KETIK, MALANG – Mahakarya unik nan menarik disuguhkan oleh 22 seniman lintas daerah di Art Meru, Kota Malang. Melalui pameran bertajuk Mukadimah, para seniman menyambut pengunjung dengan ruang-ruang kontemplasi yang lahir dari pengalaman pribadi, kritik sosial, hingga refleksi atas perubahan zaman.
Ada yang mengisahkan duka kehilangan sang ibu, kritik atas rapuhnya kondisi ekologis wilayah perkotaan, satire terhadap pemerintah, hingga romansa antarmanusia. Pameran ini tak hanya menyuguhkan karya dua dimensi maupun tiga dimensi, pengunjung juga diajak menikmati instalasi interaktif, audio kinetik, hingga pendekatan ruang digital.
Wilujeng Dyah Putri Anggraeni, Gallery Sitter, menjelaskan pameran tersebut telah dibuka sejak 26 Juni hingga 26 Agustus 2026. Seniman yang terlibat tak hanya berasal dari Kota Malang dan Kota Batu, tetapi juga dari Pasuruan dan Surabaya.
"Mukadimah itu kan artinya pembukaan, perawalan. Art Meru baru dibuka Jumat minggu lalu. Kebanyakan seniman mengangkat hal-hal yang paling dekat dengan dirinya, kontemplasi dirinya," ujarnya, Sabtu, 4 Juli 2026.
Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari seniman Victor Syahrul Akbar melalui karyanya berjudul Rough Reflection dan A Little Green Reflection. Ia menggunakan daun pisang kering atau klaras untuk menggambarkan perasaannya terhadap ibu dan neneknya.
Baca Juga:
Inflasi Kota Malang Juni 2026 Capai 0,34 Persen, Harga BBM Jadi Pemicu"Menceritakan bagaimana dia merawat ibu dan neneknya. Kan ibunya baru saja meninggal, jadi dia menceritakan kerapuhannya. Dia mencoba merawat si klaras itu menjadi sebuah karya untuk mengabadikan kenangan itu," jelas Ajeng.
Begitu pula karya nyentrik dan menarik milik Purnomo Sigit berjudul Untukmu Ted! yang mengangkat pengamatan terhadap kekuasaan yang bekerja melalui kedekatan. Muncul sebuah nama "Teddy" dalam lukisan tersebut yang tidak diposisikan sebagai representasi personal, melainkan sebagai tanda dari fungsi dalam kekuasaan, mulai dari fungsi mediasi, seleksi, hingga kedekatan.
"Karya ini tidak dimaksudkan sebagai penilaian terhadap individu, melainkan refleksi atas kondisi yang lebih luas: bahwa kekuasaan modern sering kali tidak lagi hadir sebagai pusat tunggal yang terlihat, melainkan sebagai jaringan yang berlapis," tulis Purnomo Sigit dalam deskripsi karyanya.
Baca Juga:
Rayakan HUT ke-19, Rektor Ma Chung Tekankan Visi Menjadi Teladan MasyarakatKemudian, karya unik dari Muzeian yang berjudul Amprrrong - 1.618 033 988 746.... (Bytebeat Remix) tak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga menyertakan metode manipulasi rekaman audio menuju sintesis suara deterministik berbasis kode.
"Ini termasuk karya interaktif. Senimannya sendiri menamai metodenya manipulasi rekaman audio. Jadi ini musik noise, cara menikmatinya musiknya bisa diganti-ganti. Musiknya yang membuat menarik adalah dibuat dari deret Fibonacci dan deret Lucas atau matematika. Sederhananya, karya ini adalah matematika yang dijadikan musik," jelas Ajeng.
Karya unik lainnya datang dari Gatot Pujiarto melalui karya Peristiwa di Malam Pesta. Ia memanfaatkan kain perca dan benang yang disusun di atas kanvas seluas 200 cm x 400 cm. Karya tersebut merefleksikan luka emosional mendalam tentang rasa diasingkan, kerentanan, tekanan, ejekan, hingga kekerasan verbal.
Begitu pula garapan seniman bernama Toyol Dolanan Nuklir yang menghadirkan karya Sateriyo Wergol. Melalui deskripsi karya tersebut, sang seniman ingin menceritakan bahwa Sateriyo Wergol merupakan instrumen rekayasa dari ikan layar dan berang-berang. Di sana, pengunjung dapat mencoba membunyikan alat musik yang dipamerkan.
Keunikan karya-karya yang dipamerkan membuat pengunjung terus berdatangan. Pada awal pembukaan, jumlah pengunjung yang hadir mencapai 300 hingga 400 orang.
"Antusiasmenya menarik ya. Dari satu minggu ini enggak ada sepinya. Biasanya kan pagi Senin, Selasa gitu sepi ya, tapi ini enggak ada sepinya. Sekarang dalam sehari bisa sampai 100-150 pengunjung. Apalagi waktu awal pembukaan itu 400 pengunjung ada," pungkasnya.
Adapun seniman yang terlibat dalam pameran tersebut ialah Antoe Budiono, Bagus Priyo, Bambang BP, Gatot Kumaidi, Gatot Pujiarto, Heri Catur Prasetya, Isa Ansory, Kelompok LIDOS, Lutfi Ardiansyah, Toyol Dolanan Nuklir, Muzeian, Ojite Budi Sutarno, Osyadha Ramadhana, Patricia Geraldine Thebez, Purnomo Sigit, Rizky Alison, Romy Setyawan, Sinestika, Suwandi Waeng, Victor Syahrul Akbar, Wibi Wardhani, dan Yawara Oki Rahmawati.