KETIK, TULUNGAGUNG – Dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat kembali menyelenggarakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Acara kebudayaan yang meriah ini dipusatkan di Lapangan Desa Pucung Lor, Kecamatan Ngantru, pada Sabtu malam 07 November 2026.
Ketua Panitia Hari Jadi ke-821 Kabupaten Tulungagung, Mulyanto, mengungkapkan bahwa hajatan budaya ini digelar bukan sekadar untuk tontonan, melainkan wujud nyata komitmen dalam melestarikan warisan leluhur.
Menurutnya, kesenian tradisional memiliki peran strategis sebagai sarana edukasi sekaligus rekreasi yang mampu membentuk karakter masyarakat berbudaya serta memperkuat partisipasi publik terhadap kebudayaan daerah.
"Kami berharap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tradisional ini terus hidup di tengah masyarakat. Semoga kegiatan ini mampu menanamkan semangat kebersamaan, memperkuat identitas diri, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan budaya lokal," ujar Mulyanto.
Baca Juga:
Ribuan Pesepeda Padati GOR Lembu Peteng, Plt Bupati Tulungagung Ungkap Hadiah Paling BerhargaAcara puncak ditandai dengan prosesi penyerahan dan pengangkatan gunungan oleh Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, didampingi oleh Ketua Panitia serta sang dalang kondang, Ki Dalang Minto Sudarsono (atau Ki Minto Darsono).
Dalam sambutannya, Bupati Ahmad Baharudin mengibaratkan filosofi pewayangan dengan kehidupan bermasyarakat.
Ia menyebut tokoh-tokoh pewayangan memiliki karakter dan bentuk yang beragam, namun jika ditata dan diselaraskan dengan irama gamelan, akan menjelma menjadi keindahan yang harmonis.
"Hal ini merefleksikan warga Tulungagung agar senantiasa bersatu, bekerja, dan berkarya di bidangnya masing-masing demi kemajuan daerah tercinta," pesan Baharudin.
Baca Juga:
Semarak Selingkar Wilis Bangkit, Penguatan Destinasi Wisata dan Rayakan Hari Jadi Tulungagung Ke-821Ia juga mengajak segenap warga untuk bergandengan tangan membangun Tulungagung secara fisik maupun mental, serta mengawal jalannya roda pemerintahan agar senantiasa tercipta suasana yang damai, aman, dan ayem tentrem.
"Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar untuk bersama-sama menjaga keamanan, kedamaian, dan semangat gotong royong," imbuhnya.
Pagelaran akbar ini semakin semarak dengan tampilnya Ki Dalang Minto Darsono yang membawakan lakon bertajuk "Pandowo Syukur".
Cerita ini mengangkat kisah tentang rasa syukur serta ujian besar yang harus dihadapi oleh para kesatria Pandawa usai sukses membuka Hutan Wanamarta dan mendirikan negara Amarta (Indraprastha) yang gemah ripah loh jinawi. (*)