KETIK, SLEMAN – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) bergerak cepat membentengi wilayahnya dari ancaman penyakit Hantavirus. Walau hingga memasuki pertengahan Mei 2026 ini Bumi Sembada masih mencatatkan nol kasus alias nihil temuan pasien positif, Dinas Kesehatan Sleman enggan kecolongan.

Langkah mitigasi diperketat seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat dan potensi penyebaran virus mematikan yang dibawa oleh hewan pengerat tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Cahya Purnama, MKes, Senin, 11 Mei 2026, menegaskan bahwa pemetaan risiko sudah dilakukan secara menyeluruh dan sistematis. Pihaknya telah merampungkan survei populasi tikus (rodent survey) di berbagai titik strategis yang dinilai memiliki risiko tinggi.

Fokus pengawasan diarahkan pada kawasan pemukiman padat penduduk, area perkantoran, hingga lahan pertanian luas yang secara geografis menjadi habitat ideal bagi tikus.

Melalui metode trapping atau pemasangan perangkap di dalam rumah, pekarangan, hingga area persawahan dan bantaran sungai, Dinkes berupaya memastikan apakah terdapat transmisi virus dari hewan ke lingkungan sekitar.

Langkah ini di nilai penting mengingat tahun 2026 menjadi periode penguatan surveilans setelah temuan kasus Leptospirosis juga dipantau secara ketat di wilayah yang sama.

"Hingga detik ini, kami bersyukur hasil pemeriksaan laboratorium terhadap tikus-tikus yang kami pantau di titik rawan menunjukkan hasil negatif Hantavirus. Namun, status nihil ini jangan membuat kita terlena," tegas dr Cahya, kepada Ketik.com.

Menurutnya, pemetaan zona rawan tetap merujuk pada grafik sebaran kasus zoonosis tahun-tahun sebelumnya guna memastikan setiap intervensi yang diambil pemerintah tepat sasaran.

Ancaman Lebih Fatal

Satu hal yang menjadi perhatian serius dr.Cahya adalah karakteristik klinis Hantavirus yang jauh lebih berbahaya dibandingkan Leptospirosis atau penyakit kencing tikus. Secara medis, kedua penyakit ini memang memiliki kemiripan gejala awal, tapi penyebab dan jalur penularannya memiliki perbedaan fundamental. Jika Leptospirosis dipicu oleh infeksi bakteri, Hantavirus murni disebabkan oleh virus yang hingga kini belum memiliki obat spesifik atau antiviral khusus.

Perbedaan mencolok juga terlihat pada metode pengobatan. Pasien yang terjangkit Leptospirosis dapat diberikan antibiotik, sementara pasien Hantavirus hanya bisa mengandalkan terapi suportif sesuai gejala untuk membantu daya tahan tubuh bertahan.

Dokter Cahya memperingatkan bahwa tingkat fatalitas atau case fatality rate Hantavirus secara medis tercatat lebih tinggi. Hal ini menuntut kecepatan diagnosa agar pasien tidak jatuh ke dalam kondisi kritis yang sulit tertolong.

Kewaspadaan ekstra juga diminta karena Hantavirus tidak hanya menular lewat kontak langsung dengan cairan tubuh atau feses tikus, tetapi juga memiliki kemampuan menular melalui udara atau airborne. Partikel virus yang mengering dalam kotoran tikus dapat terhirup oleh manusia saat membersihkan ruangan yang kotor. Kondisi ini membuat potensi paparan menjadi jauh lebih luas dan tidak terduga.

Sinergi dan Edukasi

Baca Juga:
SELAMAT! Tim Milik Presiden Prabowo "Garudayaksa FC" Juara Liga 2 Pegadaian Championship

Menghadapi potensi wabah ini, Pemkab Sleman tidak bekerja sendirian. Melalui Tim Koordinasi Daerah (Tikorda), Dinkes berkolaborasi lintas sektor dengan Dinas Pertanian, BPBD, hingga Dinas Lingkungan Hidup. Sinergi ini bertujuan untuk melakukan pengendalian populasi tikus secara massal melalui forum diskusi kelompok (FGD) dan aksi lapangan. Selain itu, kesiapan tenaga medis di tingkat Puskesmas terus diasah agar jeli mengenali gejala suspek seperti demam tinggi, nyeri badan, lemas, hingga kondisi jaundice atau kuning.

Sebagai garda terakhir, dr Cahya menekankan bahwa kekuatan utama pencegahan ada di tangan masyarakat melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Warga diimbau untuk tidak memberikan ruang sedikit pun bagi tikus untuk bersarang di lingkungan rumah.

Langkah preventif seperti menutup rapat wadah makanan, memastikan sumber air bersih tidak tercemar, hingga mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di area berisiko menjadi kewajiban. Bagi warga yang bekerja di ladang atau area terbuka, penggunaan alas kaki dan penutupan luka terbuka dengan perban kedap air sangat disarankan.

"Kami minta warga tetap tenang namun selalu waspada. Jika ditemukan populasi tikus yang tidak terkendali di lingkungan kerja atau rumah, segera lakukan pemberantasan dan koordinasikan dengan petugas," pungkasnya.

Dengan pengawasan ketat dari hulu hingga hilir, Sleman optimistis dapat mempertahankan status bebas Hantavirus sepanjang tahun ini. (*)

Baca Juga:
Tekan Volume Sampah Plastik, Sleman Galakkan Penggunaan Besek di Iduladha 1447 H