KETIK, MALANG – Dinas Kesehatan Kabupaten Malang mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele gigitan maupun cakaran kucing. 

Meski terlihat hanya menimbulkan luka kecil, kondisi tersebut tetap berisiko menjadi jalan masuk virus rabies jika hewan yang menyerang terinfeksi.

Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, dr. Titis Ari Respatilatsih, menegaskan penanganan pertama setelah tergigit atau tercakar hewan penular rabies sangat menentukan dalam mencegah infeksi berkembang menjadi penyakit yang mematikan.

Menurutnya, virus rabies tidak hanya menular melalui gigitan. Cakaran hingga jilatan pada mata, mulut, maupun kulit yang terluka juga dapat menjadi media penularan.

"Kadang memang tidak luka besar, hanya ada luka sedikit. Tetapi itu juga bisa menjadi pintu masuk virus tersebut," ujarnya saat menjadi narasumber dalam Lokakarya Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat, Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru: Penguatan Mekanisme Penanganan Hoaks Kesehatan di Puskesmas Tumpang Malang.

Baca Juga:
Dugaan Korupsi Mobil Ambulans Canggih Rp8,4 M, Kejari Geledah Kantor Dinkes Kabupaten Malang

dr. Titis menjelaskan gejala awal rabies sering kali sulit dikenali karena menyerupai penyakit biasa. Penderita dapat mengalami demam, nyeri, kesemutan, atau sensasi terbakar di area bekas gigitan maupun cakaran.

Apabila tidak segera ditangani, virus akan menyerang sistem saraf dan memicu gejala yang lebih berat, seperti gelisah, agresif, takut air (hidrofobia), takut cahaya, takut hembusan angin, hingga kelumpuhan.

"Kalau virus sudah menyerang otot pernapasan, itu bisa menyebabkan kematian," jelasnya.

Ia menambahkan masa inkubasi rabies cukup panjang, berkisar antara dua minggu hingga dua tahun. Namun, sebagian besar penderita mulai menunjukkan gejala dalam rentang tiga hingga delapan minggu setelah terpapar virus.

Baca Juga:
Waspada Campak! Simak 8 Tips Mudik Sehat dari Dinkes Kabupaten Malang Agar Lebaran Tetap Ceria

Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu gejala muncul sebelum mencari pertolongan medis. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir, kemudian memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

"Segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir, kemudian periksa ke fasilitas kesehatan jika tergigit, tercakar, atau terkena jilatan hewan yang dicurigai menularkan rabies," tegasnya.

Selain mengingatkan pentingnya penanganan dini, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang juga mencatat tren kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang terus meningkat. 

Pada 2022 terdapat enam kasus, kemudian naik menjadi 24 kasus pada 2023, meningkat lagi menjadi 52 kasus pada 2024, dan melonjak hingga 116 kasus sepanjang 2025.

Sementara itu, hingga 22 Juli 2026, jumlah kasus GHPR telah mencapai 127 kasus atau melampaui total kasus sepanjang tahun sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan laporan gigitan hewan penular rabies pada 2026 paling banyak berasal dari kucing dengan persentase sekitar 52 persen. Disusul anjing sekitar 35 persen, kera sekitar 11 persen, dan sisanya berasal dari hewan lainnya.

Meski demikian, dr. Titis mengingatkan masyarakat agar tidak salah menafsirkan data tersebut. Secara epidemiologi, sekitar 99 persen kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing yang terinfeksi virus rabies.

"Semua gigitan maupun cakaran hewan yang dicurigai membawa virus rabies harus ditangani dengan serius. Jangan hanya karena lukanya kecil lalu dianggap aman," katanya.

Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Selain rabies, kelompok penyakit ini juga mencakup leptospirosis, antraks, dan flu burung.

Menurut dr. Titis, sekitar 70 persen penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases) yang berpotensi memicu wabah berasal dari zoonosis. Karena itu, kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan dari hewan perlu terus ditingkatkan.

"Jangan menunggu gejala muncul. Penanganan yang cepat setelah gigitan menjadi langkah penting untuk mencegah rabies berkembang menjadi penyakit yang mematikan," pungkasnya.(*)