KETIK, SLEMAN – Unta dikenal sebagai salah satu hewan yang memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup di lingkungan gurun yang panas dan kering. Hewan ini mampu menghadapi perubahan suhu ekstrem sekaligus menghemat cairan tubuh ketika sumber air sulit ditemukan.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny R Noor, menjelaskan bahwa kemampuan tersebut berasal dari mekanisme fisiologis khusus yang membantu unta menyesuaikan suhu tubuh dengan kondisi lingkungan.

Menurut Prof Ronny, suhu tubuh unta dapat berubah cukup besar sepanjang hari. Pada malam hari, suhu tubuhnya dapat berada di sekitar 34 derajat Celsius, sedangkan pada siang hari dapat meningkat hingga sekitar 41 derajat Celsius.

Kemampuan tersebut merupakan bagian dari mekanisme adaptasi unta terhadap lingkungan gurun. Dengan membiarkan suhu tubuh meningkat pada siang hari, unta dapat mengurangi kebutuhan untuk mengeluarkan panas melalui keringat sehingga kehilangan cairan dapat ditekan.

 

Baca Juga:
Suhu Gurun Tembus 55°C, Unta Mulai Tak Mampu Bertahan

Unta Hemat Air dengan Mengurangi Keringat

Salah satu keunggulan utama unta dalam menghadapi panas adalah kemampuannya menghemat air. Hewan ini tidak langsung meningkatkan produksi keringat ketika suhu lingkungan naik seperti yang terjadi pada banyak mamalia lainnya.

Mekanisme tersebut memungkinkan unta mempertahankan cairan tubuh lebih lama. Kemampuan ini sangat penting karena lingkungan gurun menyediakan air dalam jumlah terbatas dan tidak selalu memungkinkan hewan mendapatkan air setiap saat.

Namun, kemampuan beradaptasi tersebut bukan berarti unta kebal terhadap panas. Prof Ronny menjelaskan, ketika suhu lingkungan semakin tinggi, mekanisme pengaturan suhu tubuh unta mulai menghadapi tekanan.

Baca Juga:
Jangan Korbankan Petani dan Ekologi di Balik Rencana Industri Bioavtur Banyuasin

Pada suhu lingkungan yang melewati 45 derajat Celsius, kemampuan tersebut mulai kurang efektif. Unta kemudian perlu meningkatkan pengeluaran panas melalui keringat sehingga kehilangan cairan tubuh juga semakin besar.

 

Suhu di Atas 50°C Bisa Berbahaya

Kondisi menjadi jauh lebih berisiko ketika suhu lingkungan menembus 50 derajat Celsius. Pada situasi tersebut, kemampuan tubuh unta untuk mempertahankan suhu dalam batas aman dapat mengalami gangguan.

“Pada suhu ekstrem di atas 50°C, bahkan unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam jika tidak memiliki akses terhadap air atau tempat perlindungan. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan metabolisme, hingga kegagalan organ,” ujar Prof Ronny.

Hipertermia terjadi ketika suhu tubuh meningkat melebihi kemampuan tubuh untuk membuang panas. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, fungsi berbagai organ dapat terganggu dan pada tingkat yang parah dapat berujung pada kematian.

Kekurangan air juga memperbesar risiko tersebut. Ketika unta mengalami dehidrasi, tubuh semakin kesulitan melakukan proses pendinginan. Kondisi ini menciptakan tekanan berantai yang dapat memperburuk gangguan metabolisme dan fungsi organ.

 

Kemampuan Adaptasi Unta Memiliki Batas

Prof Ronny menilai kemampuan unta bertahan di gurun merupakan contoh penting bagaimana makhluk hidup beradaptasi terhadap lingkungan ekstrem. Namun, adaptasi biologis tetap memiliki batas ketika perubahan kondisi lingkungan berlangsung terlalu jauh.

Karena itu, keberadaan air dan tempat berlindung tetap menjadi faktor penting bagi keselamatan unta ketika menghadapi suhu yang sangat tinggi. Kemampuan alami untuk menghemat air tidak cukup apabila panas ekstrem berlangsung dalam waktu lama dan sumber air semakin sulit diperoleh.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ketangguhan unta tidak dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bertahan dalam suhu berapa pun. Ada ambang fisiologis yang menentukan kapan mekanisme adaptasi masih efektif dan kapan tubuh mulai mengalami tekanan panas.

Fenomena ini menjadi semakin penting ketika suhu ekstrem di wilayah gurun terus meningkat. Ketika suhu lingkungan bergerak mendekati atau melewati batas kemampuan fisiologis, hewan yang selama ini dikenal tahan panas pun membutuhkan akses terhadap air dan perlindungan untuk tetap bertahan.

Dengan demikian, kemampuan unta menghadapi panas bukan berarti hewan tersebut tidak terpengaruh oleh kenaikan suhu. Justru, mekanisme pengaturan suhu tubuh dan penghematan air menunjukkan betapa pentingnya adaptasi tersebut bagi kelangsungan hidupnya di gurun. (*)