KETIK, MALANG – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang mengungkapkan bahwa stok darah mencapai 4000 dalam sehari. Pendonor mayoritas kalangan anak muda, seperti mahasiswa.
Dalam menjalankan tugas kemanusiaan, PMI Kota Malang sampai saat ini terus mengupayakan untuk memenuhi permintaan darah di seluruh daerah Malang Raya. Dengan berbagai alat canggih, Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Malang melayani 71 rumah sakit di Malang Raya.
Tak hanya Malang Raya, Drs. Imam Buchori, M.Si., Ketua PMI Kota Malang mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini ia bersama tim juga melayani permintaan darah UDD PMI luar kota, seperti Banyuwangi, Ponorogo, Madiun, Sleman, hingga Makassar.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam sehari, UDD PMI Kota Malang membutuhkan 150 hingga 200 kantong darah. PMI Kota Malang juga telah resmi terverifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) langsung dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Imam menyampaikan bahwa dari 37 UDD PMI Jawa Timur, baru 4 yang telah mengantongi CPOB, yakni Surabaya, Sidoarjo, Lumajang, dan Kota Malang.
Baca Juga:
Muncul Spanduk Provokatif 'Usir Mahasiswa' Saat Aksi Damai Dukung MBG di Malang"Kebutuhan darah di Malang, utamanya Malang Raya yang 71 rumah sakit tadi, kita sekitar membutuhkan 150 sampai 200 kantong perharinya," ungkap Imam.
Tak hanya CPUB, UDD PMI Kota Malang juga telah tersertifikasi SK Plasma Korea. Sehingga, UDD PMI Kota Malang telah bisa mengirimkan plasma ke Korea. Imam menyampaikan bahwa telah dilakukan 20 pengiriman plasma ke Korea.
Imam menyampaikan bahwa CPOB merupakan program dari pemerintah, di mana plasma yang selama ini dibuang karena terlalu banyak dapat dikirim ke Korea. Dalam hal ini, UDD PMI Kota Malang telah berupaya untuk memberikan bantuan darah dengan menjaga kondisi darah agar tetap fresh.
Baca Juga:
Mahasiswa Universitas Negeri Malang Kembangkan AI Intervyou, Startup Teknologi yang Diakui DuniaUDD PMI Kota Malang berupaya untuk terus memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat dengan menggunakan alat-alat canggih yang harganya cukup tinggi.
Kepala UDD PMI Kota Malang, dr. Luluk Retro Wulan menyampaikan bahwa setelah darah diambil dari tubuh pendonor, darah tersebut akan dicek agar tidak mengandung 4 penyakit menular, yakni HIV, Sifilis, Hepatitis C dan Hepatitis B. Untuk melakukan pemeriksaan darah tersebut, UDD PMI Kota Malang membutuhkan biaya yang cukup tinggi.
"Tetapi kalau orang sakit, ada orang sakit yang membutuhkan darah. Mereka kan harus membayar per kantongnya Rp490 ribu. Jadi itu biaya pengganti pengelolaan darah, dari pengelolaan itu kan macam-macam," jelas dr. Luluk.
dr. Luluk juga mengungkapkan bahwa tingkat rasa kemanusiaan warga Malang memang cukup tinggi. Hingga saat ini, 70% pendonor datang langsung ke UDD PMI Kota Malang untuk mendonorkan darah.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini pendonor terbanyak dari kalangan anak muda, yakni mahasiswa.
"Sesuai dengan laporannya, itu umur 25 sampai 30 yang paling banyak. Itu sebenarnya memang secara kualitas manusia itu paling bagus. Matang kan tidak terlalu kecil, tetapi juga tidak terlalu lanjut dan itu paling bagus," jelas dr. Luluk.
"Berarti kan mahasiswa juga, pekerja-pekerja muda, tapi yang syukur itu adalah di kota Malang, keunikan dari donor darah itu adalah fanatisme," imbuhnya.
Tak hanya itu, gereja juga telah menjadi pihak yang rutin dalam menyelenggarakan donor darah setiap hari Minggu. Sementara itu, Imam menyampaikan bahwa bulan puasa Ramadhan menjadi waktu stok darah berkurang karena para mahasiswa kembali ke daerahnya masing-masing.
Imam mengatakan bahwa pada bulan puasa justru banyak yang membutuhkan darah. Sehingga, ia bersama tim bergerak cepat untuk bisa memenuhi kebutuhan darah.(*)