KETIK, YOGYAKARTA – Di tengah gelombang modernisasi tata kota dan bayang-bayang ancaman bencana alam yang terus membayangi wilayah Indonesia, isu ketahanan bangunan kembali menjadi sorotan.

Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Komisariat Daerah (Komda) DI Yogyakarta mengambil langkah nyata dengan menggelar ajang tahunan bertajuk Expo, Seminar & Short Course (ESS) 2026.

Perhelatan ini akan dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 17 hingga 18 November 2026 di Grand Rohan Hotel Yogyakarta. Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, forum ini mengangkat tema spesifik "Evaluasi dan Rehabilitasi Seismik Bangunan Eksisting" dengan berbagai aspek tinjauan teknis mulai dari perencanaan, penilaian, pemantauan, hingga perbaikan struktur.

Penyelenggaraan ESS tahun ini membawa daya tarik yang kuat bagi para pelaku industri konstruksi di tanah air. Panitia menghadirkan langsung jajaran pakar nasional dan tim penyusun yang terlibat aktif merumuskan Standar Nasional Indonesia (SNI) terbaru.

Kehadiran para perumus regulasi ini memberi kesempatan bagi para peserta untuk memahami alur berpikir serta filosofi dasar di balik pembentukan aturan teknis tersebut.

Ketua I HAKI Pusat, Ir Moch Arif Toto Rahardjo M Eng ASEAN Eng, Sabtu 7 November 2026, menekankan pentingnya pemahaman dasar dalam menghadapi proses pembaruan bangunan eksisting.

Menurut dia, penanganan struktur bangunan yang sudah berdiri tidak bisa disamakan dengan perencanaan bangunan baru. Proses evaluasi yang menyeluruh dan presisi merupakan syarat mutlak sebelum melangkah ke tahap tindakan fisik atau rehabilitasi.

"Teknologi berkembang. Metode analisis berkembang. Standar pun berkembang. Tetapi prinsip engineering tetap sama: evaluasi harus dilakukan sebelum menentukan tindakan," kata Ir Moch Arif Toto Rahardjo yang akrab dipanggil Toto.

Ia menjelaskan lebih rinci bahwa kehadiran perangkat lunak pemodelan yang canggih maupun pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) memang mempercepat proses perhitungan.

Namun demikian, kontrol utama dan pengambilan keputusan akhir atas keandalan bangunan tetap berada sepenuhnya di tangan para insinyur. Keahlian (engineering judgment) seorang profesional tidak bisa digantikan oleh mesin, terutama saat harus membaca kondisi nyata di lapangan dan dinamika struktur bangunan.

Toto juga menyoroti terbitnya regulasi teknis anyar, yakni SNI 9274:2025. Aturan tersebut memuat panduan komprehensif mengenai tata cara rehabilitasi seismik dan metode peningkatan performa bangunan gedung.

Regulasi ini dinilai sangat penting sebagai acuan kerja bagi para praktisi sipil dalam mengukur kelayakan gedung-gedung yang berada di kawasan rawan gempa. Salah satu contoh konkret yang disinggung adalah kondisi geografis wilayah DI Yogyakarta.

Kawasan ini dilintasi oleh dua struktur sesar aktif, yang memiliki potensi risiko cukup tinggi. Bangunan-bangunan yang berdiri dalam radius dekat dengan sesar aktif memerlukan metode evaluasi dan perlakuan teknis yang sangat khusus.

Urgensi Evaluasi Struktur dan Kehadiran Regulasi Baru

Penataan ketahanan bangunan eksisting kini menjadi agenda mendesak, terutama untuk memenuhi syarat Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang menjamin keamanan penghuni gedung.

Evaluasi mendalam terhadap kondisi struktur menjadi fondasi utama sebelum pemilik gedung maupun konsultan menentukan langkah perkuatan. Pentingnya evaluasi ini sangat terasa di wilayah DI Yogyakarta yang memiliki jejak sejarah kelam akibat bencana alam gempa bumi 27 Mei 2006 silam.

Baca Juga:
Transformasi Digital Berbuah Manis, Pengurusan PBG dan SLF di Sleman Mulus dan Transparan

Tragedi tersebut menjadi pengingat berharga bagi masyarakat dan pelaku konstruksi untuk selalu bersahabat serta mewaspadai pergerakan sesar aktif.Kondisi geologi Yogyakarta terbilang unik karena diapit oleh pertemuan dua jalur sesar utama, yaitu Sesar Oya dan Sesar Opak, yang membentang hingga radius puluhan kilometer dan melintasi kawasan perkotaan.

Untuk bangunan gedung yang berada pada radius dekat atau di bawah 10 kilometer dari jalur sesar ini, analisis struktur serta upaya peningkatan performa gempa memerlukan perlakuan teknis dan standar evaluasi yang jauh lebih khusus dibandingkan bangunan di wilayah lain.

Pembaruan peta gempa nasional 2024 serta hadirnya SNI 9274:2025 menjadi jawaban atas kebutuhan standar keamanan modern tersebut.

Selain itu, evaluasi ini juga bertujuan untuk menyentuh bangunan non-teknis atau bangunan perumahan warga di wilayah rawan seperti Bantul dan sekitarnya agar memiliki standar ketahanan yang lebih baik.

