KETIK, PONOROGO – SMK Negeri 2 Ponorogo kembali menunjukkan kualitas pendidikan vokasi melalui partisipasinya dalam Street Fashion Carnival yang menjadi bagian dari rangkaian Ponorogo Creative Festival 2026.
Pada ajang yang digelar di Jalan Alun-Alun Utara, depan Paseban Ponorogo, Kamis malam, 6 Agustus 2026, para siswa menampilkan koleksi busana bertema Oversized Asimetris hasil karya sendiri.
Penampilan tersebut mendapat perhatian ribuan pengunjung yang memadati kawasan festival.
Koleksi busana mengusung siluet oversized dengan potongan asimetris bernuansa modern yang dipadukan dengan kekayaan wastra Indonesia, seperti batik, tenun, dan lurik.
Kepala SMKN 2 Ponorogo, Suryanto, mengatakan keikutsertaan sekolah dalam ajang tersebut menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis proyek atau project based learning yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik sesuai standar industri kreatif.
Baca Juga:
500 Cyclist Ramaikan KAI Ngebel KOM 2026, Diikuti 210 Komunikasi hingga 7 Negara"Kami ingin masyarakat melihat bahwa karya yang ditampilkan merupakan hasil kreativitas dan proses pembelajaran murid. Mereka terlibat mulai dari perancangan desain, produksi busana, tata rias, hingga presentasi karya di atas panggung. Inilah implementasi pendidikan vokasi yang mengedepankan kompetensi, kolaborasi, dan pengalaman nyata," ujarnya, Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, seluruh koleksi yang ditampilkan merupakan hasil karya siswa Konsentrasi Keahlian Desain dan Produksi Busana.
Sementara itu, penampilan para model semakin menarik berkat sentuhan tata rias dan penataan rambut yang dikerjakan oleh siswa Konsentrasi Keahlian Tata Kecantikan Kulit dan Rambut.
Adapun peragaan busana dilakukan oleh anggota Ekstrakurikuler Fashion Show di bawah pendampingan guru pembimbing.
Baca Juga:
KAI Daop 7 Madiun Hadirkan Diskon Tiket Kereta Api hingga 20 Persen di Event Gowes Ngebelkom, Ini Cara PesannyaSuryanto menyebut seluruh proses persiapan dilakukan secara bertahap selama beberapa pekan, mulai dari penyusunan konsep desain, proses produksi, penyempurnaan detail busana, fitting, hingga latihan koreografi.
Menurutnya, seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang mengacu pada budaya kerja industri sehingga siswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga pengalaman praktik secara langsung.
Tema Oversized Asimetris dipilih sebagai simbol keberanian siswa dalam bereksplorasi di dunia fesyen. Siluet oversized menghadirkan kesan modern dan dinamis, sedangkan potongan asimetris menggambarkan keberagaman yang berpadu dalam harmoni.
Dominasi warna merah dan hitam juga menjadi identitas visual koleksi tersebut.
Warna merah melambangkan semangat serta keberanian, sedangkan hitam mencerminkan ketegasan, kekuatan, dan karakter budaya Ponorogo.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMKN 2 Ponorogo, Tarmin, menambahkan bahwa keikutsertaan dalam Ponorogo Creative Festival menjadi strategi sekolah untuk memperluas eksposur karya peserta didik sekaligus memperkuat hubungan dengan dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat.
"Festival ini menjadi ruang bagi murid untuk menunjukkan kompetensi yang dimiliki sekaligus membangun kepercayaan diri melalui pengalaman tampil di ruang publik. Kolaborasi antarkonsentrasi keahlian dalam kegiatan ini mencerminkan implementasi pembelajaran vokasi yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan industri," ungkapnya.
Melalui partisipasi dalam Street Fashion Carnival Ponorogo Creative Festival 2026, SMKN 2 Ponorogo berharap mampu terus mencetak lulusan yang kompeten, kreatif, adaptif, serta siap bersaing di industri kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas bangsa.(*)