KETIK, MALANG – Kota Malang mencatat inflasi bulanan sebesar 0,34 persen (month-to-month/mtm) pada Juni 2026. Salah satu pemicu utama inflasi ini adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Indra Kuspriyadi, menjelaskan bahwa peningkatan harga pada kelompok transportasi memberikan andil sebesar 0,31 persen (mtm), di mana kenaikan harga bensin menyumbang inflasi sebesar 0,22 persen (mtm).

"Berdasarkan komoditas penyusunnya, inflasi bersumber terutama bersumber dari kenaikan harga bensin 0,22 persen, bawang merah 0,06 persen, angkutan udara 0,03 persen, bawang putih 0,02 persen, dan telepon seluler 0,01 persen (mtm)," ujarnya, Sabtu, 4 Juli 2026.

Penyesuaian harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo pada 10 Juni 2026, menjadi faktor pemicu utama. Selain itu, kenaikan harga bawang merah terjadi akibat keterbatasan pasokan sebelum masa panen raya.

"Kalau untuk peningkatan harga bawang putih didorong oleh kenaikan biaya impor seiring pelemahan nilai tukar rupiah," lanjutnya.

Baca Juga:
Mahakarya unik nan menarik disuguhkan oleh 22 seniman lintas daerah di Art Meru, Kota Malang. Melalui pameran bertajuk Mukadimah, para seniman menyambut pengunjung dengan ruang-ruang kontempl

Indra menjelaskan bahwa angka inflasi tersebut mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, inflasi tahunan Kota Malang sebesar 3,16 persen (year-on-year/yoy) tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi Provinsi Jawa Timur sebesar 3,36 persen (yoy) dan inflasi nasional sebesar 3,34 persen (yoy).

"Kondisi tersebut mencerminkan perkembangan harga di Kota Malang tetap terkendali di tengah meningkatnya tekanan inflasi pada tingkat regional dan nasional," katanya.

Di sisi lain, tingkat inflasi di Kota Malang berhasil diredam oleh sejumlah komoditas yang mengalami deflasi, di antaranya daging ayam ras sebesar -0,07 persen, cabai rawit -0,04 persen, udang basah -0,03 persen, serta emas perhiasan -0,02 persen (mtm).

"Penurunan harga daging ayam ras, cabai rawit dan udang basah dipengaruhi oleh meningkatnya pasokan di tengah kondisi produksi yang memadai, sehingga mendorong normalisasi harga di tingkat konsumen. Harga emas perhiasan mengalami penurunan sejalan dengan koreksi harga emas di pasar global," jelasnya. (*)

Baca Juga:
Rayakan HUT ke-19, Rektor Ma Chung Tekankan Visi Menjadi Teladan Masyarakat