KETIK, BONDOWOSO – Semangat menjaga warisan leluhur kembali menggema di Kabupaten Bondowoso melalui penyelenggaraan Festival Jejak Purba Bondowoso bertema “Merawat Warisan dan Menghidupkan Budaya” yang berlangsung di Museum Terbuka Megalitik Bondowoso, Jumat, 19 Juni 2026.
Festival yang menghadirkan parade budaya dan beragam pertunjukan seni tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus upaya nyata dalam memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Bondowoso kepada masyarakat luas.
Mewakili Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bondowoso, Nunung Setianingsih menegaskan bahwa Bondowoso memiliki kekayaan yang jauh melampaui keindahan alamnya.
Daerah ini menyimpan jejak peradaban masa lampau yang bernilai tinggi, mulai dari situs-situs megalitik, tradisi leluhur, hingga ragam kesenian rakyat yang menjadi identitas masyarakat Bondowoso.
Menurut Nunung, warisan budaya tidak boleh dipandang sekadar sebagai peninggalan sejarah yang tersimpan di masa lalu. Lebih dari itu, budaya merupakan sumber inspirasi yang mampu memperkuat karakter masyarakat sekaligus menjadi fondasi dalam membangun masa depan daerah.
Baca Juga:
Pemkab Bondowoso Dorong Pembaruan Olahraga Lewat Musorkab KONI 2025–2029“Melalui seni dan tradisi, kita dapat memperkokoh jati diri daerah, menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap budayanya, serta mempererat persatuan di tengah keberagaman masyarakat,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para pelaku seni, komunitas budaya, akademisi, dan masyarakat yang selama ini konsisten menjaga keberlangsungan warisan budaya Bondowoso. Menurutnya, dedikasi berbagai pihak tersebut menjadi bukti bahwa semangat melestarikan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
Nunung menekankan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kerja bersama. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, maupun media yang memiliki peran penting dalam memperkuat upaya pelestarian budaya.
“Kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci agar kekayaan budaya Bondowoso tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Selain menjaga keberadaan situs sejarah dan tradisi yang telah diwariskan para leluhur, pelestarian budaya juga harus diarahkan sebagai sarana edukasi, penguatan identitas daerah, serta pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Nunung juga mengajak generasi muda untuk lebih aktif terlibat dalam upaya pelestarian budaya melalui berbagai inovasi kreatif.
Pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi langkah strategis untuk mendokumentasikan, mengembangkan, sekaligus mempromosikan kekayaan budaya Bondowoso kepada khalayak yang lebih luas.
“Bondowoso harus terus berkembang menjadi daerah yang maju tanpa meninggalkan akar sejarah dan identitas budayanya. Warisan budaya yang kita miliki harus dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bondowoso, Gede Budiawan, S.Sos., M.Si., mengatakan Festival Jejak Purba Bondowoso merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mengangkat potensi sejarah dan budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah.
Menurutnya, keberadaan situs-situs megalitik yang tersebar di berbagai wilayah Bondowoso merupakan aset budaya yang memiliki nilai penting bagi sejarah peradaban Indonesia. Karena itu, pelestarian dan pemanfaatannya perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan edukatif dan kreatif.
“Festival Jejak Purba ini menjadi sarana untuk mengenalkan kekayaan warisan budaya Bondowoso kepada generasi muda sekaligus memperkuat posisi Bondowoso sebagai Kabupaten Republik Kopi yang juga memiliki kekayaan situs megalitik kelas dunia. Kami ingin masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan merasa memiliki warisan budaya yang ada di daerahnya,” ujar Gede.
Ia menambahkan, pelestarian budaya juga memiliki nilai strategis dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata. Pengelolaan situs sejarah yang baik, dipadukan dengan berbagai kegiatan budaya, dapat menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dengan melibatkan lebih banyak komunitas, pelajar, akademisi, serta pelaku ekonomi kreatif. Semakin luas keterlibatan masyarakat, semakin kuat pula upaya menjaga warisan budaya sekaligus menjadikannya sebagai sumber kesejahteraan bagi masyarakat Bondowoso,” pungkasnya.
Festival Jejak Purba Bondowoso tidak hanya menjadi perayaan budaya semata, tetapi juga momentum untuk meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga jejak peradaban masa lalu.
Melalui semangat kolaborasi dan pelestarian, Bondowoso terus memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah dengan kekayaan situs megalitik terpenting di Indonesia.(*)