KETIK, MALANG – Hingga Mei 2026, terjadi penambahan 97 kasus baru HIV di Kota Malang. Dari total tersebut, 35 persen di antaranya disebabkan oleh laki-laki seks laki-laki (LSL) atau seks sesama jenis. 

Kondisi tersebut dijelaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Husnul Muarif. Pada tahun 2025 lalu, Dinkes Kota Malang mencatat terdapat 350 kasus HIV yang terjadi. 

"Sama seperti tahun kemarin, LSL masih mendominasi karena 35 persen dari 97 kasus baru itu LSL," ujarnya, Senin 6 Juli 2026.

Dalam melakukan pendataan, Dinkes Kota Malang memiliki beberapa populasi kunci. Selain LSL, terdapat ibu hamil, wanita pekerja seks (WPS), waria, hingga akibat penggunaan alat suntik secara bergantian. 

"Dari total pertambahan kasus di 2026, perempuan ada 22 persen, dan laki-laki 78 persen. Memang di Kota Malang ini sebagian besar adalah populasi kuncinya di LSL," katanya. 

Baca Juga:
Mengenal Bengkel Kanaka Buku di Malang, Menjaga Nyala Literasi Tetap Hidup di Era Disrupsi

Menurut Husnul, jumlah kasus HIV di Kota Malang masih berada di bawah Kota Surabaya. Namun upaya pencegahan dan juga memutuskan rantai persebaran HIV terus digencarkan. 

Ia juga menekankan bahwa Dinkes Kota Malang tidak sekadar melihat jumlah kasus. Salah satu yang menjadi titik perhatian ialah mencari sumber dari kasus tersebut. 

"Kita tidak melihat banyak sedikitnya kasus. Tapi kita melihat adanya kasus itu berarti ada sumber. Begitu ketemu sumbernya, ini kita sudah bisa memotong rantai penularan. Jadi prinsipnya bukan sedikit banyaknya, tetapi ada kasus maka harus kita cari sumbernya," ujarnya. 

Husnul menyebut terdapat 16 layanan kesehatan atau puskesmas, begitu pula rumah sakit di Kota Malang bertugas mendeteksi persebaran HIV. Puskesmas juga bertanggung jawab memberikan layanan pengobatan dan perawatan bagi penyintas HIV di Kota Malang. 

Baca Juga:
Wali Kota Malang Tegas! Wahyu Hidayat: LGBTQ Perlu Diperangi

"Nah, dari situ kita sudah punya 16 layanan kesehatan untuk mendeteksi adanya HIV. Layanan itu ada di puskesmas dan juga di rumah sakit. Kalau sudah terdeteksi, kita bisa memberikan layanan untuk pengobatan, kemudian juga perawatan," pungkasnya. (*)