KETIK, MALANG – Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Umi Sumbulah menilai kehadiran Tiyo Ardianto, aktivis dan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) UIN Malang sebagai upaya membangun sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Dalam kegiatan forum yang digelar oleh Prodi HTN UIN Malang, Tiyo Ardianto hadir sebagai salah satu narasumber. Selama dialog berlangsung, ia berhasil memantik semangat krtis mahasiswa. Tentunya ini menjadi suatu hal yang cukup baik, di mana mahasiswa harus memiliki jiwa kritis pada pemerintah, khususnya mahasiswa HTN.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Umi Sumbulah menanggapi dengan baik. Ia menilai mahasiswa memang harus memiliki sikap kritis pada pemerintah, namun tetap dengan etika dalam mengkritik. 

Menurut Prof. Umi Sumbulah, dalam mengkritik kebijakan pemerintah, yang terpenting adalah tidak provokatif dan tetap berdasarkan pada hukum konstitusi. Ia menuturkan bahwa mahasiswa HTN memang harus dalam koridor hukum dan konstitusi. Ia menyebut bahwa demokrasi dibangun dengan penyeimbang.

"Jadi kritik terhadap pemerintah itu ya tetap harus konstitusional, tidak provokatif, tidak merusak, tetapi tetap membangun," ujarnya.

Baca Juga:
UIN Malang Raih Rekor MURI sebagai Kampus dengan Guru Besar Bahasa Arab Terbanyak

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Prof. Umi Sumbulah juga menuturkan bahwa mahasiswa bisa menjadi penyeimbang pemerintahan. Mereka mewakili pemuda dan juga rakyat Indonesia.

Ia menilai kegiatan dengan mendatangkan aktivis UGM tersebut bisa menjadikan inspirasi mahasiswa untuk membangun negara dengan lebih baik dan tetap berdasarkan pada jalur konstitusional.

Ia juga menyampaikan bahwa pemuda merupakan pemimpin masa depan bangsa. Saat ini, para pemuda sedang berjuang belajar di perkuliahan, tetapi 20 tahun lagi, mereka mungkin bisa menjadi pejabat publik atau pakar dan ahli hukum.

Oleh karena itu, Prof. Umi Sumbulah menegaskan agar para pemuda dapat menjadikan momentum Sumpah pemuda sebagai komitmen diri untuk membangun kompetensi, mengatur organisasi dalam kampus, hingga menyampaikan ide-ide segarnya dalam membangun bangsa dan negara.

Baca Juga:
Membanggakan! UIN Malang Sabet Rekor MURI Berkat 3.000 Lebih Mahasiswa Penghafal Al-Quran

"Karena saya yakin bahwa semua orang itu punya kompetensi, punya kontribusi untuk negara ini, tidak hanya pemerintah, tidak hanya ASN, tetapi mahasiswa juga bisa berkarya, mereka belajar dengan baik, mereka meningkatkan kompetensi dirinya dengan baik, membangun kapasitas dirinya dengan baik, kapasitas leadershipnya," tegasnya.

Ia juga menekankan soft skill pada mahasiswa, serta jiwa kepemimpinan yang tetap berdasarkan pada hukum dan jalur konstitusional. 

"Termasuk ketika teman-teman HTN mendatangkan Mas Tiyo, itu untuk menginspirasi, membakar semangat, bahwa di sana banyak sekali hal yang harus diperbaiki, tetapi kan tentu kapasitasnya sebagai mahasiswa," tutur Prof. Umi Sumbulah.

Dalam hal ini, Prof. Umi Sumbulah berpesan agar mahasiswa bisa memanfaatkan masa muda dengan hal yang positif. Sehingga, mereka bisa juga menjadi baik di masa tua.