KETIK, SURABAYA – Secara umum, jalanan Kota Surabaya tampak sama dari hari ke hari. Ya ramai, padat, bahkan macet jika jam berangkat maupun pulang kerja di titik-titik tertentu.
Terlebih di kawasan persimpangan, baik simpang tiga, empat, lima atau lebih. Ada lampu lalu lintas untuk mengurai dan mengendalikan kemacetan. Di sekitarnya, dulu terlihat pot-pot bunga dari bekas kaleng cat ukuran 25 kilogram. Berjajar dan berjarak sekitar 1 meter antarpot di atas trotoar pembatas tengah jalan.
Di atas pot beraneka warna, tampak tanaman yang rupanya bernama Lidah Mertua. Secara kasat mata memang tidak menarik dan membuat warga bertanya-tanya alasan memilih tanaman berbentuk lancip memanjang tersebut.
Tapi ternyata, di balik semua itu terdapat manfaat luar biasa. Tanaman Lidah Mertua ternyata efektif dalam menyerap karbon dan sangat berpengaruh menjaga kualitas udara Kota Pahlawan. Tanaman yang dipilih bukan hanya aspek estetika atau keindahan, tapi mengutamakan aspek ekologis. Tampilan kurang indah, tapi mampu menyerap polutan lebih banyak.
Di bawah kendali Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat itu, Pemerintah Kota rutin menanam tanaman Lidah Mertua, bahkan sejak 2014. Tanaman ini terbukti mampu membuat kualitas udara menjadi lebih baik.
Baca Juga:
Serunya Menghias Buah Teknik Carving di Hotel Sheraton Surabaya, Asah Kekompakan Ibu dan anakSelama lima tahun atau pada periodesasi kedua Tri Rismaharini menjadi wali kota, pihaknya sudah menanam 15 ribu Lidah Mertua. Itu berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya.
Lidah Mettua termasuk tanaman berbunga dalam keluarga asparagus yang berasal dari Afrika. Jenis yang ditanam di Kota Pahlawan adalah Lidah Mertua Varigata. Ciri khas dari jenis ini adalah dari warnanya yang kuning dan hijau. Terdapat pula jenis Lidah Mertua Kodok. Jenis ini memiliki daun yang ukurannya lebih pendek. Pasokannya dari daerah tetangga, yaitu Malang dan Kediri. Lantas, mulai 2019, Pemkot Surabaya membudidayakan Lidah Mertua secara mandiri di Kebun Bibit.
Tanaman lidah mertua yang ditanam Pemkot Surabaya memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida CO2 lebih banyak hingga menghasilkan banyak oksigen. “Lidah Mertua mampu berfontosintesis walau sinar matahari kurang,” ujar seorang aktivis lingkungan beberapa waktu lalu.
Tapi kini, Lidah Mertua sudah hampir jarang ditemui. Di trotoar-trotoar titik-titik lampu lalu lintas juga nyaris tidak ada. Pantauan di sejumlah jalan protokol, seperti Jalan Kusuma Bangsa, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Raya Darmo hingga sekitaran Wonokromo dan Ahmad Yani juga “bersih” dari Lidah Mertua.
Baca Juga:
Film Pendek Maya Angkat Isu Krisis Identitas di Balik Ambisi, Tayang Perdana di BSM Rental SurabayaBahkan, di kawasan pinggiran, terutama di Surabaya Utara yang dulu dipenuhi Lidah Mertua kini juga tidak tampak. Di trotoar pembatas jalan tak ada tanaman, tak ada pula pot berwarna-warni. Kosong melompong.
Surabaya saat ini memang terkenal dengan tanamannya, bunganya dan hiasan-hiasan dedaunan luar biasa. Tapi, wajib juga diingat, ekologis tak butuh penampilan semata, melainkan manfaat dan dampaknya bagi makhluk hidup penghuni kota, mulai manusia, hewan hingga tanaman lainnya.
Manfaat Lidah Mertua
Diolah dari berbagai sumber, berikut manfaat tanaman Lidah Mertua:
1. Menghasilkan Oksigen Berlimpah
Tanaman ini memiliki banyak klorofil yang mendukung proses fotosintesis berlangsung lebih cepat. Nampu melakukan proses metabolisme asam crassulacean, yang bisa “menukar” karbon dioksida dan oksigen. Proses ini hanya dapat dilakukan oleh sebagian kecil spesies tanaman yang ada di dunia dan membuat oksigen yang sudah disimpan, akan dilepaskan saat stomata dibuka pada malam hari. Hal ini berbeda dengan kebanyakan tanaman yang terus menerus bertukar gas di siang hari.
2. Mengusir Racun
Tanaman ini dipercaya dapat menyerap berbagai racun di udara. Menurut Penelitian Udara Bersih NASA, Lidah Mertua memiliki kualitas yang sangat baik untuk melakukan penyaringan udara dalam ruangan. Lidah Mertua dinyatakan dapat menghilangkan 4 dari 5 racun utama yang menyebabkan penyakit dalam ruangan. Tanaman ini mampu menyerap bahan beracun seperti formaldehid, benzana, dan trikhloroetana yang kurang baik untuk tubuh manusia. Meski cocok diletakan di dalam ruangan. Namun, Lidah Mertua harus tetap mendapat asupan cahaya matahari dan air secara rutin.
3. Menyerap Radiasi
Lidah Mertua juga bisa menyerap radiasi yang biasa ditemukan pada produk elektronik seperti, komputer dan televisi. Untuk memperoleh manfaat ini, tanaman bisa diletakkan di dekat barang-barang elektronik. Selain menyerap radiasi, juga menambah nilai estetika ruangan.
4. Pengharum Alami
Memiliki aromanya yang khas dan sangat cocok untuk menghilangkan bau tidak sedap, seperti di toilet atau dapur. Bunganya juga menghasilkan aroma menenangkan. Mekar setiap sore, juga bisa dijadikan aromaterapi yang dinilai mampu meredakan stres.
Tentu dengan berbagai manfaat tersebut, Lidah Mertua sangat cocok ditanam di kota seperti Surabaya. Kota yang sudah memiliki image sebagai kota terpanas dengan suhu lembab. Belum lagi kepadatan arus lalu lintasnya, penduduk yang tinggal di kawasan padat penduduk, serta tak pernah berehentinya aktivitas sehari semalam.
Kini, Pemkot Surabaya meski telah berganti kepemimpinan, tak ada salahnya mencoba kembali memperbanyak tanaman Lidah Mertua. Jika dulu tampilan kurang estetik maka dengan alat serta teknologi zaman now, tanaman tersebut bakal terlihat lebih indah dan sedap dipandang mata. (*)