KETIK, MALANG – Marak terjadi percobaan bunuh diri khususnya yang dilakukan oleh mahasiswa di Kota Malang. Menyoroti hal tersebut, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengimbau agar masyarakat dan mahasiswa dapat memanfaatkan layanan konseling yang tersedia di Puskesmas. 

Wahyu menjelaskan pencegahan upaya bunuh diri menjadi salah satu sorotan saat melakukan pertemuan dengan para rektor. Bahkan beberapa perguruan tinggi sudah melaksanakan antisipasi tindakan upaya bunuh diri. 

"Kalau yang di kita, Puskesmas sudah terbuka, ada layanan yang mereka bisa dapatkan terkait dengan tekanan-tekanan jiwa. Kita ada, tiap Puskesmas ada layanan konseling," ujarnya, Selasa 15 September 2026. 

Menurut Wahyu, penanganan di Puskesmas dilakukan secara bertahap sesuai kondisi yang dialami pasien. Jika kondisi dinilai semakin parah, pasien akan mendapatkan tindak lanjut sesuai kebutuhan.

"Ada laporan dari Pak Kadinkes, bahwa terdapat tahapan-tahapannya. Jadi, apabila dalam kondisj tertentu maka tahapan dan solusinya seperti ini. Jadi apabila parah, nanti ada tindak lanjutnya. Tapi di Puskesmas semua sudah terbuka," lanjutnya. 

Baca Juga:
Hari Terakhir Relokasi Pedagang Pasar Gadang, DPRD Kota Malang Minta Fasilitas Dasar Dipastikan Siap

Selain itu, Pemkot Malang juga telah melakukan upaya pemagaran pada beberapa jembatan. Hal tersebut dilakukan mengingat kerap dilakukan upaya bunuh diri khususnya di Jembatan Suhat dan Tunggulmas. 

"Contohnya kan jembatan-jembatan sudah kita tinggi-tinggikan. Akhirnya ada satu bunuh diri tidak dari jembatan, tapi dengan cara-cara yang lain. Nah, itu kan mencari terus," sebutnya. 

Wahyu meminta agar perguruan tinggi dapat merespon dengan baik kondisi mahasiswa agar percobaan bunuh diri tidak kembali terjadi. Tenaga ahli maupun psikolog harus terus digencarkan untuk memberikan pendampingan akan kesehatan mental mahasiswa. 

"Kita sudah melakukan pendekatan dengan para rektor untuk bisa melaksanakan satu antisipasi. Sebetulnya mereka pahami bahwa ini permasalahannya tidak dari luar, tapi internal. Salah satunya permasalahan perkuliahan dan lainnya," katanya.

Baca Juga:
Perempuan Tanpa Identitas Tewas Tertabrak Kereta, Sempat Diteriaki Warga

Kampus diminta tidak hanya melakukan screening kesehatan mental di awal masa penerimaan mahasiswa baru, namun secara bertahap hingga masa-masa akhir perkuliahan. Menurutnya banyak mahasiswa yang tertekan ketika masih proses menyelesaikan tugas akhir. 

"Screening ini ya tentu apabila ada mahasiswa yang kelihatannya sudah mencurigakan, harus ada pendekatan. Kadang kala mereka tertutup, tidak mau terbuka. Nah, kami berharap ada hal-hal yang menjadi satu kepedulian dari perguruan tinggi," tuturnya. (*)