Sejak kali pertama Piala AFF (dulu bernama Piala Tiger) digelar di Singapura tahun 1996, Indonesia belum pernah mencicipi gelar juara. Capaian terbaiknya adalah menjadi runner up. Pelatih datang silih berganti, apakah itu pelatih lokal ataupun pelatih manca negara. Hasilnya tetap saja, gagal membawa pulang tropy juara.
Tak hanya pelatih yang dirombak, PSSI pun menaturalisasi beberapa pemain keturunan untuk menjadi tulang punggung Timnas, tapi belum juga mampu mengobati dahaga gelar Juara Piala AFF. Pun demikian juga, Indonesia sering dipercaya menjadi tuan rumah, hasilnya sama saja.
Kegagalan demi kegagalan tersebut tentu menjadi sebuah tamparan bagi Indonesia, terutama para pendukung dan pecinta sepak bola di tanah air. Tentu ini preseden buruk, meskipun Piala AFF tidak termasuk dalam kalender FIFA. Tapi ini persoalan harga diri Indonesia di kawasan Asean. Apalagi seteru abadi sekaligus rival terberat Vietnam, sudah mengoleksi lebih dari satu tropy.
Kini Indonesia berharap pada juru taktik anyar John Herdman, yang digadang-gadang bisa membawa pulang tropy untuk kali pertama. Materi pemain yang bisa dibilang cukup mentereng dengan kehadiran beberapa pemain keturunan tentu akan menjadi alasan kuat pecinta sepak bola tanah air menuntut Herdman merealisasi Indonesia menjadi juara.
Memang harus diakui, Indonesia tidak tampil dengan skuad terbaiknya, karena beberapa pemain keturunan tidak bisa tampil. Sebut saja Jay Idzes, Calvin Verdong, Kevin Dick, Oley Romeny, dan Pelupessy. Namun, skuad yang ada saat ini lebih dari cukup jika hanya bersaing di level Asean. Apalagi Indonesia bertindak sebagai tuan rumah saat menghadapi Vietnam.
Baca Juga:
Kopdes Merah Putih Harus Menjadi Solusi, Bukan Sekadar Sentralisasi BantuanTinggal bagaimana Herdman bisa meracik dan mengolabirasi antara pemain lokal dan keturunan menjadi kekuatan besar. Ada beberapa pemain keturunan yang sekarang merumput di liga domestik. Ini akan menjadi keuntungan Herdman untuk memilih beberapa pemain tersebut. Ada Tom Haye, Ivan Jenner, Sandy Walsh, serta pemain lainnya.
Tentu kita tidak setuju jika kegagalan Indonesia meraih gelar juara Piala AFF adalah sebuah kutukan. Dengan asumsi negara sekelas Singapura saja mampu meraih gelar. Kini tinggal bagaimana para elit menyatukan visi untuk menjadikan lambang supermasi terbesar di Asean tersebut menjadi tujuan penting demi harkat dan martabat Indonesia.
Kita juga tidak ingin Skuad Garuda hanya dinobatkan sebagai finalis terbanyak. Tercatat enak kali masuk final edisi tahun 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Celakanya, dari sekian capaian masuk final ada beberapa edisi Indonesia bertindak sebagai tuan rumah.
Herdman memang memiliki tanggungjawab berat, karena Piala AFF salah satu agenda yang sangat mungkin akan menjadi ruang evaluasi kerja samanya bersama PSSI. Bisa saja jika tampil mengecewakan PSSI akan memutus kontraknya. Misal Indonesia gugur di fase grup. Shin Tae-yong didepak dari kursi kepelatihan Timnas Indonesia, salah satunya gagal di Piala AFF (gugur di fase grup).
Baca Juga:
Menggugat Logika Perda Desa Trenggalek: Kesempatan yang Hilang untuk Menaikkan Standar PemimpinTapi jika melihat jejak rekam Herdman selama menangani Timnas, merealisasi juara Piala AFF peluangnya sangat terbuka lebar. Sebut saja saat FIFA Matchday. Pasukan Garuda sukses meraih dua kemenangan melawan Oman dan Mozambik. Termasuk menjadi runner up FIFA Series setelah kalah tipis 0-1 dari Bulgaria.
Secara peringkat FIFA, Indonesia masih dibawah Thailand dan Vietnam, namun sepak bola tidak selalu bisa dihitung secara matematis. Filosofi bola itu bundar pun bisa menjadi salah satu faktor penting. Pada turnamen dua tahunan ini, Indonesia akan bersaing dengan, Vietnam, Kamboja, Singapura, dan Timor Leste. Indonesia akan menjadi tuan rumah dua kali, lawan Vietnam dan Kamboja. Kemudian, Risky Ridho dan koleganya juga diunggulkan lolos fase grup bersama Vietnam, semoga. (*)
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)