KETIK, MALANG – Sebanyak 760 mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya (UB) diberangkatkan untuk melaksanakan program Mahasiswa Membangun Desa (MMD). Mereka mengemban misi untuk mengharmonisasikan perkembangan teknologi informasi (TI) di Kabupaten Blitar.

Dekan Filkom UB, Tri Astoto Kurniawan, menjelaskan bahwa para mahasiswa disebar di 7 kecamatan dan 57 desa untuk mengabdi kepada masyarakat. Mahasiswa diminta belajar dari kehidupan sosial sekaligus mengaplikasikan ilmu yang dimiliki guna membantu masyarakat.

"Tentu kami ingin mereka bisa belajar di kehidupan masyarakat desa, sambil mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan selama ini untuk bisa membantu masyarakat desa. Kami ingin memberikan dampak yang signifikan bagi pembangunan masyarakat desa, sekaligus membangun karakter," ujarnya, Sabtu 4 Juli 2026.

Nantinya, perkembangan TI akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, UMKM, hingga administrasi pemerintahan desa agar lebih efektif dan efisien. Terlebih, masyarakat desa juga berhak merasakan transformasi digital.

"Sesuai dengan background keilmuan kami di bidang IT, bagaimana transformasi digital itu tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kota saja, tapi juga masyarakat desa. Untuk transformasi digital mereka harus tahu permasalahan di desa seperti apa. Sehingga tidak serta-merta membawa solusi tanpa tahu masalah riilnya," lanjutnya. 

Baca Juga:
Dari Barista hingga Gizi Keliling, FBiPK UB Luncurkan Program Pemberdayaan Berbasis Kampung Lingkar Kampus

Mahasiswa telah diminta untuk mengidentifikasi masalah di lapangan. Identifikasi tersebut bertujuan menghasilkan solusi berbasis TI yang sesuai dengan kompetensi masing-masing.

"Outputnya macam-macam, bisa dalam bentuk teknologi seperti aplikasi di pemerintahan desa. Atau website untuk membantu UMKM dalam melakukan pemasaran digital. Sekaligus beberapa hal lain, yang disesuaikan dengan kebutuhan desa," sebutnya 

Ketua Pelaksana MMD Filkom UB, Hariz Farisi, menjelaskan bahwa seluruh mahasiswa telah terdaftar dalam perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Mahasiswa yang mengalami kecelakaan akan mendapatkan jaminan biaya pengobatan dan penyembuhan dengan cakupan hingga 100 persen.

"Untuk setiap mahasiswa itu kami cover selama 2 bulan. Preminya kurang lebih Rp8.000 per orang per orang per bulan," jelasnya. 

Baca Juga:
Empat Spesies Baru Kumbang Ditemukan di UB Forest, Pengelola Perkuat Fasilitas Riset dan Biodiversitas

BPJS Ketenagakerjaan juga diberikan kepada satu mahasiswa asing asal Madagaskar. Meskipun saat ini baru mencakup satu bulan, masa perlindungan dapat diperpanjang setelah kegiatan berakhir untuk mengakomodasi aktivitas lanjutan yang berkaitan dengan pengabdian.

"Kalau setelah selesai ada riwa-riwi ke sana, itu tetap dicover. Setelah selesai kegiatan di sana kan masih ada misalnya perlu persetujuan dari pemerintahan desa, atau bahkan undangan untuk acara tertentu di sana, itu kita masih cover selama 1 bulan setelahnya. Jadi total 2 bulan," pungkasnya. (*)