Baca Juga:
Pastikan Keamanan Bangunan, Tim Forensik FT UB Uji Kekuatan Struktur MTsN 1 Kota Malang

Melalui pemahaman yang komprehensif, para pemilik bangunan dan konsultan dapat memastikan bahwa gedung-gedung perkotaan maupun fasilitas publik benar-benar siap menghadapi potensi ancaman gempa secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua HAKI Komda DI Yogyakarta, Dr Ir Hery Kristiyanto ST MT, dalam suasana santai penuh keakraban saat membahas persiapan ajang ESS 2026.(Foto:HAKI DIY)

Senada dengan hal tersebut, Ketua HAKI Komda DI Yogyakarta, Dr Ir Hery Kristiyanto ST MT, menguatkan pentingnya penyelarasan antara kemajuan teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Keterampilan para pakar dan praktisi lokal harus terus diasah agar mampu beradaptasi dengan tren perkembangan industri tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

"Saat ini, teknologi dan Artificial Intelligence (AI) semakin membantu proses pengolahan data, analisis, hingga assessment struktur secara lebih cepat dan presisi. Namun, teknologi tetap merupakan alat bantu. Hasil analisis harus dirumuskan dan dipertimbangkan secara profesional oleh para engineer sebelum menjadi dasar pengambilan keputusan teknis," ujar Dr Ir Hery Kristiyanto ST MT.

Hery menambahkan bahwa ajang ESS 2026 ini dirancang bukan sekadar sebagai agenda seminar biasa, melainkan tempat berbagi pengetahuan. Forum ini mempertemukan sudut pandang akademis dari kampus dengan pengalaman lapangan para praktisi serta pelaku industri.

Sebagai langkah keberlanjutan, HAKI juga menyiapkan program pelatihan berkesinambungan melalui HAKI Academy untuk memastikan para insinyur dan pelaku jasa konstruksi terus mendapatkan penyegaran materi teknis secara berkala.

Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menyelaraskan penerapan standar keselamatan gedung secara konsisten di lapangan.

Deretan Pakar Nasional dan Pejabat Pembuka Acara

Ajang ini kian istimewa berkat kehadiran jajaran narasumber papan atas nasional yang menguasai bidangnya masing-masing. Sesi pembuka (opening remarks) dijadwalkan akan disampaikan oleh Ir Luthfi Faisal dari Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum RI.

Nantinya, Ir Luthfi Faisal disiapkan untuk membawakan materi bertajuk "Dilema dan Solusi Infrastruktur Urban: Adaptasi Standar Teknis Gempa yang Berkelanjutan," yang mengupas tantangan infrastruktur perkotaan di tengah kebutuhan standar ketahanan gempa.

Selain itu, forum ini akan menghadirkan enam narasumber utama dengan latar belakang akademik serta kepakaran profesional yang saling melengkapi. Para narasumber tersebut meliputi Prof Ir Iswandi Imran MA Sc PhD, selaku Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Ketua Umum HAKI, sekaligus Anggota Tim Kebijakan Perumusan SNI 9274:2025 yang dijadwalkan mengupas metode evaluasi seismik dan strategi rehabilitasi jembatan eksisting.

Selanjutnya terdapat Prof Ir Bambang Suhendro M Sc PhD IPU, Guru Besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada di bidang Dinamika Struktur dan Rekayasa Gempa yang disiapkan memaparkan asesmen jembatan bentang panjang (cable-stayed) akibat beban gempa pada masa konstruksi.

Pemaparan juga akan diisi oleh Prof Ir Iman Satyarno ME PhD IPU, Guru Besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada yang berfokus pada materi pengunduhan dan pengelolaan rekaman gerak tanah untuk analisis seismik.

Sesi berikutnya menghadirkan Ir Steffie Tumilar M Eng, ahli struktur berpengalaman yang disiapkan untuk mengulas evolusi ketentuan struktur beton ACI 318 (SNI 2847) dan ASCE 41 (SNI 9273) beserta contoh evaluasi bangunan gedung.

Nama lain yang akan hadir adalah Ir Davy Sukamta IP U, Direktur PT Davy Sukamta Konsultan sekaligus Ketua Tim Pelaksana Perumusan SNI 9274:2025 yang akan membawakan materi evaluasi, rehabilitasi seismik gedung eksisting, serta aplikasinya untuk gedung tiga lantai.

Sesi diskusi ini bakal ditutup oleh Dr Ir Aksan Kawanda ST MT IPM ASEAN Eng, ahli geoteknik dan dosen Universitas Trisakti yang siap mengupas tuntas mitos atau fakta dunia bawah tanah serta perancangan geoteknik.

Antusiasme peserta tergolong tinggi. Hingga 6 November 2026, tercatat 132 peserta dari berbagai daerah telah mendaftar, termasuk perwakilan dari Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bekasi, dan Bandung. Hal ini menunjukkan besarnya perhatian kalangan profesional terhadap isu keselamatan struktur.

Secara keseluruhan, rangkaian Expo, Seminar & Short Course 2026 menjadi wujud komitmen berkelanjutan HAKI Komda DI Yogyakarta dalam mengawal profesionalisme para insinyur.
Melalui pemahaman materi yang mendalam dari para pakar serta penguasaan standar teknis SNI terbaru, forum ini berfokus pada penguatan etika profesi insinyur.

Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya pembangunan infrastruktur Indonesia yang jauh lebih kokoh, aman, andal, dan berkelanjutan. (*)