Momentum Indonesia meraih trofi piala di kawasan Asean kembali terbuka. Setelah babak belur di Piala AFF, FIFA secara resmi menunjuk Indonesia menjadi venue tuan rumah  FIFA ASEAN Cup 2026 untuk Primier Division (Divisi 1).

Turnamen tersebut akan berlangsung di Jakarta dan Jawa Barat, 24 September hingga 4 Oktober 2026. Kemungkinan besar Indonesia akan menurunkan semua pemain diasporanya yang merumput di liga Eropa.

Indonesia sendiri akan tergabung di grup A bersama India, Malaysia, dan Singapura.

Sedangkan grup B akan dihuni oleh Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Filipina.

Jika melihat pembagian grup tersebut, peluang Indonesia menjadi juara grup cukup terbuka lebar. Mungkin hanya Malaysia yang akan jadi rival terberat.

Baca Juga:
Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Jay Idzes wajib menjadi juara grup, karena format yang digunakan partai final akan ditentukan oleh masing-masing juara grup. Tidak ada istilah babak semi final.

Terlepas siapa yang akan menangani Timnas Indonesia pada FIFA ASEAN CUP tersebut, dengan skuad super mewah dibanding peserta lain, tidak ada alasan Indonesia tidak juara.

Secara matematis cukuplah rasional. Harapan serta kepercayaan publik akan kualitas pemain diaspora akan tersaji di turnamen tersebut.

Jika saja Indonesia gagal juara tentu akan menjadi alarm bahaya bagi para pemain diaspora. Pendeknya, program naturalisasi pemain keturunan akan terus disoal oleh publik pecinta sepak bola di tanah air.

Baca Juga:
‎AI dan Masa Depan Jurnalisme, Ketika Mesin Menggantikan Manusia ‎

Pada FIFA ASEAN Cup ini, saatnya PSSI bisa menjawab keraguan publik akan prestasi sepak bola Indonesia. Program naturalisasi yang salah satu tujuannya adalah untuk mengangkat prestasi sepak bola Indonesia harus bisa diimplemensin pada turnamen kalender FIFA.

Tak hanya mengejar peringkat, tapi mempersembahkan trofi piala jauh lebih sempurna. Termasuk ajang pembuktian para pemain diasopora yang kemungkinan akan mendominasi skuad Timnas.

Kehadiran, Jay Idzes, Calvin Verdonk, Oley Romeny, Kevin Diks, Joy Palupesi, Nathan Joen, Justin Hubner dan Marten Paes harus bisa memberi jawaban akan luka mendalam Indonesia di Piala AFF.

Dengan asumsi skuad mewah Rp163,82 miliar gugur di fase grup. Termasuk bisa membayar lunas atas kekalahan dari Singapura.

Mungkin yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana para pemain diaspora tidak meremehkan lawan, karena Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia juga memiliki beberapa pemain naturalisasi.

Kita harus belajar atas kegagalan di Piala AFF, di mana salah satunya adalah kesan meremehkan lawan dan akhirnya jadi bumerang. Pun demikian, jika saja PSSI masih mempercayai John Herdman sebagai pelatih, ego dan taktiknya harus diperbaiki.Termasuk taktik alternatif dengan lawan yang berbeda.

Market Velue Indonesia di FIFA ASEAN Cup terlihat mencolok dibanding tim lain. Pendeknya, mempersembahkan trofi piala bukan perkara sulit. Paling tidak bisa menjadi kado HUT RI ke-81. Apalagi Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah.

Tentu suporter akan membludak di setiap Indonesia main.Tentu ini yang harus dipahami oleh skuad Garuda. Mungkin publik masih bisa memaafkan kegagalan di Piala AFF yang bisa dibilang turun dengan lapis dua, tapi kali ini kemungkinan turun full team sangat terbuka lebar.Tak terkecuali menjadi juara.

Hitungan-hitungan di atas kertas untuk melewati babak fase grup tergolong mudah. Malaysia, India, dan Singapura masih kalah mentereng kualitas materi pemainnya. Mungkin yang akan menjadi lawan sepadan bisa datang dari Vietnam dan Thailand yang akan saling bunuh di fase grup B. Jika harus bertemu Vietnam dan Thailand, Indonesia kalah peringkat FIFA.

Jay dan koleganya sudah punya pengalaman mengalahkan Vietnam di kandangnya, namun belum pernah bertemu Thailand di pertandingan kalender FIFA. Sangat mungkin Tim Gajah Perang Thailand akan menjadi jalan terjal memburu trofi tersebut. Karena, pada Piala AFF tidak turun full team dan lebih fokus pada FIFA ASEAN Cup.

Tak kalah penting adalah bagaimana persiapan para pemain diaspora yang kemungkinan terkuras tenaganya saat membela klub-klub di liga Eropa. Sehingga, kebugaran para pemain juga harus menjadi atensi.

Tidak ada alasan pemain kecapekan akibat padatnya liga Eropa atau alasan lain. PSSI harus segera memastikan kerangka tim yang akan dipakai termasuk kesiapan para pemain memperkuat Timnas. Publik sepak bola di tanah air sangat rindu frofi piala, semoga.. (*)

*) Agus Riyanto adalah Kabiro Ketik.com di Trenggalek.