ada pula ruang yang mengajak pengunjung belajar dan memperkaya pengetahuan.

Dari pengalaman sederhana itulah gagasan tentang perpustakaan mulai tumbuh. Saya membayangkan orang datang ke Tembal bukan hanya untuk membeli makanan dan minuman. Mereka juga dapat memilih buku, membaca beberapa halaman, berbincang, lalu kembali dengan pengetahuan baru.

Gagasan ini terasa relevan ketika pemberitaan membicarakan sepinya pengunjung UMKM Milenial Tembal. Kabar tersebut patut menjadi bahan evaluasi, tetapi keadaan sebuah kawasan tak cukup dinilai dari kesan sesaat. Jumlah kunjungan, transaksi, produk yang diminati, waktu ramai, dan pembelian ulang dapat dicatat untuk mengenali kondisi dengan lebih utuh. Sebab pengunjung belum tentu menjadi pembeli. Ada yang datang untuk melihat-lihat, sementara pelaku usaha mungkin memiliki pelanggan yang berbelanja lebih banyak atau datang kembali.

Angka dan catatan sederhana dapat membantu membedakan persoalan kunjungan dari persoalan penjualan.

Baca Juga:
Puluhan LC di Obi Jalani Skrining HIV, Satpol PP Halsel Ancam Tutup Kafe

Masukan tentang rasa, harga, kebersihan, pelayanan, serta pilihan produk tetap perlu diperhatikan. Namun, keluhan akan lebih berguna jika dilihat polanya dan disandingkan dengan pengalaman konsumen lainnya. Kritik yang terukur dapat menjadi bahan pembenahan, bukan cap yang dilekatkan kepada pedagang.

Pengalaman berkunjung juga dibentuk oleh banyak hal. Akses, penerangan, tempat duduk, kebersihan, petunjuk lokasi, dan promosi turut menentukan kenyamanan. Perbaikannya memerlukan keterlibatan pemerintah, pengelola, komunitas, serta pelaku usaha.

Di antara berbagai kemungkinan itu, saya ingin menawarkan satu gagasan, yakni menjadikan UMKM Milenial Tembal sebagai poros literasi sekaligus ekonomi.

Bukan perpustakaan sementara yang hadir hanya ketika ada perayaan atau agenda besar. Yang dibutuhkan adalah perpustakaan tetap, terbuka bagi semua kalangan, dengan layanan yang teratur dan koleksi buku berkualitas. Ruang ini bisa menjadi tempat anak-anak, pelajar, mahasiswa, keluarga, dan masyarakat umum membaca serta belajar.

Baca Juga:
Black Coffee, Sudut Hangat Bacan untuk Kopi dan Silaturahmi

Koleksinya perlu disusun dengan cermat. Bacaan anak dapat berdampingan dengan buku pengetahuan, sastra, sejarah lokal, kewirausahaan, pertanian, kelautan, dan keterampilan. Dinas yang membidangi perpustakaan dapat membantu pemilihan dan pengelolaan koleksi, sementara sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, PWI, dunia usaha, dan masyarakat bisa ikut mendukung.

Perpustakaan yang menetap memberi manfaat karena pengunjung tahu kapan ruang itu dapat digunakan. Kegiatan seperti diskusi buku, membaca bersama, atau kelas kreatif dapat memperkaya suasana, tetapi akses terhadap buku tetap menjadi inti layanannya, bukan bergantung pada acara tertentu.

Jika dikelola konsisten, Tembal berpeluang tumbuh menjadi salah satu sentral membaca di Halmahera Selatan. Orang dapat menikmati bacaan, bertukar pikiran, lalu membeli sajian dari pelaku UMKM. Pengetahuan dan kegiatan ekonomi bertemu di satu ruang yang sama.

Untuk memulainya, para mitra perlu menyepakati jam layanan, penanggung jawab, aturan peminjaman, serta cara merawat buku. Perkembangan program dapat ditinjau dari jumlah pembaca, kunjungan, transaksi usaha, dan tanggapan masyarakat. Evaluasi itu dapat menunjukkan bagian yang berhasil dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Literasi bukan satu-satunya kebutuhan. Mutu usaha juga perlu tumbuh. Pedagang dapat menjaga rasa dan kualitas produk, menampilkan harga dengan jelas, mempertahankan kebersihan, serta menggunakan media sosial untuk mengenalkan dagangannya.

Catatan omzet, produk terlaris, waktu penjualan, dan respons pelanggan membantu mereka menentukan langkah berikutnya.

Saat menyeduh kopi di Tembal, bayangan itu terasa dekat. Seorang pengunjung mungkin memilih buku, duduk membaca, kemudian memesan sajian dari pedagang sekitar. Kegiatan sederhana tersebut dapat membuat kunjungan memiliki lebih banyak arti.

UMKM Milenial Tembal dapat menjadi tempat orang berbelanja, berkumpul, dan belajar. Dengan perpustakaan tetap yang menyajikan bacaan bermutu bagi semua kalangan, ruang usaha ini berpeluang ikut menggerakkan ekonomi sekaligus menumbuhkan budaya membaca di Halmahera Selatan.