KETIK, MALANG – Berada di sudut Jalan Abimanyu, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, terselip rumah produksi sepatu kulit kustom bernama Sello Shoe. Dengan mengandalkan detail presisi dan kualitas bahan premium, hasil produk sepatunya bahkan diminati oleh konsumen mancanegara. 

Pemilik Sello Shoe, Tius Darmawanto, mengatakan, seluruh produk sepatunya dikerjakan sendiri secara handmade. Sehingga, kualitas dari tiap produknya selalu terjaga dengan baik.

"Semua jenis model bisa dibuat, tetapi memang saya spesialisnya sepatu safety, sepatu gunung, maupun sepatu booth. Untuk bahannya terbuat dari kulit binatang asli mulai sapi, domba hingga kambing," ujarnya kepada Ketik.com, Rabu, 3 Juni 2026.

Dirinya menjelaskan, karena kustom, maka ukuran dan bentuknya disesuaikan dengan kaki pengguna. Namun, ia juga menyediakan sepatu yang sudah jadi dan siap dikenakan. 

"Untuk yang sudah jadi, maksimal paling besar ukuran 45. Lebih dari itu, sudah termasuk kustom dan kami mampu membuat hingga ukuran 50," tambahnya.

Baca Juga:
Sengketa Tanah Mojolangu, DPRD Kota Malang Minta Ahli Waris Verifikasi Ulang Dokumen

Pemilik Sello Shoe, Tius Darmawanto saat mengelem dan menyemir sepatu kulit kustom buatannya, Rabu, 3 Juni 2026 (Foto : Kukuh / Ketik.com)

Uniknya, meski terbuat dari kulit, namun sepatu bikinannya dibanderol dengan harga terjangkau. Rentang harganya bervariasi mulai dari Rp250 ribu hingga Rp1 juta tergantung jenis dan kesulitan pembuatannya. 

"Untuk jenis pantofel harganya Rp250 ribu, tetapi yang model sepatu safety dan sepatu gunung mulai dari Rp350 ribu dan yang jenis booth seperti sepatu berkuda harganya Rp1 jutaan. Kalau yang kustom ini, biasanya memakan waktu pembuatan seminggu hingga paling lama 10 hari," bebernya.

Dirinya mengungkapkan, produk sepatunya diminati oleh konsumen baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Rata-rata, pembeli melihat dari media sosial dan langsung datang ke tempatnya untuk memesan. 

Baca Juga:
Terkatung-katung 53 Tahun, Ahli Waris Pemilik Lahan Fasum Mengadu ke DPRD Kota Malang

"Beberapa bulan lalu, saya kedatangan konsumen dari Uzbekistan dan langsung pesan sepatu. Kalau dari dalam negeri, pembeli kebanyakan berasal dari Batam dan Kalimantan. Karena dikerjakan sendiri, maksimal hanya mampu memproduksi antara 20 hingga 30 sepatu per bulannya," tandasnya. (*)