KETIK, MALANG – Suasana kebersamaan telah diciptakan dalam melaksanakan penyembelihan hewan kurban di Hari Raya Iduladha. Akademisi Sosiologi Universitas Negeri Malang (UM) menilai momentum ini menjadi gerakan sosial yang memperkuat empati, pemerataan kesejahteraan, ketahanan sosial masyarakat, hingga menumbuhkan rasa kemanusiaan pada generasi muda.
Gaya hidup modern semakin individualisme, momentum Iduladha menjadi ruang dimana seluruh masyarakat berkumpul untuk merayakan dengan penuh kepedulian sesama. Ibadah kurban tidak lagi hanya menjadi ritual keagamaan tahunan, tetapi menjadi gerakan sosial yang penuh dengan kepedulian sesama.
Dosen Sosiologi UM, Abdul Latief Bustami menyoroti momen ini dengan melihat dampak sosial dan budaya yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Perintah berkurban telah tercantum pada ayat Al-Qur'an, yakni di surah Al-Kautsar yang memerintah untuk mendirikan salat dan berkurban. Sehingga, ibadah kurban adalah bentuk ketaatan spiritual sebagai bentuk rasa syukur atas segala kenikmatan dalam hidup.
Baca Juga:
Solidaritas Tanpa Batas! IMPALA UB Gelar UB Loop Run 50K, Alumni Turun GunungKurban tidak hanya sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Tuhan saja, melainkan manfaat nyata yang diberikan juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Tentunya, hal ini menjadi sorotan yang dapat dilihat dadi sisi sosial budaya.
“Kurban menjadikan agama yang bersifat langit hadir di bumi dan dapat dinikmati masyarakat secara konkret. Jadi, ajaran agama tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujar Abdul Latief.
Kurban juga membentuk rantai sosial dan ekonomi yang saling terhubung. Dampak dari ibadah berkurban tak hanya berhenti pada prosesi penyembelihan hewan, tetapi juga melibatkan banyak pihak, mulai dari peternak, pedagang, kesehatan hewan, distribusi panitia, hingga para penerima manfaat.
Dengan adanya momentum Iduladha, kebutuhan konsumsi protein hewani bagi masyarakat juga akan terpenuhi secara rata. Tentunya ini menjadi bentuk dimana masyarakat yang kurang mampu untuk membeli daging, bisa ikut menikmati ketika momen ini.
Baca Juga:
Gerbong Mutasi Polresta Malang Kota, Tiga Pejabat Utama Resmi BergantiFakta ini menjadi penting karena semua kelompok sosial bisa mendapatkan kesempatan untuk menikmati daging, yang mungkin tidak semua dapat membelinya pada kehidupan sehari-hari.
Hal ini menjadi bentuk kepedulian sosial yang memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi semua kalangan masyarakat. Di titik ini kurban memperlihatkan wajah agama yang humanis dan membumi.
Abdul Latief juga menyinggung penelitian antropologi Roy Rappaport pada buku Pig for The Ancestors yang menjelaskan pada praktik penyembelihan hewan dalam masyarakat tradisional.
Pada buku tersebut disebutkan bahwa kurban dalam Islam telah lebih dulu menghadirkan sistem sosial yang bukan hanya menjaga keseimbangan masyarakat, tetapi juga memperkuat kesejahteraan kolektif.
Lebih dalam lagi, kurban bisa menghilangkan sekat sosial tanpa memandang strata pendidikan, status ekonomi, hingga pekerjaan. Ketika momen Iduladha, semua masyarakat bekerja sama tanpa memandang latar belakang.
Semua masyarakat turut berpartisipasi dalam semua prosesi perayaan Hari Raya Iduladha, mulai dari penyembelihan, pengemasan, hingga distribusi daging kurban.
“Dengan adanya kurban, orang tidak lagi mempertimbangkan status sosial, melainkan bersatu sebagai warga. Semua terlibat bersama dalam proses penyembelihan hingga distribusi daging sehingga tercipta solidaritas sosial di tengah masyarakat,” ucap akademisi sosiologi UM tersebut.
Perayaan Iduladha, tidak hanya memperkuat solidaritas antar warga, tetapi juga memberikan dampak langsung pada perputaran ekonomi rakyat.
Momen ini tentunya menghidupkan sektor peternakan, perdagangan hewan, distribusi logistik, hingga industri kreatif dari bahan kulit hewan untuk menciptakan kerajinan atau kesenian tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa kurban memiliki manfaat dan efek berantai yang cukup kuat pada ekonomi masyarakat lokal.
Tak hanya itu, keikutsertaan generasi muda dalam berkurban juga menjadi fenomena yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Di tengah era kemajuan teknologi digital dan gaya hidup instan, partisipasi anak muda menjadi hal yang penting dalam meningkatkan rasa kepedulian sosial dan penguatan identitas nilai kemanusiaan.
“Iduladha bukan berbagi kemiskinan, tetapi berbagi kebahagiaan. Melalui kurban, masyarakat dapat merasakan kebersamaan, pemerataan kenikmatan, hingga tumbuhnya kepedulian sosial di tengah kehidupan bersama,” tuturnya.
Oleh karena itu, Iduladha bukan hanya dipahami sebagai agenda tahunan, tetapi juga menjadi instrumen sosial yang bisa memperkuat gotong royong, membangun empati, dan menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat modern yang kian kompetitif.
Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin 1 (No Proverty), poin 2 (Hero Hunger), poin 3 (Good Health and Well-being), serta poin 10 (Reduced Inequalities).
Dalam momen Iduladha ini, distribusi daging kurban menjadi bentuk nyata pada pengurangan kesenjangan sosial sekaligus penguatan solidaritas masyarakat berbasis nilai kemanusiaan.
Hal ini menjadi penting untuk meningkatkan kepedulian sosial di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kepentingan pribadi. Kurban juga mrnjadi momen kebahagiaan yang tidak lahir dari menumpuk kepemilikan, namun keikhlasan berbagai dan ruang untuk kebersamaan yang hangat.(*)