KETIK, MALANG – Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk Sekolah Rakyat dan pendataan bantuan sosial (bansos). Solusi tersebut terealisasi melalui program AI Talent Factory (AITF) yang digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
Program tersebut diikuti oleh mahasiswa dari UB, UGM, dan ITS. UB sendiri memfokuskan pengembangan pada sistem pendukung pembelajaran Sekolah Rakyat serta pemetaan data kemiskinan dan bantuan sosial.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI, Robben Rico, menjelaskan bahwa AITF mendorong mahasiswa menciptakan terobosan luar biasa berbasis kecerdasan buatan. Terobosan tersebut diharapkan dapat membantu program pemerintah dan mempermudah perencanaan hingga implementasi di lapangan.
"Tadi kita melihat anak-anak mempresentasikan sesuatu yang menurut saya cukup luar biasa. Kita makin optimistis terhadap sumber daya manusia, yang sebetulnya tinggal kita kolaborasikan bersama," ujarnya, Selasa, 30 Juni 20206.
Implementasi AI pada program Sekolah Rakyat dinilai mampu membantu guru dalam menyusun kurikulum, proses pembelajaran, hingga merancang soal untuk pre-test dan post-test. Dengan demikian, kinerja guru dan kepala sekolah semakin dipermudah sehingga persiapan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal.
Baca Juga:
Universitas Brawijaya Matangkan Audit Internal ISO 31000"Secara prinsip, tata kelola itu dimulai dari hulu hingga hilir. Ini salah satu contoh yang nanti akan kita kembangkan. Kita sudah sepakat dengan Pak Rektor dan teman-teman semuanya bahwa dari sini kita akan mulai mengaplikasikannya ke 178 Sekolah Rakyat yang beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027," sebutnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menjelaskan bahwa inovasi yang diusung masing-masing kampus memiliki fokus yang berbeda.
UB berfokus pada pengembangan solusi untuk Sekolah Rakyat dan bansos. Sementara itu, ITS membantu Kementerian Komdigi dalam perlindungan anak di ruang digital, sedangkan UGM mendukung Direktorat Jenderal KPPM Komdigi dalam pengembangan media analitik.
"Intinya adalah ini merupakan kolaborasi bersama seluruh stakeholder, baik pemerintah, perguruan tinggi, maupun industri. Semoga ke depan para alumni yang telah lulus dari program ini memiliki kemampuan yang lebih baik untuk melanjutkan tugas akhirnya," jelasnya.
Baca Juga:
Empat Spesies Baru Kumbang Ambrosia dan Kulit Kayu Ditemukan di UB Forest, Peluang Jadi Pusat Penelitian BiodiversitasDekan Filkom UB, Tri Astoto Kurniawan, menjelaskan bahwa peserta batch 1 AITF telah menyelesaikan program dan mengikuti final graduation. Program tersebut menantang mahasiswa untuk menghadapi persoalan nyata yang dihadapi pemerintah dan masyarakat.
"Ada dua use case yang cukup menantang dan kompleks, yaitu Sekolah Rakyat dengan konsep personalized learning yang sangat kompleks. Kemudian yang kedua adalah terkait pemetaan bansos dan data kemiskinan. Jadi, kami sangat bersyukur bahwa akhirnya batch 1 tahun 2025 telah selesai. Kami bangga terhadap mahasiswa yang di tengah tekanan yang cukup ketat tetap mampu berkolaborasi antar tim," jelasnya.
Dalam menjawab tantangan Sekolah Rakyat, Filkom UB mengirimkan enam tim, sedangkan untuk pengembangan solusi bansos terdapat empat tim.
"Jadi, selain kemampuan teknis atau hard skill yang dapat mereka asah dengan baik, soft skill seperti kerja sama, saling berbagi, dan saling mendukung juga berkembang luar biasa. Mereka mendapatkan pengalaman yang cukup lengkap di sini," pungkasnya.