KETIK, SURABAYA – Pengamat Politik asal Universitas Trunojoyo Madura, Surokim As, menilai ucapan belasungkawa yang disampaikan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei beserta ungkapan empati kepada rakyat Iran merupakan pernyataan yang memiliki dimensi sejarah, diplomasi dan kemanusiaan kuat.
“Ucapan belasungkawa Ibu Megawati menunjukkan pemahaman sejarah mendalam serta penghargaan terhadap historical capital yang membentuk hubungan Indonesia dan Iran selama puluhan tahun,” ujarnya di Surabaya pada Kamis, 9 Juli 2026.
Menurut dia, pernyataan tersebut tidak dapat dibaca semata sebagai respons terhadap sebuah peristiwa kontemporer, melainkan sebagai refleksi dari memori kolektif hubungan Indonesia dan Iran yang telah terbangun selama beberapa dekade.
“Sikap tersebut juga merepresentasikan mata batin sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak pernah memandang hubungan antarbangsa semata dari dinamika politik sesaat, tetapi juga dari ikatan sejarah, penghormatan diplomatik dan nilai-nilai yang telah dibangun lintas generasi,” ujar Surokim.
Ia menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Iran memiliki akar historis yang panjang. Kedua negara sama-sama lahir dari pengalaman kolonialisme dan sejak awal membangun kedekatan melalui semangat anti-kolonialisme, penghormatan terhadap kedaulatan nasional, serta perjuangan menciptakan tata dunia yang lebih adil.
Baca Juga:
Kinerja Ekonomi Jatim Lampaui Pertumbuhan Nasional! Tunjukkan Tren Positif, Triwulan I/2026 Tumbuh 5,96 PersenNilai-nilai tersebut, lanjut dia, kemudian memperoleh fondasi politik yang semakin kuat melalui semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan berkembang dalam kerja sama negara-negara berkembang melalui Gerakan Non-Blok.
Menurutnya, sejak era Presiden Soekarno, politik luar negeri Indonesia dibangun di atas prinsip bebas aktif yang menempatkan solidaritas antarsesama bangsa berkembang sebagai salah satu fondasi penting diplomasi Indonesia. Karena itu, hubungan Indonesia dengan Iran tidak pernah semata ditentukan oleh dinamika politik jangka pendek, melainkan juga oleh modal sejarah (historical capital) yang telah terbentuk sejak masa awal kemerdekaan.
“Dalam kajian hubungan internasional dikenal konsep historical capital, yaitu akumulasi kepercayaan, pengalaman kerja sama, dan memori sejarah yang menjadi modal strategis dalam hubungan antarnegara. Modal semacam ini tidak dibangun dalam hitungan bulan atau tahun, melainkan melalui proses panjang lintas generasi. Pernyataan Ibu Megawati memperlihatkan kesadaran terhadap dimensi tersebut,” jelasnya.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Alumni tersebut juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tradisi diplomasi yang menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prinsip utama.
Baca Juga:
Misi Dagang Rutin Dilakukan Pemprov Jatim! Ternyata ini Alasan Gubernur Khofifah dan Besarnya Manfaat Perkuat Fondasi EkonomiOleh karena itu, penyampaian belasungkawa kepada pemimpin negara lain merupakan praktik diplomatik yang lazim sekaligus mencerminkan penghormatan terhadap rakyat negara yang sedang mengalami kehilangan.
“Belasungkawa tidak identik dengan persetujuan terhadap seluruh kebijakan politik suatu negara. Dalam tradisi diplomasi internasional, ungkapan duka merupakan ekspresi penghormatan terhadap kemanusiaan dan hubungan antarbangsa. Karena itu, respons Ibu Megawati justru memperlihatkan kedewasaan dalam membaca hubungan internasional secara lebih utuh,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa hubungan Indonesia dan Iran juga pernah mengalami berbagai momentum penting, termasuk kunjungan kenegaraan Megawati ke Teheran pada tahun 2004 dalam rangka menghadiri Konferensi D-8 yang sekaligus memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Dalam beberapa kesempatan, Megawati juga menegaskan kedekatan historis Indonesia dan Iran yang berakar pada semangat anti-kolonialisme dan perjuangan negara-negara berkembang.
Pada akhirnya, pernyataan tersebut mengingatkan agar tidak melupakan sejarah panjang hubungan Indonesia dan Iran yang telah terjalin sejak era Bung Karno.
Dalam konteks itu, kata dia, ungkapan belasungkawa Ibu Megawati mencerminkan konsistensi Indonesia untuk tetap berpijak pada prinsip kemanusiaan, solidaritas antarbangsa, persamaan derajat, penghormatan terhadap kedaulatan negara serta penolakan terhadap segala bentuk penjajahan, agresi militer dan dominasi kekuatan besar dalam tata dunia.
“Nilai-nilai inilah yang sejak lama menjadi salah satu identitas politik luar negeri Indonesia,” pungkas Surokim. (*)