KETIK, JAKARTA – Jorge Martin kembali menunjukkan mentalitas juara di Red Bull Ring. Sempat terlempar ke posisi kedelapan pada lap pembuka, rider Aprilia itu justru mengakhiri Sprint MotoGP Austria 2026 sebagai pemenang, 19 September 2026.

Kemenangan tersebut datang dengan cara yang cukup dramatis. Martin memang mendapat keuntungan setelah Pedro Acosta terjatuh ketika sedang memimpin, tetapi sebelum itu ia sudah melakukan pekerjaan besar dengan memangkas posisi demi posisi dan kembali ke barisan depan.

Martin mengawali Sprint dari pole position setelah mengalahkan Marc Marquez dengan selisih hanya 0,015 detik pada kualifikasi. Namun, keunggulan tersebut langsung hilang ketika lampu start padam.

Marc menyerang Martin di awal lap dan keduanya sempat berjalan berdampingan. Martin kemudian melebar dan kehilangan sejumlah posisi hingga turun ke P8. Situasi tersebut membuat kemenangan yang sebelumnya terlihat sangat mungkin justru terasa jauh.

Namun Martin tidak panik.

Baca Juga:
Kemenangan di Depan Mata Hilang, Acosta: Saya Mengacaukannya

Ia mulai melakukan recovery. Satu per satu pembalap dilewatinya, termasuk Marc Marquez yang akhirnya kembali menjadi salah satu target utama Martin.

Dilansir dari GPOne, Martin mengaku sangat frustrasi setelah lap pertama. Tetapi rasa frustrasi tersebut justru membuatnya semakin agresif.

“Frustrasi saya pada lap pertama membuat saya menyerang sekeras yang saya bisa.”

Martin kemudian berhasil melewati Marc sekitar tujuh atau delapan lap setelah insiden awal dan kembali berada di posisi kedua. Ia juga merasa memiliki kecepatan yang cukup untuk bertarung memperebutkan kemenangan.

Baca Juga:
Jorge Martin Lakukan Comeback Epic di Balapan Sprint GP Austria

“Saya memberikan semuanya, mengatur ban dengan luar biasa dan mengerem dengan keras. Saya punya kecepatan yang luar biasa dan sangat senang.”

Masalahnya, Pedro Acosta masih berada jauh di depan.

Rider KTM tersebut sempat mendominasi Sprint dan membangun keunggulan hampir tiga detik. Dengan hanya beberapa lap tersisa, Acosta terlihat berada di jalur yang tepat untuk meraih kemenangan MotoGP pertamanya.

Tetapi semuanya berubah di Tikungan 2.

Acosta kehilangan kendali dan masuk gravel ketika Sprint menyisakan sekitar tiga lap. Martin pun mewarisi posisi pertama.

Kali ini ia tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Martin menjaga jarak dari Marc dan akhirnya memenangkan Sprint dengan keunggulan 1,026 detik. Marco Bezzecchi finis ketiga, diikuti Ai Ogura dan Alex Marquez.

Martin mengakui bahwa crash Acosta memang memberikan keuntungan besar.

“Kalau Acosta tidak jatuh, saya tidak akan menang. Saya mungkin akan finis kedua.”

Namun, pembalap Aprilia itu tidak ingin kemenangan tersebut semata-mata dianggap sebagai hadiah dari kesalahan rival.

Pasalnya, sebelum Acosta terjatuh, Martin sudah berhasil memangkas gap dan kembali ke posisi kedua setelah sempat berada di P8.

MotoGP.com bahkan menggambarkan comeback Martin dari P8 sebagai salah satu sorotan utama Sprint Austria.

“Saya tidak pernah lupa bagaimana cara membalap,” kata Martin kepada GPOne.

Martin juga merasa semakin memahami karakter Aprilia yang dikendarainya. Menurutnya, koneksi dengan motor kini semakin baik dan hal tersebut membantunya tampil lebih percaya diri.

“Saya semakin mengenal motor ini dan itu membantu saya mendapatkan lebih banyak kepercayaan diri.”

Yang menarik, Martin juga mengungkap bahwa kondisi lengannya masih menjadi perhatian setelah mengalami masalah compartment syndrome/arm pump di Misano. Namun, setelah Sprint Austria, ia mengatakan kondisinya jauh lebih baik dibanding akhir pekan sebelumnya dan belum melihat kebutuhan operasi sebagai sesuatu yang pasti.

Kemenangan ini sekaligus mengembalikan Martin ke puncak klasemen MotoGP 2026.

Sebelum Sprint, Martin dan Marc sama-sama mengoleksi 274 poin. Setelah mendapatkan tambahan 12 poin, Martin kini mengumpulkan 286 poin, unggul tiga angka atas Marc.

Artinya, hanya dalam satu Sprint, posisi teratas kembali berpindah tangan.

Dan Martin tahu betul bahwa pertarungan ini masih panjang.

“Saya mencoba menikmati momen ini sekarang, karena pada akhirnya inilah yang akan saya ingat ketika sudah pensiun,” ujarnya.

Sprint Austria akhirnya menjadi cerita tentang dua hal: kesalahan Acosta dan comeback Martin.

Tetapi jika melihat bagaimana Martin bangkit dari P8, menyalip Marc, mengelola ban, lalu menjaga kemenangan setelah mendapat peluang dari crash Acosta, kemenangan ini tetap menunjukkan satu hal penting.

Martinator belum kehilangan kecepatannya. Dan perebutan gelar 2026 kembali berada di tangannya. (*)